Tertahannya Sebuah Nafas

by - May 05, 2006

[[Kali ini bukan sebuah cerita.. bukan juga sebuah essay]]

Baru saja saya pulang dari observasi. Yang saya observasi adalah anak gifted (dengan indikator utama yaitu IQ diatas 130). Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari subjek.. tetapi lingkungan pusat terapi yang membuat saya takjub.
Perempuan kecil yang cantik apalagi ketika ia tersenyum, mulutnya selalu terbuka.. selalu menangis.. tubuhnya ada disana tetapi kehadirannya entah dimana.
Anak laki-laki yang kuat, tetapi begitu agresif. Ia memukul-mukul gerbang besi sekuat tenaga. Berteriak. Menendang si terapis kuat-kuat.
Anak laki-laki yang begitu kecil dan menggemaskan, tidak bisa berkata apapun. Hanya bisa mendesis, "Moo.."
Teman saya menceritakan pengalamannya juga. Ia bilang, "Ada laki-laki berumur 20 tahun, ia autism. Sedikit berbicara.. hanya menunjuk. Jika berbicara.. hanya bisa membuat kami takut."
Teman saya lainnya yang observasi di SLB bilang, "Ada yang begitu tinggi secara seksual.. Down Syndrome.. Cerebal Palsy.. Conduct Disorder.. Ketika kita datang, tangan kita dicium. Mereka menyambut ramah."

Satu emosi dasar yang saya dan teman-teman rasakan adalah, sedih.
Semua teman saya yang telah observasi pasti berkata, "Kita beruntung ya?"
Semua orang ingin dirinya-anaknya-keluarganya-temannya sehat. Tapi.. kalau kayak gitu, kita harus apa sih? Membawa mereka ke terapis dan membiarkan mereka dibentak-bentak? Mungkin bukan di bentak.. karena mereka harus diperintah dengan intonasi yang tinggi.

Ah..
Saya jadi termotivasi menjadi penyelamat jiwa.. tapi kali ini sedang membiarkan diri larut dalam empati.

[Ndak usah dimasukkan ke daftar cerita *sok* tingkat tinggi seperti biasanya.. ini cuman curhat aja kok ;)]

You May Also Like

4 comments

  1. wuiiih iya kita beruntung,,, wakut sma pernah ngadain penelitian juga ke panti untuk orang2 yang stress....
    pertama kali gw takut bgt tapi malah kasian dg keadaan mereka

    ReplyDelete
  2. empati....
    enggak gampang juga merasakan kupluk yang satu itu...

    ReplyDelete
  3. Anonymous6:06 PM

    heh,,,??
    mata bingung ketika kamu mendefinisikan sebagai penyelamat jiwa ? jiwa yang bagaimana ?

    ReplyDelete
  4. jiwa yang tidak seharusnya seperti esensinya.. mencoba untuk mengembalikkannya kepada keadaan semula.

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.