Cerita Sebuah Foto: Sebuah Jawaban

[http://impressoesdigitais.blogs.sapo.pt/arquivo/solidao.jpg]

Untuk waktu yang sangat lama, aku menghilang dari seseorang. Tiga puluh tahun aku melarikan diri dari pemikirannya agar dia bisa melupakanku dengan sengaja. Selama itu aku menimbang apakah aku mencintainya atau tidak tetapi aku belum mendapatkan jawaban. Kalaupun tidak, aku harus menemuinya atas janji yang pernah terucapkan. Tiga puluh tahun dikurangi satu tahun. Aku baru bisa membayarnya dua puluh sembilan tahun kemudian.

Akhirnya aku datang. Mereka bilang seseorang menungguku disana. Seseorang yang mencoba menghubungiku setiap waktu namun aku seperti tak mau diganggu. Seseorang yang selalu berbicara dengan operator telepon selama dua puluh sembilan tahun dikalikan tiga ratus enam puluh lima hari. Maka akan tercetak angka sepuluh ribu lima ratus delapan puluh lima untuk operator telepon. Kalau mau, aku bisa mengkalikan angka operator telepon dengan banyaknya ia memikirkanku setiap detiknya tetapi aku terlalu enggan untuk mengetahui hasilnya.

Aku selalu menyimpan alamatnya. Rumahnya berada diatas langit biru, disebelah pelangi dengan pemandangan langit kota yang digantikan oleh bintang-bintang. Ia seorang pemimpi. Maka perlu sesuatu yang dapat mendorongnya berimaji. Karena itulah aku berniat untuk memenuhi janji, selama apapun.

Aku sampai di rumahnya. Ia sedang duduk diatas kursi jati tua yang umurnya sama seperti dirinya. Ia memandangi langit kota siang. Dua puluh sembilan tahun bersama hitam, putih dan kelabu. Langit tidak mendukung, terlalu enggan untuk cerah. Ia ikut merasakan sedih si pemimpi. Pada wajah perempuan itu terlihat guratan yang terukir oleh zaman. Apa yang ia lakukan selama ini?

Ia sadar akan kehadiranku. Pandangannya teralih padaku. Aku duduk disebelahnya. Menghadapnya. Memandang matanya dalam-dalam. Inilah saat yang aku tunggu selama bertahun-tahun.

“Hai..”

“…”

Aku tahu.. ini sudah terlalu lama.”

Aku sekarang sudah lima puluh empat tahun. Aku kembali melalui tiga puluh tahun waktu yang selalu berjalan kedepan.”

Aku tahu kamu marah.”

Maafkan aku.”

Aku terlalu pengecut.”

Mungkin bukan pengecut.. bukankah segala perbuatan itu pasti ada alasan?”

Kamu tahu kan bagaimana pekerjaan aku.”

Aku hanya tidak ingin orang lain terlibat, apalagi orang yang aku sayangi.”

Kamu tahu itu. Tapi kadang-kadang kamu pura-pura tidak tahu.”

Dan aku juga tahu itu. Aku memilih untuk pura-pura tidak mengerti.”

Apa yang kamu lakukan selama tiga puluh tahun ini?”

Aku masih ditempat yang sama. Dalam posisi stagnan. Seperti yang pernah aku keluhkan padamu di message terakhirku.”

Terkadang aku memilih untuk mengakhiri hidup lebih cepat, tetapi itu tidak menyelesaikan apapun.”

“…”

Aku terlalu banyak omong. Bahkan aku belum menanyakan kabarmu.”

Kamu baik-baik saja, kan?”

Aku tahu kamu selalu baik-baik saja. Kamu yang lebih sering mengkhawatirkan keadaanku dibandingkan aku mengkhawatirkan keadaanmu.”

Maafkan aku.”

Kemarin aku pulang ke rumah orang tuaku. Akhirnya aku bisa datang kesana tanpa masalah. Ingat kan cerita tentang aku tidak ingin ibuku tahu apa yang sebenarnya aku kerjakan?”

Walaupun mereka berada dibawah nisan.”

Kini semuanya terbayar sudah.”

Mungkin aku ada rencana untuk tinggal di kota terpencil itu dibandingkan di kota metropolitan yang aku datangi ketika aku mulai kerja.”

Ingat, kan? Aku pernah menceritakan itu padamu. Aku mungkin akan mengurusi warisan toko ibuku, warisan sawah dan hewan-hewan ternak ayahku.”

Aku lebih baik seperti itu. Tanpa beban yang menghantui sampai membuatku insomnia.”

Haha.. kamu masih ingat kan pada penyakitku itu?”

Waktu itu kamu berusaha menyembuhkanku.”

Kamu menekankan pentingnya tidur. Konsolidasi memori, katamu.”

Kamu mencarikan artikel dan memberitahukannya padaku.”

Kemudian kamu menemani setiap malam insomniaku.”

Hingga pada akhirnya kamu tertular insomnia.”

Hal-hal yang tidak lazim kulakukan malam, aku hentikan.”

Seperti mencuci mobil atau berkebun sekalian.”

Aku dianggap hantu oleh tetangga.”

Haha.. aku ingat kamu tertawa ketika aku menceritakan itu.”

“…”

Pada saat itu, aku mulai mengenal kamu.”

Aku beri kamu janji dan mimpi.”

Sampai pada akhirnya aku rasakan cinta dan sayang.. “

“…”

Kamu masih menebak-nebak penyebab insomnia yang terjadi padaku.”

Lalu kamu menebak pada satu point penting.. bahwa aku sendirian.”

Pada saat itu aku terlalu arogan, aku mengatakan bahwa jika aku tidak bisa menyelesaikan masalahku.. maka begitu juga dengan orang lain.”

Tidak ada gunanya meminta tolong karena mereka tidak akan mampu.”

“…”

Begitu juga dengan kamu.”

“…”

Kamu ingin coba menolongku, menyuruhku untuk tidak sendirian. Tapi aku tidak apa-apa, kan?”

Kamu tidak perlu khawatir.”

“…”

Kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak menjawab?”

Bukankah ini yang kamu harapkan?”

Aku ada disini!”

A.K.U.A.D.A.D.I.S.I.N.I.”

Aku ingin bertemu dengan orang yang aku kenal pada malam insomnia.”

Aku paling takut kalau suatu saat, aku bertemu denganmu sebagai seseorang yang tidak aku kenal lagi.”

Itulah yang paling aku takut.”

“…”

Aku mohon. Bicaralah.”

“…”

Maafkan aku.”

Ruang tidak jauh, tapi aku pengecut.”

“………”

“……”

“…”
Tiba-tiba datang perempuan muda yang mirip sekali dengannya. Melihatnya membuatku teringat pada perempuan yang mempunyai semangat hidup dengan pemikiran-pemikiran absurdnya. Yang selalu membicarakan hal-hal yang tidak pernah kupikirkan sama sekali. Mirip seperti perempuan yang aku kenal, matanya hitam dan dalam. Seolah menyimpan beribu misteri yang tidak akan pernah terungkap selama apapun orang mengenalnya.

Aku bertanya padanya mengapa ia tidak menjawab. Retrograde amnesia. Hilang ingatan pada kejadian-kejadian yang berlangsung sebelum awal serangan amnesia. Terjadi karena pusat gempa. Ia memegang ucapannya. Jika ia tidak bisa membahagiakan dirinya, setidaknya ia bisa membahagiakan orang lain. Setidaknya kini ada aku yang bisa membahagiakan dirinya. Kini ia menjauh dari realita, tapi ia tidak gila. Mungkin ia lebih senang beristirahat dalam dunia imajinya. Dimana semua berjalan sesuai dengan kemauannya. Apa yang kamu katakan tadi sia-sia karena ia tidak akan pernah mendengar. Jadi ia tidak pernah mengetahui siapa kamu, darimana kamu, apa yang kamu inginkan, bahkan sisa perasaannya padamu. Maafkan.. ibuku harus istirahat.

Sebelum ia beranjak pergi dari tempatku.. kulihat perempuan itu untuk terakhir kali. Perempuan yang sangat kurindukan.. air mata jatuh dari ujung matanya. Aku harap itu yang terakhir.


[22 Agustus 2006: An answer]

Comments

Vendy said…
Supremasi abu-abu atas diri yang tak pernah berakhir. Saya sempat tenggelam di dalamnya. Nice story :D
Avante said…
Sekuel dari cerita sebelumnya yah?
(versi Ulang Tahun)

Gw bingung baca bagian dialognya dan hal ini juga sering terjadi kalo gw bikin cerita berdialog... Sepertinya lebih enak bikin cerita tanpa dialog e-_-3
ilham saibi said…
simple blog yang nyediain fully taste, nica blog deh, penulis ya?? lam kenal ya.
mynameisnia said…
@ilham saibi: Thanks udah mampir :) huehuehue.. masih calon penulis. Doakan ya! :)
O))) said…
eh, itu...fotonya keren. motret dimana?
mynameisnia said…
dr internet.. without permission pulak :P

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas