Phenomenon

by - February 07, 2006

Beliau datang dengan mata yang menjelajah mengawasi orang-orang yang bernama mahasiswa. Ia bertanya, "Phenomenology?". Lalu ia duduk di sofa depan laboratorium.
Ia duduk. Ia menjelaskan tanpa mengenalkan dirinya. Buku-buku jemarinya mulai rapuh. Tangan kirinya bergetar, tapi itu bukan tremor. Rambutnya hitam keabu2an, perpaduan warna yang fantastis. Ia menjelaskan mengenai Kant dan perang dunia ke-2 (Kami merasa tidak mengerti mengapa ia menjelaskan PD II. Ternyata ia hanya ingin memberi tahu bahwa Kant meninggal sebelum perang meletus. Seperti rambutnya.. itu fantastis!). Menjelaskan tentang Husserl, lalu Brentano dan Husserl lagi. Padahal kami sudah menyiapkan space kosong untuk menulis tentang Brentano!
Gaya bicaranya lambat-lambat, seperti dosen filsafat umum lainnya. Ia terkadang menerawang untuk mengingat. Jika tidak ingat, ia akan membuka diktat kuliahnya yang menguning. Ketika menerawang, matahari yang menembus gorden laboratorium memantulkan map hijau ke matanya. Adalah pantulan yang sempurna.
Menguap, melihat jam lalu memperhatikan. Mulai terpikirkan untuk FKKB atau tidak. Saya menulis, teman disebelah saya chat dengan temannya dan teman dibelakang saya memainkan rambut saya.
Lab hangat
Suasana mendukung
Saya pun tidur

ZZZZzzzzz....

You May Also Like

2 comments

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.