Padang Bintang

Datanglah aku ke Padang Bintang ditemani langit hitam dan kelam. Hitam dan kelam? Tentu saja! Bintang hanya terlihat ketika malam. Pada saat itu bintang berlomba memancarkan sinarnya. Ada yang merah, ada yang hijau, ada yang biru, ada yang merah kebiruan dan gradasi hijau yang terlalu merah. Pada saat ini cahayanya menjadi hiperbola. Terjebak dalam euforia manusia dengan semesta.
Untuk melihat Padang Bintang, aku harus berbaring di dinginnya tanah. Melayangkan imajinasi setinggi-tingginya ke dunia tanpa batas. Aku melayang bersama bintang dengan kecepatan satu milliar cahaya menuju Pluto. Perpisahan dilakukan besar-besaran karena Pluto sudah dikeluarkan dari sistem tata surya. Galaksi adalah teka-teki. Bimasakti adalah misteri. Tidak ada yang tahu mengapa Pluto pergi. Kemudian aku melayang bersama bintang di ruang hampa ditaburi berlian-berlian hasil pecahan dari planet-planet. Aku terbang mengikuti garis orbit satelit yang sudah ditakdirkan. Hanya aku dan bintang yang dapat melakukannya.
Padang Bintang, tempat yang syahdu dipenuhi romantisme semesta untuk melayang. Menghampiri hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tanpa terkekang! Tanpa ada yang menentang!
Semuanya ada di Padang Bintang..

[Oleh2 dari Common Room. Selamat melayang! :)]

Comments

Vendy said…
bisakah saya bertemu paradox di padang bintang sana ?
mynameisnia said…
tentu sadjha.. :D
larasilam said…
ya bintang hanya setitik luka di ladangnya,dan pluto hanya segores diantaranya, langit dan langit masih jauh terhampar entah menyelimuti alam ini seluruhnya mungkin ?? !!! aku pun tak tahu
Avante said…
Pluto (dan mungkin juga Neptunus) akan pergi tapi akan datang anggota-anggota baru sebagai penggantinya...

Aku hanya membayangkan adik-adik ku yang masih sekolah, apa yang akan dikatakan oleh gurunya tentang kepergian Pluto...

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas