Kakek Gero dan Ramadhan

Sudah satu tahun Kakek Gero duduk di teras rumah dengan puluhan butir batu hijau yang terajut dalam benang kasur yang bergulir di tangannya. Sambil bergumam menyebutkan nama Allah, ia memandang ke pemandangan gunung Dryden didepannya. Gunung Dryden yang membentang luas oleh bunga Lavender biru dan kokoh oleh pohon pinus tua. Kicauan burung menggema ke seluruh penjuru gunung sampai lembah. Milwaukee Dryden, sebuah tempat kenangan yang tidak akan pernah kau temukan di peta.
Apa yang dilakukan Kakek Gero di hari akhir bulan Ramadhan? Kakek Gero sedang menunggu anak bungsunya. Biasanya ia menunggu si bungsu dengan sang istri, tetapi baru beberapa tahun ini sang istri meninggalkannya menuju surga Allah mengikuti jejak kedua laki-lakinya yang tertelan oleh ganasnya Hindia ketika akan pulang ke Milwaukee Dryden. Tidak ada ketupat, tidak ada opor ayam, tidak ada masjid, tidak ada yang mengadakan shalat Ied bersama, tidak ada takbir ketika malam, tidak ada adzan, tidak ada perkumpulan umat muslim, tidak ada orang miskin yang harus diberi zakat, tidak ada yang bisa dikunjungi untuk silahturahmi dan tidak ada sanak keluarga. Hanya ada dua hal yang Kakek Gero yakini, yaitu arah kiblat menuju Makkah untuk mendirikan shalat dan iman kepada Allah.
Rasa khawatir berkecamuk di Kakek Gero. Ia khawatir tidak bisa melihat si bungsu. Tetapi rasa khawatir itu segera sirna. Si bungsu datang bersama istri dan ketiga anaknya. Ia datang membawa ketupat, membawa opor ayam, membawa tali untuk mempererat silahturahmi, membawa kebaikan untuk mendirikan masjid dan mendirikan shalat Ied berjamaah, mengumandangkan adzan dan takbir. Si cucu berteriak, “Kakek.. Allahu Akbar!”

[Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum. Happy Ied 1427 H :)]

Comments

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas