Ibu Kedua?

“Selamat siang, tante.”
“Siang. Duduk, dek!”
“Terima kasih, tante.”
“Sudah berapa lama pacaran dengan Bayu?”
“Tiga tahun, tante.”
“Oh.. kenapa baru sekarang kesini?”
“Soalnya Bayu baru sekarang ngajak saya kesini, tante.”
“Oh.. jadi harus diajak dulu yah?”
“Ya.. ngga juga sih, tante.”
“Asli mana?”
“Ibu saya Tionghoa, bapak saya Sunda, tante.”
“Oh.. gitu. Saya kira kamu orang Jawa, habis kulitnya hitam.”
“Iya, tante.”
“Kalau dari Sunda itu jarang ada garis ningrat dong ya?”
“Setahu saya, keluarga saya tidak punya garis ningrat.”
“Nama anak saya sih Raden Bayu Setyoaji. Ya.. kamu tahu sendiri lah. Saya tuh sudah mati-matian menjaga perilaku Bayu agar sesuai namanya, agar melestarikan garis ningrat kita. Tapi kamu tahu sendiri perilaku dia seperti anak muda zaman sekarang. Terus bapak kamu kerjanya apa?”
“Editor di salah satu koran lokal.”
“Oh.. masih koran lokal ya..”
“Iya.”
“Ibu kamu kerjanya apa?”
“Ibu saya pelukis.”
“Oh ya itu sih lumayan kalau ada pesanan saja. Kalo ndak ada pesanan ya kosong toh?”
“Mungkin.”
“Lha?? Kok mungkin. Ya iya donk!”
“Iya, tante.”
“Punya adik atau kakak?”
“Saya anak bungsu, tante.”
“Ooo... Tapi tante sudah nyaman dengan anak sulung, dek. Biasanya anak sulung itu lebih bisa ngemong dan mandiri gitu.”
“Iya..”
“Kuliah dimana?”
“Unpar.”
“Oh. Swasta ya?”
“Iya.”
“Beruntung anak saya kuliah di ITB tuh. Anak saya yang lain kuliah di Maranatha, biayanya itu mahal sekali. Tapi kita sih ndak mentingin harga, yang penting dia bisa sukses. Maranatha itu swasta yang paling bagus di Bandung ya?”
“Aduh, saya kurang tahu, tante.”
“Lho, orang Bandung kok ndak tau. Wah.. susah ini. Saya saja yang baru tinggal beberapa bulan disini sudah tahu.”
“Soalnya ayah saya kerja di koran lokal, bukan di Dinas Pendidikan, tante. Jadi saya ngga tahu.”
“Ah, kamu ini bisa saja. Tapi susah juga ya, bapak kamu kerja di koran lokal, ibu kamu pelukis dan kamu kuliah di universitas swasta. Kakak kamu sudah menikah?”
“Belum, tante. Sedang nyusun skripsi.”
“Oalaaah.. ya susah itu!”
“Kebetulan saya kuliah sambil kerja, tante. Kebetulan saya kuliah di hukum dan saya kerja di biro hukum dosen saya.”
“Belum lulus kok sudah bisa kerja di biro hukum?”
“Dosen saya bilang dia sudah ingin memperkerjakan saya sebelum saya diambil orang lain. Katanya kalau saya sudah lulus, saya akan dikuliahkan di luar negeri. Bironya cukup besar dan terkenal di Bandung, tante. Jadi mungkin beliau butuh tenaga tambahan.”
“Ohhhhh.. ya hebat itu!”
“Ya alhamdulillah, tante. Saya bisa bantu meringankan beban orang tua saya.”
“Kalau bekerja di biro hukum, gajinya lumayan!”
“Begitulah, tante.”
“Tapi ya.. setelah saya pikir-pikir.. mau anak sulung atau bungsu itu kan relatif toh? Yang sulung itu belum tentu mandiri toh? Lagipula garis ningrat itu hanya sejarah, yang penting bagaimana kita kedepannya. Betul, dek? Ya sudah, kamu sudah makan? Makan di sini saja sama tante ya?”
[Hoahm.. cape dewh! :D]

Comments

Raffaell said…
wahahaha.... cara pandang orang dulu ya.
za said…
kwakkakaakakk....udah, mending cari ibu mertua yang lain ajaaaaa......>:)
JayuZ said…
masi jaman ngeliat dari status ekonomi, tempat kuliah atopun garis keturunan? damn...so much hate those guys... :(
mynameisnia said…
Mencari ibu kedua tidak semudah itu ternyata...

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas