Prasangka

by - May 12, 2007

Pukul enam pada waktu Melbourne aku sudah berada di toko sepatu. Aku pindahkan semua sepatu dari kontainer lalu aku tata rapi di rak toko. Seorang bapak-bapak dengan gaya necis menghampiriku. Ia menyilangkan tangan di dadanya. Ia mengobservasi segala yang ada di toko kemudian menyapaku. Hanya dengan cara pandangnya, aku tahu ia memandang rendahku.
"Dari Indonesia?" Ia bertanya.
"Iya." Jawabku sambil tersenyum kemudian melanjutkan menata sepatu.
"Dari Indramayu ya??"
"Oh.. bukan. Saya dari Bandung," jawabku sambil tersenyum kecut.
"Sudah lama kerja disini?"
"Baru tiga bulan."
"Disini sama keluarga?"
"Oh.. saya masih single."
"Sekarang tinggal dimana?"
"Flat, Pak."
"Memangnya cukup kerja disini untuk bayar flat?" Ia bertanya dengan sinis.
"Oh, saya kerja disini buat jalan-jalan dan uang saku saja."
"Oh.." Tanggapnya singkat.
Walaupun aku tidak memperhatikannya, aku bisa melihatnya dari ujung mataku bahwa ia sedang memperhatikanku. Ia melihatku dari atas sampai bawah, mengawasi setiap gerak gerik. Aku pasti terlihat begitu lusuh di matanya. Kulitku yang hitam, badanku yang gemuk, mukaku yang berminyak, hanya memakai kaos dan sendal. Aku pasti terlihat amat sangat kumal.
Tanpa aku sadari, seorang anak laki-lakinya datang.
"Ini anak saya, kuliah di Dickens University." Ujar bapak itu memperkenalkan anaknya.
Aku mengangguk. Biasanya orang Indonesia yang kuliah atas biaya sendiri berkuliah di Dickens University. Gaya necisnya membuktikan benar bahwa ia orang mampu.
"Ia pekerja dari Indonesia, dari Bandung. Semula ayah pikir ia dari Indramayu."
Si anak sedikit kaget dengan apa yang diucapkan bapaknya. Kemudian berbicara pelan kepada bapaknya namun bisa aku mendengar, "Ayah pikir ia dari Indramayu yang gudangnya para TKI?? Yah, tidak ada TKI yang bekerja di Australia! Ia pasti mahasiswa."
Aku bisa melihat rona muka bapak yang kaget dan sedikit memerah.
"Adek mahasiswa juga?" Tanyanya kini lebih lembut.
Aku mengangguk.
"Dimana?"
"University of Melbourne."
"Woooohh!!" Si anak berdecak kagum. Kemudian ia berbisik kepada bapaknya. Bapaknya mendengarkan sambil mengangguk.
"Biaya sendiri?"
"Bukan, beasiswa."
"Oh.. PNS?"
"Iya."
"Pantas saja. PNS memang mudah mendapatkan beasiswa. Apalagi perempuan memang diprioritaskan." Ia tidak mau kalah.
"Oh, kalau begitu saya beruntung kalau saya perempuan. Artinya saya diberangkatkan. Bapak, yang laki-laki, tidak dapat beasiswa, kan?"
Ia tersenyum kecut. Menelan prasangka yang diagungkannya.

You May Also Like

4 comments

  1. Anonymous9:10 PM

    Ini tentang apa ? kamu ?

    ReplyDelete
  2. Owh, bukan. Ini pengalaman dosen.

    ReplyDelete
  3. Anonymous12:59 PM

    wuihhh tuh bapak sombong amat yaakk

    ReplyDelete
  4. Anonymous11:28 PM

    kaloe koweorang ktemoe itoe oknuum poen maoe kowe apain non? kowe bakar sahadja itoe poen...

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.