Conversation II: Perda K3

"Kiri.. kiri.."
"Payun, neng!"1
"Lho, jauh amat, Pak! Saya kan mau berhenti disitu."
"Abdi mah moal neangan resiko denda lima ratus rebu. Pirage setop dia tanda es."2
"Ah, biasana oge didinya."3
"Ayeuna mah kudu asup kana BIP, neng. Di Sariningsih oge teu kenging setop."4
"Kaleum, Pak. Etah mah ngan sosialisasi wungkul!"5

Lucu ya. Terkadang orang beranggapan bahwa supir angkot yang tidak tahu aturan, menyalip dan berhenti sembarangan. Tapi pada saat mereka mau menaati peraturan (yang terus disosialisasi), masyarakat tidak mendukung. Lucu.

1: Depan, neng!
2: Saya sih tidak mau mencari resiko didenda lima ratus ribu. Gara-gara berhenti di tanda S
3. Ah, biasanya juga disana
4. Sekarang sih harus masuk ke BIP, neng. Di Sariningsih juga tidak boleh berhenti.
5. Tenang, Pak. Itu mah hanya sosialisasi saja.

Comments

Dedi said…
Susah memang, baru punya itikad untuk tertib aja dah banyak halangannya.
Avante said…
Yah, lagi2 "Tanya Kenapa?" lah...

btw "Penumpang Penghasut"-nya saha atuh?
mynameisnia said…
yang pasti bukan saya.. bukan sayaa :D
raffaell said…
he he he, jeli juga yah...hal kecil yang ber arti besar.... hebat, salute
Anonymous said…
walo dikit manusia tu punya sifat yg ga rela kalo orang lain jadi lebih baik daripada dia, bu.. huhuhu. jadi dihalang2ilah itu niat untuk jadi lebih baik dengan segala daya upaya *walah, nyebut nama bisa jaman gw SMP!*
ajeuna begitoeh neng ? Euleuh......Parijs Van Java semingkin tjaoer sahadja itoe....

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas