Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Cahaya

Jika diperhatikan ilustrasi taman yang saya buat (maaf kalau gambarnya jelek - karena saya tidak bisa menggambar - sehingga menimbulkan kesan hari kiamat), sebenarnya langit malam itu tidak gelap-gelap amat. Jika kita perhatikan di luar sana, langit malam berwarna biru tua (setua warna laut tetapi terkesan ringan). Yang gelap itu adalah benda-benda yang ada di bawahnya.

Manusia menyiasati malam dengan cahaya lampu kota yang hingar bingar. Tanpa mereka sadari, mereka merusak pergerakan semesta. Selain polusi cahaya, cahaya membuat bingung burung-burung yang terbang rendah sehingga banyak yang berputar-putar dan mati karena kelelahan atau mati tertabrak gedung yang bertingkat. Burung menentukan arah dengan cahaya bulan dan spektrum warna warni cahaya kota menghancurkannya.

Jadi, wahai pembaca, jika ada yang bertanya, "Kok Bandung sekarang gelap sih? Dulu terang benderang layaknya Paris Van Java?", jawablah dengan bangga, "Kita sedang menyelamatkan para burung!"

Lagipula, bukanlah alam semesta lebih indah dinikmati apa adanya?

Comments

  1. Anonymous5:39 PM

    bahan dari sidang para hantu yah? :p

    ReplyDelete
  2. Haha, enggak ven. Bahkan gue tidak mengikuti topik diskusi itu. He..

    ReplyDelete
  3. Anonymous1:53 PM

    apaan tuh sidang para hantu?

    tp gue baru tahu kalo cahaya lampu bisa mengganggu burung...

    ReplyDelete
  4. Iya, coba cek National Geographic Magazine bulan ini (kalo gak salah).

    Itu.. blog tetangga. Biasalah, ghost anonymous. Wkwkwkw.

    ReplyDelete
  5. yeah, HAIL NATIONAL GEOGRAPHIC!!! =D

    ReplyDelete
  6. Tentu, harganya mahal gitu. Keterlaluan kalo gak bagus. Wkwkwkw.

    ReplyDelete
  7. gambarnya wakju jaman jepang ya ? apa majapahit ?? mahal dunk ?

    ReplyDelete
  8. mahal apanya? gak ngerti,,

    ReplyDelete
  9. apa yang kuwariskan pada anak-anakku nanti???

    whahahahaha...
    berlebihan sekali

    ReplyDelete
  10. Anonymous8:48 AM

    Wah..memulai menyelamatkan bumi dari yg kecil seperti membiarkan burung bisa terbang dengan bebasnya..KEWL!!

    ReplyDelete
  11. sedih memang, Bandung sekarang udah terkontaminasi cahaya lampu kota, dan Boscha menjadi korbannya, selain burung..

    ReplyDelete
  12. Betul!! Boscha pun jadi korbannya.

    Tapi... seumur2 gue belom pernah ke Boscha :D

    ReplyDelete
  13. menyelamatkan para burung ya? wah aku dukung deh! salam kenal :)

    ReplyDelete
  14. Hei, Enno. Salam kenal juga!

    ReplyDelete
  15. Anonymous4:00 PM

    wah bagus tuh infonya

    ReplyDelete
  16. lha, tapikannanti pejalan kaki banyak yang nabrak pohon gara2 lampu padam!

    (berusaha melawan arus :p)

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba