Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Pohon, Kabut, Bandung

"Uh.. dingin," ucap pohon.
"Maaf ya.. pagi ini aku harus turun," kata kabut dengan harapan bahwa pohon mau mengerti.
"Kenapa kamu harus turun?" tanya pohon. "Disini kan bukan gunung."
"Memang, tetapi Bandung hari ini terlalu panas di pagi hari. Aku harus turun karena untuk mendinginkannya."
"Ah? Seberapa panas?"
"Tiga puluh dua derajat!" Kata Kabut setengah berteriak.
"Apa??" Pohon tidak kalah kaget. "Biasanya Bandung tidak akan sepanas ini. Biasanya Bandung hanya sampai pada titik tiga puluh satu."
"Aku juga tidak tahu. Padahal Bandung dikelilingi oleh gunung-gunung. Bahkan Bandung pernah mencapai titik empat belas derajat di malam sampai pagi."
Pohon menghela nafas. "Bentar lagi aku mati kepanasan donk?"
"Tenang, tanah disini masih subur. Bukankah setiap hari kamu disiram?"
Pohon mengangguk.
"AKu bawa oleh-oleh dari desa di kaki gunung. Mereka dua kali lebih parah." Kabut mengeluarkan sebuah foto kemudian menunjukkannya kepada pohon.

"Waww.. ada apa ini? Kemarau yang terlalu panjang beserta efek rumah kaca?" Pohon terkaget-kaget.
Semoga Bandung dingin kembali, seperti sepuluh tahun yang lalu setidaknya. Kamu harus membantu mendinginkannya." Ujar pohon kepada kabut.
Kabut mengangguk.


Picture by: me

Comments

  1. kalau sempat, bertamulah ke Jakarta.

    ReplyDelete
  2. biar merasakan panas dua kali lipat? hehehe..

    ReplyDelete
  3. Anonymous7:15 PM

    3x lipat tepatnya


    *Nice blog ;)

    ReplyDelete
  4. Anonymous7:42 AM

    duh, manis nya.... i like this kind of story

    ReplyDelete
  5. aungnymous: tapi kan jakarta itu panas lebab karena suhu, kalo ini panas kering dan menyengat karena matahari :(
    btw, thnks udah mampir :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba