Jam pasir

Hari ini lagi malas mikir.. mau kembali ke habitat yaitu bercerita, boleh?

Okay!
Jam pasir pun siap berlomba dengan dimensi waktu yang ada. Mereka saling berebut masuk pada tabung dibawahnya. Kasian ya mereka, hidup bolak-balik antar tabung dan diburu oleh waktu. Pasti menjemukan ya?
Kamu tahu waktu itu apa? Detik? Menit? Jam? Hari? Bulan? Tahun? Oh.. bukan. Itu bukan definisi dari waktu tetapi itu bagian dari waktu. Waktu itu adalah ruang yang tidak terlihat. Kamu tidak perlu menempelkan definisi saya dan membuatnya permanen di otak karena itu adalah jawaban yang tidak ilmiah.
Lihat keluar sana. Kasus formalin, SARS, majalah playboy.. sudah tidak menujukkan geramnya kan? Mereka itu termakan oleh waktu! Respon masyarakat pun termakan oleh waktu. Lihat!! Waktu itu begitu hebat kan? Ada habituasi disana. Sekali lagi, jangan menjadikannya permanen.
Kamu tahu.. waktu itu bisa jadi obat. Time will heal.. time will heal.. itulah slogan yang dikumandangkan orang-orang yang melarikan diri dari efek sampingnya cinta.. yaitu sakit. Kamu percaya? Jangan. Tidak ada yang menyuruh kamu percaya. Ini hanya asumsi palsu. Jangan pernah menjadikannya permanen.
Baik.. sekarang ada waktu, pasir dan cinta. Apa hubungannya? Sekali lagi.. katakan dengan keras, apa hubungannya? Nah.. tidak ada kan? Baiklah.. sembari kita menunggu 15 menit berakhir, mari kita cari korelasi yang belum terkuak.
Cinta.. itu tidak ada sambungannya dengan pasir. Yaa.. memang ada pepatah cinta itu seperti pasir yang ada di genggaman kamu. Semakin kamu menguatkannya maka pasir itu akan semakin berpencar. Eh, kayak gitu bukan sih pepatahnya? Maaf.. penulis bukan budak cinta seperti Bapak Khalil Gibran. Terdengar sinis ya? Tapi ini cuman pandangan subjektif saja.
Cinta dan waktu.. Sudah saya jelaskan tadi.
Lalu pasir dan waktu? Itu sudah sangat saya jelaskan pada awal tulisan. Kamu ingat? Tidak? Tidak?? Wah.. mungkin kamu kena anemia, oh bukan.. anamnesa. Bukan juga! Oh iya.. amnesia!
Balik lagi ke cerita sebelumnya. Jadi adakah hubungannya? Baiklah.. ambil saja kesimpulan. Ternyata kita tersesat dalam labirin penulis yang gawatnya tidak berujung. Ini tidak ada hubungannya dan waktu itu menyesatkan.

Comments

Vendy said…
kalau mau dikait-kaitkan, pasti ketemu koq :lol: lagipula, dualitas ada di dalam mata kita :lol:

btw, g ga pasang comment di akhir postingan g. makanya g pasang shoutbox :D
si mpu nyah said…
carikan donk keterkaitannya.. setelah mengalami inkubasi yang memang tidak menganalisis, penulis belum menemukan keterkaitannya.

tuh kan.. berarti bkn salah mata gue. ngga bisa comment juga doms? :D
Vendy said…
pasir tak ubahnya seperti serpihan-serpihan kecil cinta yang telah kekurangan pupuk, tidak dirawat, dan mati begitu saja. [dari sudut pandang gombalers setelah mengalami stagnansi atas detensi penghancur hati]

btw, tu comment g sengaja matiin, biar ga ada yang nyepam :D
Anonymous said…
This is very interesting site... »

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas