31 May 2009

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti pelatihan. Tema salah satu pelatihan adalah tentang piala kehidupan.

Dalam suatu sesi, kami diberikan permainan meniup balon. Semua orang diberi balon yang harus ditiup sampai ada aba-aba 'lepas', kami harus melepas balon itu dari pegangan kami sehingga balonnya meluncur kemana-mana. Di ujung ruangan ada sebuah dua buah piala. Target dari permainan ini adalah balon harus sampai pada piala tersebut.

Bagi yang belum menemukan strategi, balon akan terbang kemana-mana. Ada yang hanya maju sedikit, jalan di tempat karena balonnya pindah ke samping, bahkan ada yang mundur ke belakang. Ada perasaan kesal jika balon sulit dikendalikan, apalagi jika melihat teman-teman lain yang sudah mendekati piala. Tapi setelah tahu bagaimana strategi meniup balon, saya akhirnya menjadi orang kedua yang mendapatkan piala.

Pelatih bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya. Saya jawab tentu saya merasa senang. Jika balon mundur ke belakang, saya merasa cemas. Namun jika balon maju ke depan, saya semakin semangat meniupnya.

Pelatih mengikat makna dari permainan ini. Ia berkata bahwa dalam kehidupan, langkah-langkah orang memang tidak selalu ke depan. Terkadang orang harus mundur, jalan di tempat, melangkah terlalu kecil, atau memang melakukan langkah yang besar. Orang-orang yang ada disekeliling kita juga sama-sama berjuang untuk mendapatkan piala kehidupannya. Bisa jadi mereka adalah kompetitor kita. Cara meniup balon adalah bagaimana strategi kita untuk mendapatkan piala kehidupan yang kita mau.

Pelatih menekankan bahwa piala kehidupan orang itu berbeda-beda. Saya tertegun mendengarnya. Mungkin benar adanya karena melihat keberhasilan teman-teman saya seperti pulang pergi ke luar negeri, menjadi pembicara disana-sini, atau dapat beasiswa sekolah lagi, membuat saya merasa saya tidak melakukan langkah apa-apa. Padahal, jika dicermati darimana tempat saya berasal, saya pun melangkah! Hanya langkah saya belum mencapai langkah teman saya yang sudah jauh di depan.

Terkadang saya lupa bahwa setiap orang punya piala kehidupan masing-masing. Masih ada perasaan iri dan kesal terhadap diri sendiri mengapa saya tidak berhasil seperti mereka. Bahkan saya ingin menukar piala saya dengan miliknya. Tapi bagaimana saya bisa menukar piala saya jika sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin saya capai di kehidupan saya?

Saya harus sering-sering diingatkan, sepertinya.

11 comments

hmmm...
you reap what you sow?
atau the amazing race in life?

REPLY

Koq sama?
;D

Iri; Komparasi.
Juga, bingung; nisbi.
Kak Nia, mungkin sesekali kita harus berbagi cela, saling menertawakan dosa, dan -jikapun mau- merenunginya.

REPLY

wah, postingan yang penuh perenungan. bikin gue tambah semangat.
gue jg sering sedih dan iri melihat temen2 gue yang udah jadi illustrator atau designer sukses... mungkin memang karena belon gue aja kali yang belum ditiup ke arah yang tepat :)

REPLY

Niaa..gw banget dh! Sampe skrg gw msh bingung piala kehidupan macam apa yg gw mau! Huhuhu...:-(

REPLY

@vendy: gak dua-duanya, ven :D

@johan: seru kayaknya kalau kita ketemu dan berbagi dosa masa lalu :)

@macan: waktu itu gue tahu bahwa agar balon bisa sampai piala, ternyata balon harus ditiup sampai besar. Mungkin usaha kita belom sebesar itu, can :)

@neni: wah.. hmmm.. aduh.. gimana ya. Sama ssiiihhh :))

REPLY

a good one :)

kadang emang suka lupa juga ya, bahwa memang setiap orang punya jalannya sendiri, dan mungkin memang tujuan akhir yang mau dicapainya ga sama...

dan menghilangkan rasa iri? euh... SUSAH! :D

REPLY

Iya. Penyakit hati itu.. :D

REPLY
This comment has been removed by the author.

iri itu ga enak bgt. tapi sebenernya bisa memacu kita buat maju, biar ntar giliran orang lain yg iri sama kita hehe.

REPLY

Ya.. tapi butuh proses untuk mengubah iri jadi motivasi. Hehe. Kalo kepala sudah dingin..

REPLY

coolz...

duh setuju bgt dgn kata2 terakhirnya!
Mari saling mengingatkn! >,<
ktk tiba2 depresi krn balon tidak sesuai dgn keinginan..
walau piala na sendiri mash "lieur" yg mana..
wkwkwk...

keep on searching n trying aja! ^^

REPLY

Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti. 2017 Copyright. All rights reserved.

Dilarang menyalin dan menggunakan konten website ini tanpa seizin penulis.

Designed by Blogger