Khianat

Sudah dua bulan ia mengurung diri di kamar hotel. Bukan karena gangguan perasaan yang dialami oleh orang yang mengalami gangguan mental, tetapi ia melarikan diri dari dunia luar. Menutup gordyn rapat-rapat, enggan bertatap dengan apapun apalagi matahari. Mengunci pintu tanpa pernah membukanya, dijadikan sebagai benteng megah penghalau musuh. Menghalau semua petugas hotel untuk membersihkan kamarnya, seolah mereka adalah virus terjangkit tanpa penawar.
Hari ini hatinya agak gelap, tanpa perspektif. Ia lelah dengan segala kepura-puraan. Ia lelah untuk menutupi ini sendirian. Ia jauh dari lingkungan, merasa ditinggalkan, merasa bersalah akan berdosa yang tidak pernah dilakukan. Tidak ada minat pada dunia. Ia seolah-olah kosong dan pikiran destruktif tidak mau berakhir. Ia sedang tidak bisa dipercayai dan mempercayai, tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Integrasi hilang, hatinya pecah berkeping-keping seperti butiran pasir yang tidak berhubungan.
Ia terguncang. Selama bertahun-tahun hidup dalam rutinitas kerja, ia tidak pernah seperti ini. Pengabdian pada perusahaan dan atasan dibayar dengan pengkhianatan. Ia dikhianati, ditusuk dari belakang. Hati yang kecil dan ketakutan itu memanas, memberontak ingin terlepas. Semakin lama gemerlap hatinya semakin meredup lalu pekat, memasuki alam depresif dan agresif.
Sahabatnya sendiri, orang yang paling dipercayai dan dibanggakan, menjerumuskannya pada jurang tanpa dasar. Difitnah membawa lari uang sebanyak lima milyar. Dicari pihak berwajib sebagai tersangka utama kasus penipuan. Dicari oleh puluhan kaki dengan senjata tanpa hati. Diancam bahwa ia akan dicincang kemudian cacahan dagingnya akan diberikan ke babi. Negosiasi dengan pihak kepolisian bahwa ia akan menemukan si penipu yang mungkin sudah pergi jauh ke luar negeri. Dikejar dan mengejar. Terlalu lelah untuk menghindar.
Antara panik, tegang, amarah dan ketakutan, ia berlari ke rumahku. Memelas untuk membukakan pintu. Berharap ada dukungan moral yang akan ia dapatkan. Aku membukanya, perlahan sembari mengintip. Laki-laki yang telah menyakiti kini telah kembali dengan segudang masalah yang biasa aku lihat di televisi. Tidak.. tidak.. kali ini aku tidak bisa menolongnya seperti dahulu. Biar dia tahu rasanya dikhianati oleh seseorang yang dianggap paling mengerti. Biar dia tahu rasanya! Hatiku tidak akan terderak sebagai esensi absurd yang tidak boleh dimiliki siapapun. Tidak ada alasan mengapa aku harus membantunya. Ia kecewa. Ia merasa terperangkap pada waktu, membentuk suatu perubahan yang membeku. Waktu yang selalu berjalan kedepan dan tidak mengalir terbalik, meninggalkannya dalam sesat.
Sejak saat itu ia tidak pernah terlihat. Aku jadi memikirkan apa ia baik-baik saja atau sudah tidak ada di dunia. Aku menyesal. Seharusnya pada saat itu, aku memberinya kepastian dan keamanan atas suatu nilai pengalaman yang penting. Seharusnya aku menjadikan hatiku sebagai ruang yang dapat didatangi secara langsung. Seharusnya hatiku menjadi sebuah realitas yang dapat mengalami, mengetahui dan mengerti. Menjadi hangat, dekat dan absolut. Hatiku menjadi suatu pembebasan dari dunia sehari-hari dan dialami sebagai ekstasis yang membawa jiwa ketempat yang lebih tinggi.
Tapi ternyata aku tidak punya cukup tenaga. Khianat adalah kenyataan yang seperti lintah. Seluruh tenagaku tersedot habis atas semua penyiksaannya. Apakah aku terlalu sibuk untuk menyangkal atau memang enggan melakukannya? Apakah aku begitu ingin tertawa atas kebingungannya dan menyerahkannya kepada orang lain? Haruskah aku ikut bahagia bersama temannya bahwa untuk menyadari bahwa ia sudah siap dihancurkan?

[Dedikasi untuk seseorang dengan cerita berdasarkan kenyataan di masa lalu. Welkom Back :)]

Comments

Raffaell said…
Aku juga, hidup dalam belantara pengkhiatan, jika kebohongan adalah salah satu sahabat setianya, aku fikir aku punya cinta yang putih, bersih dari dosa, eeee ternyata kebohongan dan pengkhianatan masih terselip dibalik putih silaunya kasih sayang ?

membuat aku bertanya tanya....
adakah kutemui orang yang tak pernah menkhianatiku ???

ah, kurasa kita semua tahu jawabanya, hanya butuh kebesaran hati untuk mengulurkan tangan tampa harus memandang kebelakang
mynameisnia said…
banyak orang bilang berbohong untuk kebaikan.. bukankah itu juga termasuk pengkhianatan?
Iman Brotoseno said…
termasuk ' white lies " ?..tapi memang sakit jika dikhianati oleh orang paling dekat, paling disayangi dan dicintai

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas