Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

She-male

Dalam rangka melakukan self therapy cacat psikologis akibat kritik dosen mengenai proposal penelitian, saya memutuskan untuk mengobservasi keponakan laki-laki saya yang lagi puber.
Perlu digaris bawahi: Ternyata puber itu menyebalkan.
Keponakan saya ini kelas 3 SMP. Sifat pemarah, mudah tersinggung, pemberontak, susah diatur, dan ciri khas remaja mencari identitas sudah kelihatan dari satu tahun yang lalu. Dan tahun ini ia mulai meributkan penampilannya.
Semuanya dimulai dari musik. Dia mulai suka musik berisik dari yang masih bisa di dengar sampai yang tidak bisa di dengar sama sekali. Beruntung dulu tantenya pernah pacaran sama anak band cadas jadi si ponakan tidak get lost sama orang tuanya sendiri yang selalu mencekokkan jazz. Hihi.
1. Hal aneh pertama: Dia mulai tidak menyisir rambutnya. Mau sehabis keramas sampai bangun tidur, ia tidak mau menyisir rambutnya. Katanya orang yang rambutnya disisir rapi itu cupu alias culun punya.
2. Hal aneh kedua: Dia minta dianterin ke salon.
"Nia, anterin aku ke salon dong."
"Hah? Buat apaan??"
"Aku pengen dipotong EMO getoh."
"Gak usah EMO lah, basi."
"Apaan dong? Mulet? Mohawk? Jepun punya?"
"Ramires aja."
"Apaan tuh?"
"Rambut miring tidak beres."
Dan akhirnya ia memotong rambutnya dan kekeuh tidak disisir.
3. Dia minta dianterin ke distro. Dia menghabiskan uang 800k dalam sehari hanya untuk beli segala sesuatu tentang band dari baju sampai tas.
4. Segala sesuatu harus sama dengan frame pemikirannya. Segala sesuatu harus setingkat dengan parameter apakah seseorang itu worth it untuk dijadikan teman atau tidak. Jika tidak setingkat, dia akan bilang, "Ih.. autis."
Ngomong-ngomong tentang autis, saya pernah berantem sama dia karena dia bilang autis seenaknya ke orang lain.
Saya bilang, "Emangnya autis itu apa?"
"Ya.. autis itu kan artinya dia punya dunianya sendiri. Ya gitu lah."
"Kamu ngga boleh seenaknya bilang orang lain itu autis. Kamu tahu apa tentang autis? Belajar psikologi juga kagak!"
Entahlah, saya yang belajar psikologi, kok dia yang bisa dengan bebasnya men-judge seseorang autis?
5. Last but not least, kemarin ini sesuatu mengerikan terjadi.
"Halo? Nia, dimana?"
"Kebon bintang. Kenapa?"
"Ntar ke mall gak?"
"Iya. Mau nitip apa?"
"Beliin eye shadow dong."
"Woooooooottt???"
"Iya, beliin yang item yah."
Screw me. Apa saya tidak salah dengar bahwa keponakan laki-laki saya minta dibelikan eye shadow? Ini EYE SHADOW sodara-sodara!
Dan malam harinya ia ke kamar saya kemudian mencoba mengoleskan eye shadow hitamnya. Antara setuju dan takut kalau suatu hari ia akan jadi she-male (laki-laki keperempuanan), saya membantu dia mengoleskan eye shadow di atas matanya. Dan pagi harinya saya kaget melihat dia matanya hitam-hitam karena lupa dicuci, "Kamu abis digebukin dimana?"
Secara teori sih memang anak umur segitu sedang mencari identitas dirinya. Mencari teman sekelompok yang mempunyai hobi yang sama dan rela melakukan apa saja agar diterima di kelompoknya. Saya sih membebaskan saja keponakan saya bergaya apapun karena saya pikir ya biarlah ia mengeksplor apa yang ia suka - walaupun untuk terlihat gaya - ia tidak menyisir rambutnya.
Semua orang melalui fase itu, kita juga. Mungkin kita pernah sadar bahwa dulu kita stubborn sekali, apalagi sama orang tua. Kita lebih mendengarkan teman daripada keluarga. Kita akan merasa gaya jika mengikuti trend. Rasanya sudah bisa mandiri padahal tidak bisa menghasilkan uang sama sekali.
Dalam kasus keponakan saya, suatu saat mungkin ia akan sadar bahwa penampilan tidak menentukan seseorang culun atau popular. Mungkin ia akan sadar ketika ia melihat fotonya waktu SMP, ia aneh sekali. Coba sekarang kita buka album lama dan lihat foto kita semasa sekolah. Ada yang poninya berjambul ala Lupus, ada yang memakai kacamata besar, ada yang memakai ikat pinggang warna warni, ada yang bajunya di-double dan gombrang abis, dan lainnya.
Culun sih tapi waktu itu gaya sekali ;)

Comments

  1. Anonymous1:58 PM

    pencarian jati diri toh ? masih untung cmn eye shadow. kalo rok macam penyanyi Culture Club *ngakak*

    ReplyDelete
  2. beuhh... adek gw bgt tuh. maunya pake baju distro. klo baju di matahari ato yg lain ga mau. maunya distro sama point break.
    gengsinya gede bgt. pleiboi abis. ga mau pake henpon yg ga ada kameranya...padahal masih 3 SMP gitu. pengennya ke pensi mulu. ga mau diperlakuin kayak anak kecil tapi tingkahnya kekanak-kanakan....

    duh, gw ampe bingung... dulu gw waktu SM kaya gini ga seH???

    ReplyDelete
  3. kok ga bisa comment di shoutbox lagi?

    ReplyDelete
  4. iya, ternyata error.

    ya uwis lah.. biar orang langsung comment di postingannya aja. ehehe.

    ReplyDelete
  5. bagus blognya, saya link ke blog saya ya?
    Salam kenal.

    ReplyDelete
  6. sudah saya link balik

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba