Tentang Nina

by - May 14, 2007

“Bagaimana kamu memutuskan suatu keputusan?” tanya saya kepada Nina.
“Hmmm.. saya mendengarkan apa kata orang tua saya.”
“Sebagai nasihat atau karena takut dianggap tidak menghargai orang tua?”
“Hmm.. sepertinya karena takut dianggap tidak menghargai orang tua.”
“Memangnya, pada akhirnya, jika keputusan kamu dalam memilih itu tidak sesuai dengan minat kamu dan kamu tidak berhasil di dalamnya, siapa yang disalahkan?”
“Saya sendiri.”
“Pada akhirnya kamu bertanggung jawab pada diri kamu sendiri, kan?”
“Iya, saya bertanggung jawab pada diri saya.”
“Yang punya otonomi terhadap diri kamu yaitu kamu sendiri, kan?”
“Iya, saya yang punya otonomi terhadap diri saya sendiri.”

Setelah lulus SMA, Nina dihadapkan dengan beberapa pilihan. Menikah, bekerja atau kuliah? Orang tua Nina lebih memilih Nina untuk menikah padahal Nina ingin kuliah seperti teman-temannya. “Untuk meringankan beban orang tua,” kata orang tuanya. Mungkin memang benar, tetapi orang tua Nina hidup di era yang berbeda. Dulu, pendidikan bagi perempuan tidak dianggap penting, yang penting perempuan bisa mengurus rumah dan berada di dapur. Tapi sekarang berbeda, selain urusan dapur, perempuan juga harus mempunyai pendidikan dan keahlian. Seperti yang dikatakan Kartini di Surat-Surat Kartini, tujuan perempuan diberi pendidikan adalah untuk mendidik keturunannya sebagai penerus bangsa. Dan perempuan tidak bisa seterusnya bergantung pada orang lain, kan?
Nina menyesal mengapa ia tidak kuliah, ia merasa terbeban karena tidak bisa mengeluarkan potensi dan ilmunya. Ia menyadari ia melakukan kesalahan. Kesalahan pertama adalah ia menjadikan nasihat orang lain sebagai alasan untuk mengarahkannya kepada keputusan akhir, bukan sebagai masukan. Nina lupa bahwa ia mempunyai hak untuk berpikir dan mengemukakan pendapat. Nina lupa bahwa yang menjalani kehidupan ini adalah dirinya, bukan orang tuanya. Nina juga lupa bahwa ia sudah dewasa dan sebagai manusia dewasa artinya ia mempunyai tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Kesalahan Nina yang kedua adalah Nina lupa memikirkan akibat positif dan negatif dari pilihan-pilihan yang dihadapinya. Nina terlalu terburu-buru mengambil keputusan karena faktor takut tidak menghargai pendapat orang lain. Semua pilihan, walaupun itu benar, pasti ada sesuatu yang dikorbankan. Mengorbankan sesuatu untuk saat ini tetapi akan mendapatkan hasil yang lebih besar di masa depan, mengapa tidak? Misalnya Nina memilih untuk bekerja. Sisi positifnya, Nina akan mendapat penghasilan dan bisa membiayai hidupnya sendiri. Sisi negatifnya, Nina tidak kuliah dan tidak mendapatkan pendidikan. Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa pendidikan itu tidak menghasilkan uang. Tapi, ketika seseorang telah berhasil dalam pendidikannya, ia akan menikmati hasilnya lebih besar.
Kesalahan berikutnya adalah Nina menjadi orang yang tergantung dengan keputusan orang lain yang menurutnya berpengalaman. Menurutnya, orang yang berpengalaman itu selalu benar sehingga Nina takut membuat kesalahan. Padahal, tanpa kesalahan, kita tidak pernah tahu apa kekurangan kita sehingga kita dapat berbuat salah, kan? Lalu bagaimana caranya kita sukses pada pilihan-pilihan hidup yang bahkan kita tidak tahu apakah keputusan kita itu benar atau salah? Kalau kamu bersikeras untuk memilih kehidupan yang lebih sukses, maka tanggung jawab yang harus kamu laksanakan berikutnya adalah giat bekerja. Sejarah lebih banyak membeberkan fakta bahwa upaya yang bersungguh-sungguh selalu mewarnai dinamika kehidupan mayoritas orang-orang sukses di dunia ini. Bila kamu berkomitmen untuk bekerja keras berarti kamu sudah memastikan pada pilihan kehidupan yang lebih sukses.
Dengarkan apa kata orang lain sebagai masukkan tetapi keputusan akhir ada pada kamu. Jangan pernah takut salah, jangan pernah takut gagal. Kenali bakat, minat dan kemampuan kamu yang sesuai dengan pilihan-pilihan hidup kamu.Sekali lagi, agar kita tidak lupa seperti Nina. Hakekat berhasil atau tidaknya ada pada pilihan kita sendiri, bukan orang lain. Seperti yang pernah dikutip oleh Dwight D. Eisenhower. “The history of free men is never written by chance but by choice, their choice. - Sejarah seorang manusia yang merdeka tidak pernah tercipta secara kebetulan, melainkan tercipta karena pilihan mereka sendiri.”

You May Also Like

0 comments

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.