Cerita Sebuah Foto

Hallo..”

Kamu dimana?”

Kapan kamu kesini?”

Ini sudah satu tahun!”

Semua nomer handphone yang aku hubungi ngga aktif.”

Aku bosen ngedengerin You call a wrong number or the dial is not in service. Please try again.”

Hey.. aku itu mau ngobrol sama kamu, bukan sama operator telepon!”

“…”

Kamu baik-baik aja, kan?”

Aku bener-bener kangen sama kamu.”

Kamu ngga sakit kan?”

Apa segalanya udah selesai?”

Kamu masih rajin shalat kan?”

Aku nelepon untuk minta maaf sama kamu.”

Maafin aku ngga bisa ke sana. Ruang terlalu jauh dan aku terlalu takut.”

Padahal kamu pernah kesini. Ruang tidak jauh tapi kamu tetap takut.”

Mereka bilang kamu pengecut.”

Menyakitkan? Itu kenyataan yang mereka katakan.”

Ah ya.. aku kan mau minta maaf.”

Maafin kalau dulu aku terlalu banyak menuntut.”

Hmm.. tapi menuntut apa sih? Ketidakjelasan hubungan?”

Mungkin perempuan ditakdirkan untuk menunggu.”

HTI.. HTS.. TTM.. apalah istilah-istilah mengerikan itu.”

Tapi ternyata rasa sayang ngga bisa diistilahkan. Dia ngga bisa didefinisikan.”

Pokoknya aku sayang sama kamu. Engga perlu beribu alesan dan istilah untuk ngejelasinnya.”

Ah ya.. sekarang aku udah ngomongin perasaan sayang.”

Coba kalau segalanya bisa diperjuangkan. Pasti satu tahun ini akan jadi berbeda.”

Mungkin aku yang kesana atau kamu yang kesini.”

Tapi ternyata Tuhan berkata tidak.”

Ya.. ya.. aku adalah perempuan yang berputar pada masa lalu.”

Bilang aku bodoh.. tapi aku engga peduli.”

Tapi ini masalah perasaan!”

Kemarin aku ketemu sama seorang psikiater.”

Namanya Ibin Kutibin.”

Aku ngga bercanda! Itu namanya!”

Ya.. ya.. tertawalah. Karena aku memang ingin mendengarkan kamu tertawa.”

Aku kangen ingin mendengarkan kamu tertawa.”

Aku ceritakan sedikit perasaanku kepadanya.”

Klise. Waktu yang bisa menyembuhkan, katanya.”

Tapi aku tidak peduli dengan waktu!”

Ah.. segalanya tidak perlu terburu-buru kan? Aku tidak perlu takut.”

Pernah ada seseorang yang mendekatiku.”

Hmm.. aku melewati sebuah.. atau seperti.. date?”

Yah.. mungkin itu.”

Lalu dia tahu tentang perasaan aku. Dia bilang, wujud kamu memang ada disini. Tapi tolong katakan, dimana kamu sebenarnya?”

Ya.. dia tahu.”

Sejak saat itu, dia memutuskan mencari perempuan tidak berputar pada masa lalu. Berarti bukan aku.”

Ah.. aku tidak peduli. Sungguh sangat tidak peduli.”

Aku tidak perlu takut.”

Sayang..”

Haha.. aku jarang sekali mengucap kata sayang.”

“…”

Padahal aku benar-benar sayang.”

...”

Aku ngga tahu aku harus ngomong apalagi.”

“…”

Jaga diri baik-baik yah.”

Karena aku ngga ada disana, aku jadi ngga bisa jaga kamu kalau ada apa-apa.”

Padahal aku pengen banget ada disana. Atau kamu yang ada disini.”

Hanya diam. Tidak bergeming. Tidak usah berbicara. Yang penting sosok kamu bisa aku lihat disini.”

“…”

Aku harus pergi.”

Kamu masih punya nomer aku kan? Telepon aku kalau kamu dapet message ini.”

Ah.. kamu tidak perlu menelepon.”

Karena aku harus ke rehabilitasi jiwa.”

Kepada orang-orang yang ditinggalkan.”

Setidaknya aku ingin membantu mengembalikan mereka dari sesatnya ruang dan waktu kepada realita.”

Atau mungkin aku sudah berada diluar jangkauan.”

Mungkin akibat gempa susulan atau tsunami sekalian.”

Atau bersosialisasi dengan masyarakat yang ngga pernah aku temui disini.”

Jika aku tidak bisa membahagiakan diri, setidaknya aku bisa membahagiakan orang lain.”

Doakan aku berhasil.”

Kalau ada apa-apa sama aku..”

Ah ya..”

“…”

Bye!”


[Tribute for his birthday: a short story]

Comments

mau nambahin jawaban di telepon sebrang sana boleh ya. .

"Nomor yang anda tuju tidak terdaftar. ."

:p

luv this story. . :)
Vendy said…
"Hari ini Adit ulang tahun" pikirku...

Seraya menuliskan ucapan selamat dimana-mana...

Dan ini adalah hadiah untuknya...


*ikutan nimbrung selagi konslet*
dahlia said…
gile neh crita-nya DALEM banget
koeaing! said…
koweorang kesoeroepan ato pigimaneh itoe non ?
Bagus banget, merinding aku bacanya
Spedaman said…
waaah!!
ini Adit bukan?:p
tp klo ini salah satu seritanya Nia, top bgt dah!:D
mynameisnia said…
makassiii semuanyaaaa.. :)

@vendy: padahal namanya gue berusaha tutup2in.. eeh, ternyata ada yang nyebut jg :P
@koeaing!: huheue.. iya mbah. kesambet T_T
mataharitimoer said…
hm.... asyik diikuti dialognya
bodhi said…
ngomong sendiri ya?

sama siapa?

bukannya telepon untuk komunikasi?

pusing ih.

salam knal yawgh mbak kabut.
Avante said…
Cara yang kreatif untuk ngucapin Selamat Ulang Tahun... moga2 aja dia baca ^_-
cupu said…
fuh.. saya baru saja tenggelam dalam satu scene yang kamu bangun. dan kamu tahu? jarang saya menemukan tulisan yang bisa menyeret saya ke kedalamannya. :)
Anonymous said…
Baca tulisan kamu yang ini... Kenapa aku jadi ngerasa de javu banget ya??? hehe..
Terima kasih sudah mewakili perasaan sayah dengan kata2 di tulisan ini.. :)

luv this story... :D

-Rini-
http://www.friendster.com/11303616
O))) said…
hei...tulisanmu keren. sing sabar ajah...
Anonymous said…
eh...rumahmu itu di galaksi bimasakti deket merkuri...maksudnya margahayu raya bandung 40286 bukan? (cuman nebak)
O))) said…
eh...rumahmu itu di galaksi bimasakti deket merkuri...maksudnya margahayu raya bandung 40286 bukan? (cuman nebak)
sigit said…
bweh bweh bweh..... keder... kalo diartikan ini cerita bisa bikin masuk angin..wkwkwkwk...
ati2 ya prend... sakit hati bisa bikin gangguan jiwa, jantung dan sakit kepala sebelah ....qqqq

-sukapaketitik-
mynameisnia said…
@o))): hueheuhue.. rumah siapa tuh? bukan :)
@sigit: kok masup angin?
Anonymous said…
dialog2 yg sama yg pernah saya ucapken, saya dengar...ngalamun bari nyengir we :D

-aprill-
Neni said…
wow, nia... ini keren... simply nice and unique... :)

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas