28 December 2008



Kemarin, walaupun dengan sedikit traumatis melihat air, saya menonton ulang Titanic. Disana Rose Dawson berkata bahwa hati wanita adalah lautan yang menyimpan banyak rahasia. Mungkin itu benar.

Pada suatu hari, saya menemukan sebuah nama di buku pengajiannya ibu. Irdan, tulisnya. Saya bertanya pada ibu siapakah Irdan karena saya tidak kenal nama itu, ibu tidak menjawab. Aksi tidak menjawab itu seumur hidupnya membuat ia sebagai orang yang paling saya tidak kenal. Ibu adalah tipe orang yang susah digali, tipe yang menutup pintu rapat-rapat, yang mengunci semua pengalaman hidupnya dalam sebuah peti kayu yang kuncinya ia lemparkan entah kemana. Saya tidak tahu ia pernah pacaran berapa kali, apakah ia pernah merasakan sakit hati, atau pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang pernah di alami sebelumnya. Setelah kelahiran saya, sepertinya ibu menutup buku dan memulai yang baru. Ibu selalu bercerita kejadian-kejadian yang pernah kita alami bersama, bukan kejadian-kejadian yang di masa lalu.

Saya terus bertanya kepada ibu siapa Irdan ini. Ibu hanya menjawab, "Ah, sudah lama." Saya tidak percaya kata-kata ibu. Sudah lama yang ibu maksud adalah sudah lama sebelum kelahiran saya. Tapi yang saya tahu, buku pengajian itu baru dibuat ketika saya duduk di bangku SMA. Artinya, ibu menulis nama itu dan setidaknya mengingat nama itu sampai saya SMA.

Saya bertanya kepada ibu, "Emangnya siapa? Ibu suka ya?"
Ibu menjawab, "Sudah lama kok."
"Ganteng enggak?"
Ibu menjawab sambil terkekeh, "Dia orang Jawa. Waktu itu ketemu pas di Jakarta."
"Di UI?"
"Enggak, pas di kereta. Waktu itu ibu mau ke Grogol."
"Dia mau kemana?"
Ibu menjawab tak acuh, "Enggak tahu mau kemana."
"Jadi ketemu di kereta terus enggak ketemu lagi sampai sekarang?"
"Iya."
"Ibu suka?"
"Sudah lama kok."

Ngomong sama ibu saya sedikit susah. Saya bertanya apa, ia menjawab apa. Oleh karena itu, untuk memancing ibu, ketika ia menjawab apa, saya bertanya apa. Pasti pertemuan singkat ibu sangat bermakna bagi ibu karena ia masih mengingat dan menuliskan namanya puluhan tahun kemudian.

Jika memang lautan ibu menyimpan banyak rahasia, pasti begitu dalam dan kaya, sehingga orang bisa tersesat di dalamnya.

Foto

13 comments

Kebanyakan laut kan dalem.Kategori dangkal juga,tetep bs bikin orang yang gak pinter renang kelelep.
Dalemnya Hati manusia sapa yg tau sih?
Mungkin ada yang terjebak di palung nya.Susah untuk keluar.Aduh,melow bgt ya.Hehehe
pa kabar bu?Si Tante damang?

REPLY

Kalo mamaku sih kayaknya gak bisa dibilang lautan terdalam, karena... qta berdua tuh 'bocor' abisss!
Tiap ada apa-apa cerita. Sekalinya enggak cerita pas aku kuliah di luar kota, itu karena beliau sakit, eh ternyata sakitnya barengan :)

REPLY

bener.. hati manusia siapa yang tau..
Kadang seornag Ibu menyimpan dan menumpuk beberapa rahasia dari anaknya.Mereka pasti punya alasan sendiri kenapa begitu.. Trus yang tau ibu kita adalah kita sendiri, jadi kmu pasti punya cara terbaik utk menyikapi ibumu. hehe..

REPLY

Yaa... begitulah memang seorang ibu... Tapi kadang2 suka miris juga yach kalo ngeliat ibu yg tega aborsiin anaknya.... Pikirannya ga sedalem lautan tuch...

REPLY
avatar
pryo wcksn - mencoba bertahan hidup di tengah resesi global

wahwahwah, nia yg dulu skrg tlah brubah jd writer ya ya ya...
hehe, niania! "ibu tetaplah ibu, kata yg paling indah untuk qta ucapkan adalah ibu..."

REPLY

ahhh hidup Ibu....

REPLY

hebat, bisa sebegitu nyimpen rahasia buat diri sendiri, salute!
tapi, kadang juga gw kaya gitu sih, ngerasa ga perlu semua orang tau apa yang gw rasain

REPLY

@pryo: udah insyaf ya? Hahhahaha.

Terima kasih untuk semua yang sudah komen! :D

REPLY

bagaimana dengan bapak? ah hati seorang bapak juga mungkin merupakan lautan yang sangat dalam hingga kita sulit melihat apa yang ada di dasarnya..

REPLY

bagus tulisanmu.... a friend recommended this blog.. and this is great!

REPLY

Thank you! Dateng lagi kesini ya! :)

REPLY

ibu itu yang terbaik.





tapi kadang kita terlambat menyadarinya..

REPLY

Biasa, orang menyadari kalau sosoknya udah gak ada.

REPLY

Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti. 2017 Copyright. All rights reserved.

Dilarang menyalin dan menggunakan konten website ini tanpa seizin penulis.

Designed by Blogger