Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Nikah Muda?

Apa yang kamu pikirkan?

Saya hanya tidak habis pikir. Sudah jengah melihat buku tentang nikah muda. Sudah bosan memegang undangan seminar atau talkshow tentang nikah muda. Tak habis berpikir bahwa hidup bukan hanya tentang nikah muda.
Memang benar manusia memerlukan regenerasi spesiesnya dengan cara reproduksi, tapi bukan menjadikan diri pabrik anak dan susu. Punya anak lebih dari lima karena tidak memakai KB dengan alasan tidak boleh menolak rejeki tetapi tidak sesuai dengan kemampuan.. buat apa? Kalau ujung-ujungnya hanya berada di balik dapur, untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Untuk apa saya meneruskan S1 apalagi sampai S2 kalau ternyata saya bisa sekolah sampai SMP/SMA kemudian menikah muda?
Dilingkungan kampus saya yang begitu religius, mereka yang berusia sembilan belas atau dua puluh tahun dan belum juga menikah, mulai merasa diri sebagai perawan tua. Tergiur sekali jika melihat temannya memberikan undangan pernikahan. Ada yang menikah dengan laki-laki yang sudah mapan, ada juga yang menikah dengan laki-laki yang masih kuliah. Ah? Masih kuliah? Masih dibawah ketiak ibu dan bapak sudah berani memberi nafkah?
Beberapa orang bilang tidak baik menolak jodoh. Tapi jodoh bisa menunggu, kan? Jodoh bisa menunggu seseorang untuk selesai kuliah dan bekerja untuk menghidupi anak, kan? Karena yang namanya jodoh tidak akan kemana, kan? Beberapa orang bilang menikah itu untuk menyempurnakan ibadah. Ya memang tidak ada masalah bagi kedua orang yang sudah siap lahir (materi dan organ reproduksi) dan batin. Tapi ibadah bisa dilakukan dengan cara apa saja, kan?
Mungkin saya terlalu sinis, tapi itu yang saya pikirkan. Mungkin banyak orang yang tidak suka dengan tulisan saya. Tapi menurut saya hidup tidak selebar daun kelor. Ada keinginan untuk mencapai aktualisasi diri selagi saya masih muda. Saya bukan orang yang ahli dalam devided attention antara kuliah, anak, suami, anggaran rumah tangga dan tuntutan keluarga untuk menjadi sukses. Maaf.

Comments

  1. Anonymous5:20 PM

    Nikah muda, uh aku pengen kek gitu, soalnya punya lebih banyak waktu dengan anak, nanti anak dah 20 taun kita paling masih 40 an, wah enak kalo gitu....

    selain alesan yang uda di sebutin...

    jadi nikah muda ngga masalah, asal "siap"

    Nikah nunggu punya rumah, mobil dll, forget about it...

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba