Sahabat (tetapi) laki-laki?

Saya punya sahabat laki-laki dari saya smp. Berarti hubungan kami sudah delapan tahun, lebih lama dari pacaran manapun. Kami pernah lost contact selama beberapa tahun tapi nyambung lagi. Ia orang yang saya andalkan dan saya hubungi ketika saya hilang kendali dan merasa terasing pada situasi emergency. Ia orang yang ada ketika saya putus dan menangis di telepon. Ia orang yang ada ketika saya membutuhkan pertolongan. Ia dengan baik sekali mau mengantarkan pulang dari acara kampus sampai larut malam sedangkan ia bela-bela kuliah dulu. Dan segalanya timbal balik. Ia meminta antar belanja ini itu sampai tersasar di kota sendiri. Bodoh.
Siapa lagi yang bisa saya andalkan kalau pacar dan teman-teman lainnya ada di luar kota?
Manusia memang tidak sempurna, ia punya kekurangan. Terkadang kata-kata yang menyakitkan dilontarkan kalau ia sedang kesal. Bukan kata-kata kasar, tapi menyakitkan! Terkadang ia tidak peduli dengan masalah saya dan seenaknya bilang, "Ooo.. ya itu sih urusan lo."
Sampai akhirnya saya kuliah. Kampus saya begitu religius sehingga persahabatan antara laki-laki dan perempuan sudah seperti hubungan seksual saja, tabu. Padahal dari dulu saya punya teman laki-laki lebih banyak dari perempuan. No heart feeling, alasan utama kenapa saya lebih suka berteman dengan laki-laki. Selain blak-blakan, saya bisa berpendapat apapun yang saya inginkan. Mungkin itu yang membuat saya begitu liberal. Saya mengenalkan kedua sahabat perempuan saya dengan sahabat laki-laki saya. Saya berusaha mendekatkan sahabat perempuan saya dengan sahabat laki-laki saya. Dari acara makan sampai pulang bareng. Tanggapannya adalah:
"Lo cocok sama dia."
Cocok? Maksudnya?
Komentar tidak hanya sampai itu, tapi berkembang menjadi, "Kenapa engga jadian sama dia aja? Kayaknya dia baik terus kalian cocok."
Dan komentar yang benar-benar tidak saya inginkan akhirnya dilontarkan, "Biasanya dua orang sahabat tuh saling cari pacar sana sini tapi ujungnya sama dia dia juga."
Ok. Sudah cukup. Kenapa cukup? Karena komentar sahabat-sahabat perempuan saya sudah menganggu esensi persahabatan. Tidak ada perasaan yang sangat spesial, hanya sahabat. Saya pacaran dengan orang lain dan dia pacaran dengan orang lain, saya suka dengan orang lain dan dia suka dengan orang lain.. dan kami bahagia dan saling berbagi cerita. Saya berbuat baik dan dia berbuat baik. That's it and that's all!
Saya tidak mau perkataan sahabat-sahabat perempuan saya membuat kami renggang. Apa salah? Karena mereka pun punya teman laki-laki tapi saya tidak pernah bilang, "Kayaknya elo cocok sama dia, jadian gih!"

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas