Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Kemarin saya nonton filmnya Djenar Maesa Ayu yang judulnya Mereka Bilang, Saya Monyet! Ada yang sudah nonton?
Saya nontonnya di Blitzmegaplex. Tahu dong segimana gedenya itu bioskop? Nah, pas saya masuk, kok engga ada orang. Beberapa lama kemudian ada perempuan dateng dan duduk beberapa baris di depan saya. Untungnya kakinya napak dan tidak tertawa mengikik sambil melihat saya dengan mata penuh darah. Dia normal dan sehat walafiat. Dan ketika hampir mulai, ada tiga orang anak sma yang datang. Jadi, total dari keseluruhan kursi yang berjumlah ratusan, isinya cuman lima.
Seperti yang kita tahu, Djenar ini penulis yang blak-blakan dalam menulis mengenai seksualitas. Oleh karena itu, ini film dikategorikan film untuk dewasa karena mengandung seks, alkohol, dan rokok. Tapi film ini lebih mending dibandingkan 3 Hari Untuk Selamanya.
Djenar bekerja sama dengan Indra Herlambang. Sebelumnya saya tidak mengira Indra Herlambang bisa menulis. Tapi ketika membaca buku Rahasia Bulan, he's a great writer though. Mengenai filmnya sendiri, ini film kelam banget. Filmnya bercerita tentang anak yang mempunyai orang tua yang sama-sama selingkuh, kemudian ketika ia sudah besar jadi selingkuhan orang lain. Pas nonton filmnya, saya jadi mikir, ada toh kehidupan yang seperti itu? Maksudnya, memangnya socialite Jakarta hidupnya sebebas itu? Ternyata Jakarta sudah semaju itu ya? Maaf kalau saya naif, soalnya saya terbiasa dimanjakan oleh cerita kaum marginal dan menonton berita nasional mengenai nasib orang-orang miskin :D
Cuman kalau kata saya, ceritanya rada ngambang dan belum selesai. Bener juga kata si tokoh dalam film itu, "Terkadang ada beberapa masalah yang ngga perlu diselesaikan." Dan cerita pun tidak selesai.
Sedikit informasi, waktu itu saya diceritakan editor saya. Katanya ia bertemu dengan seorang sastrawan. Sastrawan itu suka sekali karyanya Dewi Lestari, Cala Ibi, dan Djenar. Ketika ia bercerita tentang Dee, ia menunjuk kepalanya. Ketika ia bercerita tentang Cala Ibi, ia menunjuk hatinya. Ketika ia bercerita tentang Djenar, ia menunjuk bagian bawah badannya. Saya jadi mikir, apa ya yang ada dipikiran Djenar Maesa Ayu ketika ia menulis? Bukan karena jelek, tapi karena menurut saya bagus banget karena ia bisa mengubah sesuatu hal yang penuh nafsu dan gairah menjadi pahit dan tragis, bukan porno ala Moammar Emka. Apa itu kisah nyata? Kalau iya, pasti tersiksa banget mengingat kejadian-kejadian traumatis yang membekas di hati. Setahu saya, penulis itu pasti menyelipkan sedikit bagian dari dirinya entah itu pengalaman pribadinya atau sub personality-nya kepada sebuah cerita. Ibarat anak yang mewarisi sifat-sifat orang tuanya.
By the way, ngomong-ngomong tentang Moammar Emka. Waktu itu saya ke pameran buku di Landmark sama saudara saya. Saudara saya nunjuk Jakarta Undercover dan bilang keras-keras, "Moammar Emka itu siapa sih?? Kok bukunya gitu?" Gak ada angin, ngga ada kentut, ada Moammar Emka berdiri dibelakangnya. Oo.. kamu ketahuan. Susah punya sodara yang bawa-bawa amplifier.
Pembaca boleh lho menjawab pertanyaan mengenai kehidupan Jakarta. Bagi yang belum dan menyukai dunia tulis menulis, mending tonton film ini deh. Tapi kalau niatnya ingin mencari hiburan, sebaiknya jangan. Karena saya sendiri setelah keluar dari bioskop merasa gamang, tidak bahagia, dan sendirian.

Comments

  1. Anonymous9:03 AM

    dan gw ga ngeliat ini di blitz megaplex jakarta . . . oh nasib . . .

    ReplyDelete
  2. Anonymous1:42 PM

    yang gw heran,hampir semua penulis wanita kita selalu menulis tentang kepahitan,apa karena kaum kita adalah kaum yang selalu akrab dengan paitnya hidup?
    btw,3 hari untuk selamanya belum nonton,ini juga entah kapan bisa nonton..huhuhu

    ReplyDelete
  3. @stey: bisa jadi kayak gitu..

    Karena pada kenyataanya, (kebanyakan) perempuanlah korban kekerasan dan pelecehan seksual. Perempuan banyak yang diperkosa, sedangkan laki2? Laki2 diperkosa kok kayaknya aneh aja :D :D :D

    Tapi film ini ada yang kurang: pemeran utamanya.

    Dia kurang bisa mengeksplor kompleksitas si tokohnya. Selain itu, kurang juga ditampilkan dinamika psikologis anak yang dibawah bayang2 otoritas ibu, tiba2 tumbuh sebagai orang yang bebas dan labil.

    Herman.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba