Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Kegemaran ibu menonton televisi di sebelah komputer cukup menganggu saya yang akhir-akhir ini cukup sering berada di depan komputer karena banyak PR menulis. Bagaimana tidak, acara yang ditonton ibu adalah sinetron yang penuh adegan cinta yang terlalu manis (giung) hingga marah-marah layaknya kesurupan. Demi Tuhan, saya stres. Bukan karena ibu saya, tetapi karena muatan lokal yang sudah menjadi rahasia bersama tapi tidak ada aksi untuk menghentikan juga. Boikot bila perlu!

Titi Kamal sebagai TKW dengan tokoh-tokoh muka Jawa yang berbahasa Arab membuat saya terheran-heran. Kenapa ya Titi Kamal mau main sinteron seperti ini? Setelah itu muncul tokoh dengan bahasa Sunda kasar dan bahasa Jawa dengan logat Jakarta.

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Maaf jika tulisan ini sarkas. Tanpa mendeskritkan kemampuan kognitif seseorang, tapi saya jadi berpikir dimana logika si sutradara dan pembuat skenario cerita? Apakah realita hidup mereka sendiri layaknya sinetron yang mereka buat yang penuh adegan marah, perebutan harta, protagonis yang dijajah antagonis, atau romansa cinta yang membuat ingin dansa-dansa?

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya mau memberikan standing applause untuk beberapa stasiun televisi swasta yang sudah sukses meramaikan perkancahan dan kontribusi atas pembodohan bangsa sendiri. Selamat!

Comments

  1. the thing is, Nia, our society (well, most, excluding us) loves it.

    ReplyDelete
  2. Tapi, jika masyarakat kita suka, harus dicari tahu juga. Masyarakat kita ini suka karena memang suka (seleranya begitu) atau dibentuk media?

    ReplyDelete
  3. Hahaha ...

    Sinetron ini emang banyak bgt yg maki2 belakangan, Ni ...

    Kayaknya buat mereka logika emang udah nggak penting lagi, Ni. Mereka juga pasti tau kalo penontonnya sadar itu nggak masuk akal.

    Tapi jual sinetron kayak gini kayak jual makanan nggak sehat yg banyak pewarnanya. Orang tau itu nggak sehat, tapi dimakan juga ...

    ReplyDelete
  4. aish... kl udah ga bisa membedakan fakta sama mimpi, susah deh...

    udah lupa sama republik mimpi? :))

    ReplyDelete
  5. @Dea: Bener.. bener. Kayak rokok juga. Udah tahu itu gak sehat, masih diisep juga. Hehe.

    @vendy: Betul! Mungkin kebanyakan fakta yang ogah diterima, jadinya lari ke dunia mimpi terrooosss.

    ReplyDelete
  6. wah, kebanyakan nonton sinetron bisa menyebabkan neurosis akut dgn gangguan kepribadian. hilang kontak dgn realitas. bener ga, bu?
    hehe..
    sinetron indonesia sering hanya mengutamakan atribut. misalnya, karakter dokter tp kpn jadi dokternya? atau karakter kutubuku atau tomboy atau gay yg slalu digambarkan dgn cara dia berpakaian dll dsb.
    btw, titip surat buat indosiar dong. serial "house"-nya diputar di prime time doms. daripada nonton sinetron dubbing ga jelas gitu.
    indosiar mah payah. "felicity", "citizen kane", dan skarang "house" malah dipasang di dini hari.
    makanya stop nonton tv aja. permintaan kan bisa dibikin

    ReplyDelete
  7. Haha, gak tau deh zra kalo ada penelitian kayak gitu.

    Tambahan: karakter ibu psikolog di Cinta Fitri yang gak nyikolog banget. Haha.

    Titipan surat saya terima.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba