Diary Travel Insya Allah Selamat

Hello. Good afternoon ladies and gentleman. Selamat datang di Penerbangan Insya Allah Selamat bersama saya, Nia, guide yang akan menemani Anda selama anda selamat dan akan menjelaskan apa yang ada di Bali berdasarkan perspektif sendiri.

Perjalanan pertama kita akan ke GWK.


Rencana pertama GWK adalah membangun sebuah patung yang akan duduk diatas burung Garuda. Patung ini dibuat oleh Pak Nyoman Nuarta, seorang pematung kontemporer, yang biasa dipanggil Komeng oleh kerabat dekatnya yaitu kakak saya sendiri. Rumah Pak Nyoman berada di Setraduta, Bandung, yang perkebunannya ditata mirip seperti halaman GWK ini. FYI, Adjie Pangestu menikah disana. Kebetulan teman saya rumahnya di Setraduta. Tadinya saya mau menginap dan menelusup untuk makan malam gratis di kawinan Adjie Pangestu. But, who cares? :D

Diperkirakan jika bangunan ini jadi, tingginya akan melebihi Patung Liberty. Bayangkan jika Indonesia (atau khususnya Bali) mempunyai patung tertinggi di dunia! Tapi karena krisis moneter yang membuat harganya melambung tiga dan empat kali lipat, patung ini tidak diselesaikan. Jadi, patungnya hanya diselesaikan sampai pinggang. Untungnya dadanya bidang. Coba kalau dada dan perutnya dijadikan simbol orang Indonesia yang tidak pernah olah raga yaitu ONE BIG PACK!

Bisa dibayangkan, dadanya saja sebesar ini. Apalagi yang lain :P
Ini adalah burung Garudanya. Bahkan dada sang Garuda pun tidak terselesaikan (ada apa sih dengan dada? Kok kayaknya dibahas terus). Poor Garuda.. :(

Semula ini gunung kapur. Tapi dibelah-belah kayak labirin besar gitu. Membelah gunung kapur? Awsome!

Sekarang kita berada di Uluwatu. Di pura ini, banyak sekali kera. Warningnya adalah sbb:
1. Tidak memakai kacamata
2. Tidak memakai topi
3. Tidak memakai ikat rambut
4. Tidak memakai sesuatu yang berkilau seperti anting perak gantung

Beware! Jelek-jelek begini tahu barang mahal. Pokoknya bukan hal yang aneh jika ada turis yang sibuk mengejar kera atau sibuk melempar batu karena kacamatanya diambil. FYI, saya banyak sekali menemukan turis dari Taiwan dan daerah pecinan lainnya. Katanya sekarang sedang giat-giatnya turis dari daerah sana. Guide lain sibuk menggunakan bahasa yang hanya bisa dimengerti orang yang tidak berdosa: bahasa mandarin.


Dibawah kita, yang jika kita lihat sepanjang mata memandang, adalah Samudra Hindia. Ombaknya dipecah oleh karang yang ada di bawah. Dan FYI lagi, saya paling benci dengan laut dan samudra :(


The most famous Uluwatu! Sebuah pura yang berada di ujung tebing tinggi, menghadap Hindia!


Ternyata Darwin memang benar. Hail Darwin! 8-)

Sekarang kita berada di Jalan Legian, tempat dimana bom Bali I terjadi. Sebelumnya saya sudah ke Jimbaran, tempat bom Bali II meledak. Ternyata di Jimbaran ada laundry teman saya tapi saya tidak melihat. Mungkin karena saya tidur di mobil. Anyway, disana pantainya khusus untuk nelayan, bukan untuk turis.

Balik lagi ke Legian. Katanya, semenjak kejadian bom itu, banyak kejadian-kejadian aneh di dekat sana. Seperti motor yang nyala sendiri dan lainnya. Suara tangis sudah bukan hal yang aneh. Saya pikir hanya orang Indonesia saja yang bisa mati penasaran, ternyata bule juga.

Ngomong-ngomong tentang cafe Legian itu, rupanya itu cafe khusus untuk turis mancanegara. Kalau orang dalam negeri seperti kita dilarang masuk. Sampai sekarang belum ada bangunan baru yang dibuat diatas tanah kosong itu. Dan lubang tempat bomnya masih terlihat.


Istirahat sebentar di Hard Rock Kuta Bali. Saya tidak suka kopi, jadi kita ambil jalan tengahnya saja.. capuccino.


Pagi ini kita ke Kuta untuk melihat refleksi diri sendiri. Jangan berharap bisa lihat sunrise di Kuta. Karena dari semua pantai di Bali, sunrise hanya terjadi di Sanur. Saya sarankan untuk tidak menyewa hotel dan berjemur di Sanur. Rasanya seperti di Pangandaran :( :(


Sebelum melanjutkan perjalanan, kita istirahat sebentar di Tapak Siring. Dibawah sana terdapat sebuah tanah pemakaman. Konon katanya mayat yang disimpan disana tidak mengeluarkan bau busuk. Mereka percaya dengan dewa yang melindungi atau kekuatan magis. Tapi mungkin ada unsur tanah tertentu yang menyebabkan mayat menjadi tidak berbau. Disebelah kanan pegunungan, terdapat danau yang cukup dalam. Namun kita tidak akan kesana karena penduduk disana, yang berpendidikan rendah, tidak bisa dilatih.

Misalnya begini:
Kalau kita naik perahu untuk menyebrangi sisi danau lainnya, si penduduk akan meminta uang lebih dari perjanjian awal. Kalau tidak diberi, ya tidak diantarkan.


Begini cara mereka berdoa.


Baiklah, sekian perjalanan kita kali ini. Semoga Anda menikmati perjalanan dengan penerbangan dan travel Insya Allah Selamat. Bali begitu terasa kekuatan magisnya. Mereka tidak berlomba-lomba untuk menjadi modern. Tidak ada gedung menjulang tinggi dengan arsitektur ala luar negeri. Mereka mempertahankan budayanya. Mereka begitu berdedikasi dengan alam dan religi. Tidak heran kenapa waktu itu pelaku bom Bali ditemukan cepat sekali :)

Have a nice holiday!
Regrads from your lovely guide,

[Sebenernya masih banyak di digicam dan handycam, tapi kayaknya narsis banget deh :P]

Comments

orangcurhat said…
ah jadi ingin berlibur ke bali lagi..
bali oh bali...
Raffaell said…
hahaha, keren ya bali, sayang belum pernah kesana... pengen deh
aLe said…
wah, aLe cm bs ngiler neh liat foto2 nya. :(( pengennn,,,,
vendy said…
ga ada black tea ? :))

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas