Pohon, Kabut, Bandung

"Uh.. dingin," ucap pohon.
"Maaf ya.. pagi ini aku harus turun," kata kabut dengan harapan bahwa pohon mau mengerti.
"Kenapa kamu harus turun?" tanya pohon. "Disini kan bukan gunung."
"Memang, tetapi Bandung hari ini terlalu panas di pagi hari. Aku harus turun karena untuk mendinginkannya."
"Ah? Seberapa panas?"
"Tiga puluh dua derajat!" Kata Kabut setengah berteriak.
"Apa??" Pohon tidak kalah kaget. "Biasanya Bandung tidak akan sepanas ini. Biasanya Bandung hanya sampai pada titik tiga puluh satu."
"Aku juga tidak tahu. Padahal Bandung dikelilingi oleh gunung-gunung. Bahkan Bandung pernah mencapai titik empat belas derajat di malam sampai pagi."
Pohon menghela nafas. "Bentar lagi aku mati kepanasan donk?"
"Tenang, tanah disini masih subur. Bukankah setiap hari kamu disiram?"
Pohon mengangguk.
"AKu bawa oleh-oleh dari desa di kaki gunung. Mereka dua kali lebih parah." Kabut mengeluarkan sebuah foto kemudian menunjukkannya kepada pohon.

"Waww.. ada apa ini? Kemarau yang terlalu panjang beserta efek rumah kaca?" Pohon terkaget-kaget.
Semoga Bandung dingin kembali, seperti sepuluh tahun yang lalu setidaknya. Kamu harus membantu mendinginkannya." Ujar pohon kepada kabut.
Kabut mengangguk.


Picture by: me

Comments

Vendy said…
kalau sempat, bertamulah ke Jakarta.
mynameisnia said…
biar merasakan panas dua kali lipat? hehehe..
anungnymous said…
3x lipat tepatnya


*Nice blog ;)
raffaell said…
duh, manis nya.... i like this kind of story
mynameisnia said…
aungnymous: tapi kan jakarta itu panas lebab karena suhu, kalo ini panas kering dan menyengat karena matahari :(
btw, thnks udah mampir :)

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas