Suratku Pada Jenny

My love is a fever, longing still

For that which longer nurseth the disease,

Feeding on that which doth preserve the ill,

Th’ uncertain sickly appetite to please.

My reason, the physician to my love,

Angry that his prescriptions are not kept,

Hath left me, and I desperate now approve.

Desire is death, which physic did except.

Past cure I am, now reason is past care,

And frantic-mad with evermore unrest;

My thoughts and my discourse as madmen’s are,

At random from the truth vainly expressed:

For I have sworn thee fair, and thought thee bright,

Who art as black as hell, as dark as night.

[William Shakespeare. The Sonnets 147]


Cinta. Lima kata misteri yang belum terpecahkan selama aku hidup 27 tahun di dunia ini. Seperti angin, ia tidak bisa dilihat tetapi hanya dirasakan. Adalah perasaan yang aku rasakan sepermilisekon ketika aku melihat kamu sebagai keindahan kekal pada kreasi artistik Tuhan. Mataku berpautan denganmu ketika aku berada di dalam kereta api menuju Amsterdam sedangkan kamu menuju Haarlem. Aku rasakan pahit dan manis, obat dan pisau, surga dan neraka. Karena ketika aku merasakan jatuh cinta, aku merasa putus asa karena penuh dengan harapan. Aku ragu-ragu sewaktu penuh kepercayaan, aku menangis ketika jiwaku bersorak-sorai.

Aku mengikuti nafsu Erosku. Aku turun di stasiun berikutnya dan membeli tiket menuju Haarlem. Aku kejar perempuan yang masih duduk di kursi dekat loket itu. Kamu, perempuan cantik berkulit putih dengan bibir kemerahan itu tersenyum padaku. Oooww.. rupanya kamu ingat telah melihatku dalam papasan kereta, oleh karena itu kamu membalas senyumku. Sepermilisekon berubah menjadi empat detik untuk mengagumi lukisan hidup yang jauh lebih sempurna dari karya Piccaso manapun. Cupid, The Little Love-god, menembakkan panahnya tepat di hati dan aku jatuh cinta. Ketika aku merasa mencintai seseorang, maka aku ingin menambahkan seseorang, dari satu diri menjadi dua diri. Tapi aku terlambat, aku melihat seorang laki-laki menyambutmu. Kamu mendekapnya kemudian menciumnya. Pada saat itu aku dimurnikan dalam bara api. Seperti besi, aku dipanaskan, aku dipukul, aku dihancurkan, aku diuji, aku dipanaskan lagi dan aku disucikan. Maka api adalah pengorbanan. Aku harus merelakanmu berjalan dengan laki-laki lain. Entahlah, tetapi aku menjadi sabar, aku lemah lembut, aku tidak iri dan tidak berbohong pada diri, aku tidak mengagungkan diri, aku tidak marah, memaki dan rewel, aku tidak membalas dendam dan aku penuh kegembiraan. Cinta adalah sebuah totalitas.

Hatiku hancur tetapi tidak akan kubiarkan kepingannya melebur. Aku mengikutimu dan laki-laki itu. Apartement Boulevard berwarna putih pucat nan bersih, itu adalah rumahmu. Ia masuk ke dalam rumahmu dan tidak keluar sampai malam hari. Ia masuk ke dalam rumahmu dan tidak keluar sampai aku melihat pagi. Apa yang dia lakukan disana, Jenny? Apa ia menerkammu laksana binatang kelaparan yang dibuai rasa rindu dan nafsu? Setulus apapun, ia adalah binatang. Tetapi aku tidak, Jenny. Aku tulus. Aku tidak curiga. Aku tidak berpikiran macam-macam. Aku sopan santun untuk menghormati kamu sebagai perempuan.

Aku sewa apartement kecil di seberang apartement-mu, Jenny. Aku beli teropong kecil yang kuarahkan pada jendela kamarmu. Sedih rasanya ketika kamu menutup gordyn ketika malam. Namun kulihat surga ketika kamu membukanya dengan senyuman dan menyapa jalanan Haarlem. Apa yang Tuhan pikirkan ketika ia membuatmu? Apakah Ia meminta sari malaikat surga untuk membentukmu?

Pagi sekali kamu sudah berlari. Aku ikut berlari padahal aku tidak suka berlari. Aku memotong jalan dan pura-pura berpapasan denganmu. Aku tersenyum dan kamu tersenyum. Oooww.. rupanya kamu ingat telah melihatku dalam papasan kereta, oleh karena itu kamu membalas senyumku. Aku berlalu, berbasa basi untuk minta dipanggil. Tetapi kamu tidak memanggil namaku, kamu berlari membelakangiku.

Sudah tiga tahun aku tinggal di depan apartement-mu. Tiga tahun juga aku melihat laki-laki itu bolak balik masuk ke dalam apartement-mu di malam hari dan keluar di siang hari. Hingga akhirnya kamu memutuskan untuk menikah, aku tahu itu dari tetangga kamarmu yang selalu aku tanya setiap hari. Godam neraka dihujam tanpa henti. Cinta adalah sumur tanpa dasar, suatu limit yang menuju nol yang tidak pernah sampai. Aku iri! Aku dengki! Aku benci! Ternyata cintaku tidak murni padamu, Jenny. Seharusnya cintaku memberikanmu sayap agar kamu bisa terbang. Seharusnya aku bertahan, tetapi tidak. Egoku hancur. Hatiku tersayat. Tiba-tiba aku merasa dibuang dan ditinggalkan. Aku terjun dalam harapan dan janji yang tidak pernah tersampaikan.

Sebaiknya kamu beri tahu anak dan cucumu agar tidak terlalu larut seperti aku. Aku menjadikan cinta seperti berhala, mengagungkan dan merawatnya. Tapi aku terlalu larut. Ketika aku disakiti, aku memilih berdiri di tepi atap salah satu gedung salah satu di Haarlem pada saat perkawinanmu. Jenny menghancurkan perasaanku bertubi-tubi. Jasadku mati tetapi cintaku kekal, akulah pencinta sejati.

[Untuk yang pernah bertepuk sebelah tangan atau ditinggalkan: Jangan talikan ia tambang pada kedua tangan dan kakinya. Jangan memberikannya jangkar untuk membuatnya diam. Berikanlah ia sayap agar ia bisa terbang dan menemukan jalan pulang di hidupnya, yaitu menikah, punya keluarga dan bahagia]

Comments

raffaell said…
Aku pernah merasa seperti itu, padahal aku tak memberinya tambang, namun sikap ku yang membuatnya merasa kalau aku yang memberinya tambang dan mengikatnya....

Sampai akhirnya kutemukan sesuatu
Move-T said…
ah, membingungkan/ Ga dong
mynameisnia said…
@Raffa: menemukan 'sesuatu'? 'sesuatu' atau 'seseorang'?

@uti:
apaan? gk jelas
macangadungan said…
kmrn2 pas blogwalking,nemu blog yg bagus bgt..
eh pas mw dibaca lg saya lupa addressnya..

dan skrg ktemu!!!

ternyata ini blog yg seru itu.
hux2..postingannya dalem2.

kyanya blognya ga tepat dibilang bagus ato kren,lbh tepat dibilang indah...
anak autis said…
i hope i am giving wings to somebody right now, huhuhu..

*sebulan lagi puut, semangaat!!*
Avante_Ray said…
Harus gw bilang ini salah satu postingan terbaik yg kamu buat nia...

Kutipan dari Shakespeare, penokohan dan alur cerita (meski mudah ditebak)... salut lah...

Meski gw pernah bertepuk sebelah tangan tapi untungnya ga pernah terjadi yg kayak gini sama gw...

Kita mestinya berjalan diatas nasib kita bukan terkungkung di bawahnya

sedikit ralat nih... 'lukisan hidup' jangan dibandingin sama Picasso yang alirannya Kubisme dong... mungkin lebih pas kalo dibandingin sama lukisan Realisnya Basuki Abdullah
mynameisnia said…
@Avante:

Thanks for you correct. Pas nulis, yang kepikiran itu doank sih. Makasih ^^
Toto said…
The true love is when you happy, even the person that you love is being happy with other person...
Pernah juga bertepuk sebelah tangan, tapi kl sampe ngebela2 in kyk tokoh disini, mudah2 an enggak ya, hehe...
Nice post, nice story, nice blog...^_^

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas