by - March 31, 2006


Pukul 01.23, Tamma masih terjaga. Setiap hari, waktu tidurnya hanya satu jam. Tamma insomnia. Entah apa yang menyebabkannya tetapi ia terlalu takut dengan diagnosa seorang psikolog. Ya.. terkadang memang seperti itu, Tamma terlalu takut menghadapi realita.
Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu menyalakan TV. Sialannya, hanya ada program iklan semacam TV Media. Iklannya berulang dan berulang. Iklannya berputar dan berputar. Iklannya seperti dua dimensi yang buruk namun terus berlanjut. Tamma tersedot kedalam pusaran iklan dan menjadi stagnan.
Tamma tidak memaknai, ia hanya melihat. Entah benar-benar melihat atau kosong. Ia ditemani dengan secangkir kopi yang sudah mendingin. Mungkin karena AC ruangan yang dipasangnya setiap malam. Tamma hanya terdiam, melakukan gerakan namun tidak berarti. Badannya sedikit membungkuk mungkin karena sudah tidak ada semangat lagi.
Lamunannya pada TV tersadarkan dengan getaran handphone yang ada di tempat tidurnya. Ia beranjak, mengambilnya, namun tidak mengangkatnya. Ia terlalu takut untuk mengangkatnya karena yang menelepon bukan seseorang yang menenangkan. Tetapi ini masalah pekerjaan yang dibencinya. Sama seperti iklan TV itu, ia tersedot kedalam pusaran pekerjaan dan menjadi stagnan.
Terkadang Tamma bukanlah Tamma. Tamma terkadang memalsukan identitas, Tamma terkadang mengganti no handphonenya dengan cepat dan Tamma terkadang menghilang. Mungkin Tamma betul-betul individu yang bebas dan tidak mengikat dirinya pada siapapun. Tidak ada yang tahu jalan pemikirannya, mungkin hanya ia dan Tuhan. Mungkin Tamma merasa bahwa sepi adalah sebuah konsekuesi.
Tamma pasti bertambah kuat. Dia tahu rasanya ditinggalkan, rasanya sepi, rasanya ditikam dari belakang, rasanya ditipu, rasanya meminta bantuan tapi tak seorang pun yang mampu.
Tapi kini Tamma hanya merasa bosan dengan pekat. Ia mengambil kotak obatnya dan menjejalkan tiga buah pil tidur lalu meminumnya agar ia bisa menghilang dari dunia ini selama 24 jam!
Selamat tidur, Tamma..

(Nama Tamma terinspirasi dari salah satu tokoh komik Monster yaitu dr. Tenma. Semoga endingnya baik)

You May Also Like

8 comments

  1. Anonymous8:39 PM

    Jelek ih critanya

    ReplyDelete
  2. Anonymous5:18 PM

    ndak apa2.. namanya juga belajar. makasii.. :)

    ReplyDelete
  3. menarik ... menarik.. tlisan intelek..kdang susah dipahami heheh

    demand-c.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. wah, keduluan.
    anyway, kali ini ceritanya ringan yah :D enak untuk dipahami :D

    PS : pernah baca Monster juga ?

    ReplyDelete
  5. iya neh.. vendy. keduluan yak.. biasanya paling pertama.
    heuehueh.. beginilah tulisan saya aselinya, bung. jangankan orang laen.. gue aja terkadang yang nulisnya suka ngga ngerti apa yang gue tulisin.

    tentu sajhaaaa membaca Monster. bagus juga tu buku..

    ReplyDelete
  6. Anonymous2:52 PM

    hiya nia...gw br inih liat blog elo. it's nice sis! ;)
    tp tulisannya rada kurang greget seh yak...next story better bu!

    ReplyDelete
  7. Anonymous3:07 PM

    *lupa..*
    comment nyang diatas dr sayah-aprill. heheh...

    ReplyDelete
  8. Anonymous7:04 PM

    Keep up the good work » » »

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.