Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Dalam Resital, Musik Mengalun Syahdu

Teman saya bilang saya ini beruntung karena saya lahir dan tinggal di Bandung.

Ya, saya memang beruntung. Semua tentang musik, ada disini.

Kemarin malam (09/08), saya dan Andika datang ke sebuah acara Resital Tiga Gitar Plus Satu di CCF. Resital ini diisi oleh empat orang gitaris dari Bandung : Widjaja Martakusumo, Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, dan Royke Ng. Dengan membawakan 10 lagu, mereka memainkan gitar dengan syahdu.


Dua lagu yang membuat saya puas mendengarnya adalah ketika mereka memainkan Bajo la Palmera dari I. Albeniz dan Concerto en Re Majeur dari G.P. Telemann. Ketika lagu Bajo la Palmera dimainkan, saya lihat pantulan cahaya dari gitar Secco menari-nari di dinding auditorium CCF. Selain itu mereka juga memainkan lagu klasik dari komposer Bandung bernama F. Wiriadisastra dengan judul Irregular Waltz dan Pela Yangan. Perlu diakui ketika mereka memainkan Irregular Waltz, saya mendengar musik yang aneh dan tidak biasa.

Salah satu gitaris yang mirip dengan teman saya, Bilawa, merupakan gitaris termuda dari para gitaris lainnya. Usia boleh lebih muda, namun ia sudah membuahkan sebuah karya klasik sendiri berjudul Malam Yang Bersembunyi. Ia bercerita bahwa lagu ini diangkat dari sebuah prosa yang ditulis oleh seorang penulis. Proses perombakan di akhir lagu dilakukan oleh penulis itu sendiri. Ini lagu yang romantis.


Bermain gitar bersama memang mengurangi beban teknis dan psikis. Namun tantangannya bermain bersama adalah upaya untuk mengharmonisasikan rasa keindahan, kebiasaan, dan naluri yang pada dasarnya berbeda-beda pada masing-masing sehingga melahirkan sebuah kesatuan ekspresi. Nada-nada dirajut. Ibarat pernikahan: musik harus kawin!

Acara yang mulai pukul tujuh lebih tiga itu berakhir di sembilan lebih lima. Resital ini dirasa kurang greget karena faktor eksternal yaitu penonton yang membawa anak-anaknya kemudian anaknya makan snack kriuk kriuk, suara jepretan kamera DSLR, orang mondar mandir di pintu CCF dengan engsel yang mulai reyot, dan lainnya.

Saya dan Andika berjalan kaki pulang dari CCF - menelusuri Jl. Riau yang penuh dengan factory outlet. Jika akhir pekan tiba, jalan ini macet bukan main. Sebelumnya, kami mampir untuk makan di Bober - salah satu cafe yang paling digandrungi remaja Bandung. Kami memesan nasi rawon.

Comments

  1. hm...

    saya belum pernah sama sekali nonton resital...

    dan memang mungkin nilainya jadi bergeser kalau suasananya ga terbentuk dengan bagus ya...

    ReplyDelete
  2. Bangggeet. Rasanya gak khidmat gitu :)

    Cobain deh, citra rasa baru.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba