18 June 2006

Mirna, perempuan yang berdiri diatas kemiskinan

Untuk yang kedua kalinya aku melihat namaku ada di headline koran. Ah, siapa yang peduli?



Untuk yang beratus-ratus kalinya aku memesan kopi tubruk di warung kopi Pak Kincir. Nama sebenarnya Pak Maman, tetapi di depan warungnya ada kincir dari plastik bekas Aqua yang dibuat anaknya, kita memanggilnya Pak Kincir.
Warung kopinya hanya berupa tenda kecil yang lusuh. Warungnya ada di ujung Gang Somad. Tenda boleh lusuh, tapi rasa kopinya.. wow! Setiap aku meminumnya, aku selalu ingat kampung halamanku. Ingat ketika aku minum bersama bapak di saung tengah sawah. Rasanya berat meninggalkan bapak waktu itu. Tapi demi keinginan bapak, aku sekolah di kota. Kata bapak, harus ada perempuan kampung yang bersuara disana. Perempuan kampung yang lebih peduli dengan sosial karena krisis sosial ada dimana-mana. Biarlah tektek bengek teknologi diurus dengan orang kota.

Kini aku sudah tiga tahun di kota.

Beep.. beep
One message received
"Lagi dimana, Mir?"
Reply
"Di Kincir!"

Beberapa menit kemudian orang yang bersangkutan datang. Namanya Bejo. Aslinya Jonathan. Ia teman dekatku di kampus. Asalnya dari Jakarta, hanya berkuliah dua semester kemudian ia pindah ke Bandung. Jurusan yang ia ambil masih sama dengan jurusannya di universitas yang terdahulu, sosiologi. Kali ini bapak salah, ternyata ada orang kota yang mengurus tektek bengek sosial
"Kopi.. kopi.. dan kopi" Ia tertawa.
"Yoi! Tubruk kincir!" Aku tertawa. Ia tertawa.
"Pak, tubruk ama pisgornya! Lo mau ngga, Mir?"
Aku menggeleng.
"Lima deh pisgornya!" Pak Kincir mengangguk. Ia mengambil 5 buah pisgor kemudian menyeduh bubuk kopi sehingga isi gelasnya penuh dengan air panas berwarna hitam. Pesanan telah tersedia.
"Jo, ngapain lo kesini? Gue kira lo ngga mau kesini." Aku mengocek kopiku yang panas.
"Mau keluh kesah. Kemarin gue ke lembaga perlindungan wanita."
"Hah?"
"Iya.. Woman shelter."
"Ouch, feminis keparat!" Aku tertawa. Ia tertawa.
"I know that. Makannya gue mau keluh kesahnya sama elo."
"Emangnya ada apa sama gue?"
"Hey, you`re the queen of sinism!" Ia tertawa, kemudian ia melanjutkan. "Lagian lo kan udah berpengalaman di kegiatan-kegiatan sosial. Aktivis mampus gettoooo.. kerjaannya mondar-mandir ke LSM-LSM, baksos dimana-mana, ikutan orasi mahasiswa."
Aku tertawa. "The Queen of Sinism. Sialan! Predikat terhancur yang pernah gue denger." Aku tertawa lagi.
Bejo menghirup kopinya perlahan. Kemudian ia berkata, "Iya, kemaren tuh gue kesana. Maksud gue minta data tentang kekerasan thp wanita, sekalian buat penelitian gue lah. Tapi.. cuman minta print outnya doank aja dibikin ribet!"
"Ya itu rahasia perusahaan kali. Makannya dibikin ribet."
Ia mengaduk kopinya. Enggan membuat ampasnya mengendap. "Engga kok, Mir. Waktu itu gue ke LPA, gue minta data. Pas gue minta, mereka dengan sukarela ngasih print outnya buat gue. Malah mereka merasa terbantu dengan tujuan penelitian gue."
Aku mengangguk.
"Tipikal." Aku menahan tertawa.
Keningnya berkerut. "Tipikal apaan, Mir?"
"Joke masyarakat. Feminis sama dengan komunitas pembenci laki-laki. Dan lo itu laki.. dan, silahkan ambil kesimpulan." Aku tertawa.
"Ah, itu sih udah bukan joke masyarakat. Itu kenyataan!" Ia memakan pisang gorengnya dalam satu gigitan besar.
"Sebenernya apa sih yang mereka cari dari emansipasi?" Aku bertanya sendiri.
"Menyamakan kedudukan dengan laki-laki?"
"Ah! Itu udah jadul! Itu udah basi! Perempuan dan laki itu kan manusia. Dan mereka adalah pengada yang bebas. Tapi kalau emang kayak gitu, kenapa perempuan menyerah gitu aja ama laki?"
"Engga nyerah, Mir. Perang gender itu masih ada. Buktinya ada perlawanan. Dengan emansipasi."
"Yahh.. lo pikir aja, Jo. Kalau emang ada perlawanan, kenapa selama bertaon-taon ini engga ada hasil? Tapi ya mungkin aja ngga akan berhasil. Contohnya black american, Jo. Gue rasa sampe sekarang masih ada aja diskriminasi ras. Mau seberhasil apapun tu orang tetep aja ada diskriminasi ras. Apalagi yang namanya stereotype. Ngubah persepsi orang aja ngga gampang, gimana persepsi masyarakat? Contohnya itu Halle Berry. Lo kira dia mapan dia ngga didiskriminasiin?"
"Terlepas dari contoh lo tadi yah.. kadang salah cewek sendiri lho, Mir. Engga jarang kan dari mereka yang sukses karena kewanitaannya."
"Maksud lo?"
"Iya.. kewanitaannya. Seperti merayu, menggunakan bahasa tubuhnya, bahkan cara melihat mereka aja bisa bikin laki goyah"
"Perempuan punya apa sih selain tubuhnya? Mereka dihargai karena rahim, mereka disukai karena tubuhnya molek, ia dipekerjakan karena punya senyum dan wajah yang menyegarkan. Realita-realita itu kan yang dipelajari sama perempuan."
"Ah, ngga bener juga tektek bengek yang lo sebutin itu." Ia menggeleng.
"Coba lo liat koran sekarang, liat pas bagian kolom pekerjaan. Syarat utama dari pekerjaan kan rata-rata berpenampilan menarik."
"Iya juga sih. Gue rasa gue tau, Mir, kenapa perlawanan mereka selama ini ngga berhasil."
"Kenapa, Jo?"
"Toh mereka sendiri yang melanggengkan budaya itu sendiri. Mereka kayaknya masih takut untuk resiko kebebasan pada kehidupan yang ngga pasti kayak gini. Pas masih kecil, perempuan udah diarahkan."
"Diarahkan? Contohnya?"
"Mereka harus bangun pagi, bisa masak, bisa menjahit, bagaimana bersikap yang anggun.. bersikap perempuan. Perempuan yang ngga bisa masak dianggap bukan calon istri yang baik, perempuan yang maskulin dianggap engga tahu tata krama. Nah lo tau sendiri kalo laki gimana. Mereka dibiarkan berkembang, mereka dibiarkan punya pemikiran, mereka dibiarkan mencari uang. Udah dibentuk secara turun temurun, Mir!"
Aku memainkan pemantik rokokku. Ah, apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang ditinggal mati pacarnya karena kanker paru-paru dan meninggalkan wasiat sebuah pemantik rokok?
Ia meneruskan, "Setiap relasi antar individu itu adalah konflik. Udah mah antar individu, ditambah lagi antar gender. Hmmm.." "Nah itu tau! So, udah dapet jawaban kenapa mereka ngejutekkin elo?"
"Ahahahaha.. sialan! Yah, kalau lo jadi mereka? Lo mau apa?"
"Feminisme? Doktrin hal sosial dan politik agar setara sama laki terutama dibidang ekonomi? Kalau kata gue sih, siapa yang kuat dia yang menang itu udah cukup adil. Intinya gue harus berkompetisi sama laki. Simple kan?"
"Dengan melakukan pekerjaan laki-laki?"
"Pekerjaan seperti apa dulu? Kalau pekerjaan menginjeksi ovum dengan sperma gue ngga bisa."
Aku tertawa. Ia tertawa.

Saat kami asik meminum kopi, indra penciuman kami terganggu oleh truk sampah yang melewati warung kincir.
"Ampun.. sampah." Ia menutup hidungnya.
"Iyosh. Bandung, Rubbish van Java." Aku tertawa. Ia tertawa.
"Walaupun lambat, baguslah itu udah diangkatin."
"Tapi baru 10% lho. Ya lo bayangin aja 90% berikutnya seperti apa."
"Tapi gue ngga ngebayangin orang-orang yang deket sama TPS."
"Habituasi, Jo."
"Hah?"
"Habituasi. Penurunan respon karena stimulus berlebihan."
Bejo tertawa keras. "Sialan! Niat gue kesini buat refresh ma mind, tapi jadi kuliah gini." Ia terus tertawa sehingga orang disekeliling kami melihat kami.
"Emang kita salah ya? Emang kita jorok ya sampai sampah menggunung gitu?"
"Ya salah juga ngga, Mir. Kalau emang kita jorok, harusnya lautan sampah udah terjadi dari dolo. Ini kan berhubungan sama longsornya TPA Leuwi Gajah. Coba kalau TPA yang di Jakarta yang longsor. Mereka yang bakal jadi lautan sampah. Giliran kita yang ngetawain mereka."
"Sampai-sampai kita dibilang Kota Metropolitan Terkotor sama menteri. Katanya kita berperilaku kotor dan nyaman hidup kotor. Berperilaku kotor? Ambigu! Katanya mo ngerubah jadi kota wisata tapi engga beres. Pohon di Jl. Setiabudi di tebangin tuh. Yang deket kampus pendidikan itu lho. Sinting! Emangnya pembangunan itu harus mengorbankan pohon?"
"Ya.. tapi hargai aja lah, Mir. Kan kita sempet bikin taman kota. Engga bikin sih, cuman mempercantik taman kota."
"Iya.. tapi hebohnya pas mo KAA doank kan. Hehehe.. Lucunya lagi, pas Gubernur Jabar mau lewat jalan-jalan di Bandung buat lihat sampah, ormas-ormasnya disuruh buat bersihin jalan. Sampah-sampahnya diumpetin. Ya terang aja si gubernur ngga pernah tahu masalah yang sebenernya. Hehehe.."
"Mir, rasanya gue pengen teriak: Lulusan TL ITB dan ITENAS, are you exist??"
Aku memainkan pemantik rokokku.
"Tapi ya, Mir. Toh kayaknya orang Bandung sendiri juga ngga ngedukung tuh."
"Engga ngedukung gimana, Jo?"
"Kemarin gue liat pas tu polisi pada ngangkutin sampah. Masyarakat cuman nontonin doank. Mbok ya mereka bantuin kek."
"Kita kan masyarakat praktis dan pragmatis, Jo."
"Maksudnya?"
"Kalau melewati tumpukan sampah ya tinggal tutup hidung. Praktis kan?"
Aku tertawa. Ia tertawa.

Pisang goreng sudah habis. Dua gelas kopi sudah habis. Hari semakin sore.
"Balik yuk, Mir."
"Okeh."
"Sering ya lo kesini? Enak juga tempatnya."
"Sering banget, buat minum kopi doank seh."
"Ngapain kesini, Mir? Tempat yang bergengsi kayak Starbucks atau Potluck kan banyak. Kopi mereka enak-enak. Beragam pula."
"Tadi bilang apa? Yang didepan kata-kata Starbucks dll?"
"Tempat yang bergengsi."
"Nah itu jawabannya. Nyari gengsi atau nyari kopi? Lagian gue nyarinya kopi. Bukan nyari kopi yang bla bla bla dengan campuran bla bla bla. Hanya kopi."
Ia tertawa.

Tiba-tiba aku teringat bapak di kampung, apa kabar ya?

[Hasil hibernasi kok kayaknya otak makin konslet]

24 comments

semakin konslet, semakin bagus itu :lol:

REPLY

kalo sampah dibuat kompos, bisa buat pupuk bunga, en bandung jd kota kembang lg ya...

REPLY

Saya mau kopinya...
bisa pesan satu?

REPLY

vendy: hoo.. baiklah
undil: padahal pemerintah bikin aja lubang besar, terus sampah organiknya masukin kesana.. nah.. diatas tu lubang dibikin taman. :D
avante: pisang gorengnya?

REPLY
avatar
ryan gombal

hahahaha feminimisme dibilang jadul malah ditulis disini, mana kaitannya dengan doktrin agama ? bukan hanya culture yang ngebentuk bias gender, how bot religion ? walo gw masi yakin ma rligion gw.closing yang aneh, mo mbicarain femina ato sampah ?

REPLY

cerita situ ok jg. mayan stidaknya saya jadi nga bosen lagi

Ps:Babi yg lucu en imoet

REPLY

@RYAN GOMBAL:
lho? gpp donk gue kasih pemikiran gue kalo itu jadul. secara ini blog gue gitu!
emang endingnya kayak gitu. gue tadinya mau bahas sampah, kekerasan anak, televisi, penebangan pohon di bandung, sadisme, depresi, pembunuhan 3 orang anak, dan laennya. suka2 gue doms.
doktrin agama lo sendiri udah tau pan? pikir aja sendiri

-notintheritemood-

REPLY

wah jadi juga gw baca Blog Lu, sudah sejak lama gw pengen baca..cuman baru sekarang terealisasi. Sampah yah, kalo ga dari kita sendiri dulu yang ga dibenahin gimana bisa ngeberesin sampe tingkat selanjutnya?
in my point of view: tulisan lo cuman ngangkat masalah doang, trus ga dicari solusinya..well kayaknya lebih bagus lagi kalo (at least) ga cuman ngekritik doang...come up wit' the solutions too :)

cheers'
-JayuZ-

REPLY

ahahaha.. tengkiu. memang selama ini gue bagian pengkritis dengan sinis tanpa memberikan soluis :p kritik lo jadi bahan tulisan gue selanjutnya deh. thanks!

Cheers!

REPLY

wah ga nyangka dech cerita ringan tapi jadinya bagus banget... aku link boleh ya mba

REPLY

makasih :)
di link.. boleh banget ;)

REPLY

ya ya ya, mank terserah luw, tapi kayakna gw tau ini terinspirasi dari pembicaraan nia dengan ........... hue hue hue. tolong jangan beritau nia !! wah dasar lelaki gombal weksz.....IP gw ga bagus nie.....standar B la

REPLY
avatar
Anonymous

kalau dek nia berpikir lelaki tidak dibentuk dari kecil maka dek nia keliru. sekarang coba dek nia berpikir, kenapa harus lelaki yang mencari nafkah? hehehhehe...apakah dek nia mau mendapat lelaki rumah tangga

REPLY

@Ryan: emang yang mo cerita2 siapa?

@anonymous: ouch.. mgkn dek nia itu tidak pernah tahu bagaimana laki-laki dibesarkan. thanks for your info! :)

REPLY

kemanakah konsletnya ?

REPLY

hue.. vendy. lagi nabung materi buat bikin buku nih. terus ngga dapet ide muluk T_T
ditunggu sajha konsletnya :D

REPLY

nice blog, suka sama cara penulisannya, klo tubruk kincir ini emang ditujuin untuk membahas masalah sampah dan feminisme, wih great idea to put social problems and critics in a story. . tapi klo it's simply a story, gw merasakan ada agak kemiripan suasana yang diciptain di warung kincir itu sama warung kopi yang ada di cerita filosofi kopinya dee. . hehehehe, just my oppinion. . :)

btw gw link yaah blognya!

REPLY

HeyHoo..
Selamat datang.. met kenal juga. Btw, sebenernya ini adalah essay yang gue ramu menjadi cerita pendek. Kalo essay kan kesannya sok menggurui.. lebih baik jd cerita aja gitu..

Monggo di link..

REPLY
avatar
Steveskinn

huayah.....
Steveskinn!! Hadir!! Saya kasih nama nih non...

Btw, ntuh kopi daerah mana? Masi idup yg dagangnya? Maw dunk kapan2 ksono drpd garuk2 pala bayar billing di Roemah Kopi.

-Pamit-

REPLY

ahaha.. si stip mampir juga.
Ntu kopi ada dipemikiran sayah. Jadi rasa susah juga cuy nyari di Bandung :P

REPLY
avatar
Anonymous

kalo minumnya di potluck/starbucks, ini jalan cerita pasti beda... :D

at least judulnya udah ganti jadi..capuccino blend bla-bla-bla.. :)

REPLY

kalo minumnya di potluck/starbucks, ini jalan cerita pasti beda... :D

at least judulnya udah ganti jadi..capuccino blend bla-bla-bla.. :)

REPLY

saya ikutan aja apa kata James..
haduh saya harus ubah lagi link di sayah yang pilosofi Teh

REPLY

Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti. 2017 Copyright. All rights reserved.

Dilarang menyalin dan menggunakan konten website ini tanpa seizin penulis.

Designed by Blogger