Cerita Sebuah Foto: Berkenalan Dengan Air

by - December 01, 2006


Sebuah kisah menarik yang aku dapat dari air ketika Bandung hujan deras. Aku menyempatkan diri keluar rumah untuk mengenal air kemudian menyentuhnya. Aku adalah aquarius, si lambang air. Mengenal air seperti mengenal diriku sendiri.
"Air.. kenapa kamu baru datang ketika Bandung mengering?" tanyaku.
"Proses kondensasi di awan sedang mengalami carut marut. Ada pergantian Raja Awan sehingga semua warga mengalami ketidakpastian untuk membuat hujan."
"Jarang sekali aku melihat mendung. Kenapa?" tanyaku lagi.
"Kami tidak berani berbuat apa-apa. Raja Awan tidak mampu bernegosiasi dengan Raja Matahari yang kian berkuasa. Oleh karena itu Dewa Langit memecat Raja Awan kemudian mencari penggantinya."
"Wah.. ternyata ada politik langit ya?"
"Selain itu juga ada politic cleansing."
"Ah? Cleansing? Aku jadi ingat susu pembersih." Aku bingung.
"Bukan.. bukan itu.. semua yang mendukung Raja Awan I 'dibersihkan' oleh ormas-ormas calon Raja Awan II dengan alasan bahwa jika masih banyak pendukung, maka Raja Awan I tetap menang. Kemarau akan panjang." Air menjawab panjang lebar.
"Siapa yang mendukung Raja Awan I?"
"Petir, es, kabut, dan para air."
"Berarti kamu juga donk?"
Air mengangguk.
"Kenapa kamu mendukung?" tanyaku lagi.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Raja Awan, ini adalah bagian dari jam alam. Dan tahukah kamu apa yang menyebabkan matahari berkuasa?"
Aku menggeleng tidak tahu.
"Adalah para makhluk yang hidup dibawah langit, terutama manusia," jawabnya tajam.
"Berarti orang-orang seperti aku?"
"Iya."
"Apakah calon Raja Awan II jahat?"
"Iya. Jahat. Angin puting beliung yang merusak rumah manusia adalah salah satu perbuatannya. Hujan angin dan hujan es adalah perbuatannya. Petir yang menyambar gardu listrik sehingga seluruh kota gelap gulita adalah perbuatannya."
"Aku pikir ia hanya tidak bisa sedikit menahan emosi."
"Entahlah."
"Kemarin hujan angin, berarti Raja Awan sudah menjabat kerajaan donk?"
Air mengangguk.
"Kenapa kamu masih bekerja? Bukankah kamu tidak mendukungnya?"
"Ini adalah terakhir kalinya kamu melihat aku. Esok, akan ada air lain yang menggantikan."
"Apakah dia baik seperti kamu?"
"Entahlah."
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Kemana arah aliran sungai dibelakang rumah kamu?"
"Jika panjang, itu akan sampai Samudra Hindia," jawabku.
"Yah.. berarti aku akan kesana, bertemu keluarga besar."
Aku diam.
"Baiklah, aku harus mengalir. Jika diam, berarti banjir. Senang bisa berkenalan dengan manusia seperti kamu."
Tanganku masih menengadah, berharap aku bisa menampung air sebanyak-banyaknya dan menahannya pergi. Namun semuanya itu bergulir dan berjatuhan kebawah. Mengalir long march menuju Hindia..

[Hasil imajinasi ketika hujan. Semoga berkenan :)]

You May Also Like

4 comments

  1. yang penting, hujan terkadang membawa kenyamanan yang lebih kan ;)

    ReplyDelete
  2. Repot juga kalo pemilihan Raja Awan mesti pake pemilu... apalagi pemilu seperti di Indonesia... entah hujan apa nanti yang diturunkan Raja Awan terpilih

    Kalo boleh milih sih saya minta Raja Awan yang bisa menurunkan duit di rumah saya dan air di desa2 sekeliling saya (bagaimanapun air itu penting :D)

    ReplyDelete
  3. @vendy: bener, musim ujan adl musim fave gw (dengan resiko cucian kaga kering2 :D)

    @avante: kalo duit recehan 1000 yang tebel2 itu mau? engga kebayang kalo kena kepala :P

    ReplyDelete
  4. khayana yang mantab. kepikiran apa seyh ubungin hujan dengan analogi kerajaan ? salah makan y

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.