Raya dan Narapidana Galaksi

Raya pergi ke luar galaksi. Ia bertemu dengan seorang narapidana bumi yang diduga kuat mau menghancurkan Bimasakti. Entah kenapa, Raya begitu ingin menemuinya sejak tersiar kabar bahwa ada seorang narapidana hebat yang datang ke galaksi. Narapidana itu dibawa oleh ribuan pasukan Merkuri yang tingginya hanya semata kaki. Dibawa oleh piring terbang, unidentified flying object. Raya tahu, pasti orang-orang bumi ketakutan dan sekarang sedang menyiarkan kabar bahwa ada seseorang tersedot masuk ke dalamnya dan dibawa mengangkasa.

Sebenarnya Raya sudah dilarang keras oleh ibunya, Semesta. Ia juga sudah diwanti-wanti oleh Jagad agar tidak pernah beranjak sedikit pun ke luar galaksi. Di luar galaksi itu hanya ada planet-planet kosong tanpa udara dan basa. Segalanya hambar dan ringan, tidak seperti di dalam Bimasakti yang penuh kehangatan dan gemerlap cahaya bintang. Disana hanya hidup orang-orang yang ditinggalkan, orang-orang yang berdosa, orang-orang yang diasingkan, orang-orang yang bersiap untuk gila, orang-orang yang memanggil ibunya ketika mereka dihukum mati tetapi tidak ada seorang pun yang mendengar. Disana energi kita akan tersedot sehingga kita rasakan tanpa tenaga. Hampir nol derajat Kelvin, hampir tidak ada kehidupan.

Raya adalah Raya. Penuh rasa ingin tahu dan ingin menjelajah lebih jauh semuanya. Raya ingin tahu seperti apakah orang yang ingin menghancurkan Bimasakti. Sekuat apa dia? Apakah ia lebih kuat dari Tuhan? Bagaimana ia bisa kuat? Bukankah ia hanya makhluk bumi, manusia, yang paling lemah jika berada di luar angkasa? Mereka saja butuh oksigen, butuh peralatan canggih, butuh persiapan belasan tahun untuk datang kesini. Sedangkan Raya? Raya tidak butuh oksigen. Ia tidak butuh peralatan canggih untuk terbang, ia hanya mengumbar tabirnya agar terbang. Ia tidak membutuhkan persiapan bertahun-tahun karena sejak lahir pun ia sudah ditakdirkan untuk mengangkasa dan terbang kemana pun ia mau.

Sekarang ia sudah sampai di planet S. Betul kata Jagad, banyak sekali planet-planet yang tidak berpenghuni. Bintang-bintang redup. Cahaya matahari tidak sampai kesini. Hanya ada jurang hitam dan kosong tenggelam dibawahnya. Ah.. tempat hukuman apa ini? Ini adalah mimpi buruk bagi siapapun yang masuk ke dalamnya! Hebat sekali Pasukan Merkuri yang datang dan bisa bertahan disini.

Pasukan-pasukan kecil itu menghadang Raya di gerbang utama. Mau kemana, katanya. Mau bertemu narapidana dari bumi, jawab Raya. Pasukan Merkuri terperangah. Mereka terpesona. Mereka kaget. Mereka tidak menyangka. Seperti ini adalah kejadian yang sudah ditakdirkan dan diramalkan oleh pendahulu Semesta. Akan ada makhluk dari Bimasakti yang datang dan memutuskan apakah narapidana ini pantas atau tidak berada di luar galaksi, begitu katanya. Mari masuk, kata pasukan Merkuri. Mereka membawa Raya ke labirin besi yang berliku. Raya tidak yakin ia akan menemukan jalan pulang jika ia ditinggalkan sendirian disini. Setelah melewati labirin yang panjang itu, akhirnya diakhiri sebuah pintu besi. Begitu biru dan kuat. Tidak ada bahan peledak pun yang bisa menghancurkannya. Konon dahulu ada seorang narapidana yang membawa meteor untuk menghancurkannya tetapi tidak berhasil. Hanya ada goresan kecil yang tidak berarti di pintu besi. Tidak dalam, hanya betul-betul sebuah goresan.
Pintu itu dibuka. Seluruh planet berdenging karena megahnya sebuah pintu. Mereka mempersilahkan Raya masuk dan menunggu di kursi putih yang telah dipersiapkan. Di dalam ruangan itu, hanya ada dua buah kursi yang saling menghadap. Tidak ada tembok, hanya dikeliling aura-aura biru keunguan yang menggambarkan semesta. Ganjil, Raya tidak pernah merasakan seganjil ini.

Akhirnya yang ditunggu datang dari pintu lainnya. Ah.. seperti dugaannya, ia hanya seorang manusia. Makhluk bumi yang sering dilihatnya dari kotak Bimasakti. Ia begitu canggung dan badannya tidak teratur. Jalannya kecil-kecil, seolah takut dengan gravitasi planet yang hampir tidak ada. Pasti perjalanan dari bumi itu melelahkan, pikir Raya. Badannya belum beradaptasi dengan benar.
"Hai," sapa Raya ramah. Ia belum pernah berkomunikasi dengan manusia sebelumnya. Ia hanya berkomunikasi dengan Jagad, Kiamat, Semesta, Satan dan Tuhan.
Manusia itu hanya mengangguk. Matanya awas terhadap sekitarnya, takut dengan apapun yang mengancam. Tapi ia tidak takut dengan Raya. Raya hanyalah perempuan cantik yang tidak berbahaya. Raya yakin ia mau berbicara dengannya.
"Di Bimasakti sekarang sedang ramai. Mereka membicarakan tentang kau."
Manusia itu mengangguk sekali lagi.
"Tidak hanya membicarakan, tapi semuanya ingin melihat kau," kata Raya
"Mereka pasti takut denganku karena aku adalah seorang narapidana ya?" Jawab laki-laki. Mendengar suaranya, Raya teringat pada Jagad. Suaranya berat seperti Jagad. Tidak ringan seperti suara Raya atau Semesta.
"Iya."
"Lalu kenapa kamu tidak takut padaku?" Tanya manusia itu.
"Karena aku tidak tahu apakah kau benar-benar jahat atau tidak."
Manusia itu diam.
"Apakah kau benar-benar jahat?"
"Jahat seperti apa? Setiap manusia pasti mempunyai sisi jahat."
"Jahat seperti ingin menghancurkan Bimasakti?"
Laki-laki itu menggeleng kemudian berkata, "Tidak.. Tidak.. tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Ini pasti ulah seseorang. Seseorang telah menghasutku. Ini pasti ulah seseorang.."
"Oh.. ok. Aku hanya bertanya, kau tidak usah mengerasi diri seperti itu. Lalu apakah pekerjaan kau di bumi?"
"Apa kamu pernah ke bumi?" Tanya manusia.
"Tidak. Bumi ada di dalam tubuhku, aku tidak bisa mengunjunginya. Melihat bumi berarti melanggar jam Semesta dan takdir. Aku hanya bisa memperhatikannya saja. Tuhan memberikan kotak permainannya."
"Pekerjaanku di bumi.. hanyalah.. bekerja di badan antariksa. Mengerjakan suatu misi."
"Misi apa?"
"Misi menerbangkan pesawat kesini, misi menerbarkan benih kehidupan di planet, misi menjadikan sebuah bumi baru di planet, menjadikan planet merah itu sebagai bumi kedua."
"Untuk apa?"
"Agar ketika kiamat datang dan menghancurkan bumi, kami bisa pindah ke Mars."
"Apa? Kau mau mencoba menghindar dari Kiamat dan tinggal di luar Bumi?"
"Ya.. kira-kira begitu."
"Ah.. sekarang aku mengerti."
"Apa? Apa yang kau mengerti??"
"Kamu mau tahu alasan kamu ditangkap?"
"Apa?"
"Itu adalah jawabannya! Pekerjaanmu adalah jawabannya!"
"Pekerjaanku tidak menghancurkan Bimasakti kan?"
"Tapi kau menghancurkan jam Semesta dan takdir Tuhan! Tuhan sudah menyediakan tempat hidup, hanya di bumi. Dan manusia tidak bisa menghindari kiamat."
"Tapi dengan teknologi, kami bisa."
"Apa kamu bisa memprediksi datangnya Kiamat? Beri tahu aku, kapan?"
Manusia itu hanya diam. Raya tahu, manusia tidak akan pernah tahu. Tuhan tidak akan memberitahukan kapan Kiamat harus diutus dan Kiamat sendiri pun tidak tahu.
"Itulah kesalahanmu. Kau lebih sombong dari Tuhan. Kau merasa bisa mengalahkan Tuhan. Itu tidak sesuai dengan aturan Semesta dan Bimasakti. Disini, Tuhan adalah segalanya. Ia mengaturnya dan kami mematuhinya. Kau, manusia bumi, tidak seperti kami. Kau tidak mematuhi, kamu inginnya mengatur.. bukan diatur. Manusia.. merasa seperti Tuhan daripada Tuhannya itu sendiri."
Manusia pikir makhluk cantik ini bisa menjadi akses untuk keluar dari planet ini. Tapi ia salah. Ia terlalu banyak menduga. Tapi ia salah.
"Pantas saja kau disini. Kamu memang pantas."
Raya tidak mau berada seruangan dengan manusia yang paling jahat di Bimasakti. Ia cepat-cepat keluar, diikuti Pasukan Merkuri. Bagaimana, tanya Pasukan Merkuri. Ia pantas berada di sini dan jangan biarkan ia pergi, jawab Raya.
"Tunggu! Hey.. tunggu! Ini bukan salahku!"

Raya enggan menengok. Ia berjalan lurus menuju pintu. Raya menyesal datang ke luar galaksi dan menemui narapidana. Ia menyesal mengenal kejahatan manusia. Manusia adalah badan subjek. Ia hanya berupa daging misterius sebab daging ini tidak hanya bisa dilihat, tetapi juga bisa melihat. Bisa meraba dan diraba, bisa bergerak dan digerakkan. Badan itu meminjamkan diri kepada alam yang salah. Bukan alam tweeledeedom piepelepiep yang indah dan terang benderang dan penuh cinta. Ia menjadi jahat, licik, dan tidak pernah puas. Segalanya adalah ilusi dan emosi. Tidak bisa dibius dan sulit untuk dipadamkan. Ah.. Raya berharap tidak pernah ada sifat manusia di Bimasaktinya. Jika Bimasakti marah, ia akan menjadi samudera dan seluruh manusia akan takut tenggelam di dalamnya.

[Mau mengenal Raya sebelumnya? Silahkan klik http://bimasakti.wordpress.com/ Sedikit panjang :) Lagi berimajinasi bersama Raya. Semoga berkenan! :)]

Comments

Maya said…
Tentang tulisan saya, sebenarnya yg bilang 'Saya positif' itu Dha. Kinda twisting yah? Maklum amatiran. Tulisannya bagus, seperti biasa. Btw, boleh nge-Link blognya?
Thanks....
Anonymous said…
opkros boleh di link :)

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pasang IUD di Puskesmas

Hi, Mucocele