Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Horor! Saya Tiba-Tiba Bisa Naik Motor!

Setelah melewati buka puasa bersama yang aneh dengan teman-teman, saya sibuk mencari stopwatch! Oh my God, semua saudara dan teman-teman yang dihubungi pada enggak punya. Kenapa sih orang-orang kok enggak punya stopwatch?

Ini sedikit emerjensi karena besok pagi saya mau menggunakannya untuk ngetest psikotes. Kenapa gak pake henpon sih? - tanya orang-orang yang gak mau ribed. Ya gak bisalah, namanya juga ngetest, hitungan waktunya kudu tepat dan kalau pakai henpon, ntar ada sms atau telepon masuk ya gimana.

Kala itu rumah sepi. Keponakan saya, Dhika, lagi ada teman-temannya yang mau nginap (lho, jadi rumah rame dong?). Saya mohon-mohon ke ponakan saya untuk nganterin saya pergi ke Pasar Kosambi untuk beli batre stopwatch (jadi, saya punya stopwatch tapi baterainya habis). Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam sementara saya sudah harus pergi pukul enam pagi. Dan si remaja labil itu enggak mau nganterin saya karena teman-temannya. Semoga Tuhan memaafkanmu, ponakan!

Naik motor aja! - katanya. Ajegile, saya enggak bisa naek motor! Malang tak dapat ditolak, mau gak mau saya HARUS naek motor ke Pasar Kosambi. Setelah diajari khusus kilat gimana cara nyalain motor, ngidupin lampu, saya pun berangkat. Karena ini Mio dan sebelumnya saya sudah biasa pakai Betrix, saya jadi oke berat nih sebagai pemula. Betul-betul oke berat! Ya gak oke-oke amat sih selain masih bingung antara pentingan mana: gak nabrak atau gak lewat jalanan yang berlubang.

Ini kali pertama saya ke jalan. Wooow ... seru rupanya. Saya mikir kalau saya nabrak, ya sudahlah ... demi sebuah stopwatch. Tidakkah itu begitu heroik?

Setelah sampai ke Pasar Kosambi, saya cari tempat parkir. Tentunya, ini juga kali pertama saya markir motor! Dan saya baru ingat bahwa saudara saya tidak mengajarkan cara mengunci stang motor. Bagus.

Menelusuri trotoar, saya tidak menemukan kios kecil penjual jam. Untuk ada toko jam! Jadi, saya bisa beli jam buat stopwatch. Rupanya si pramuniaga bisa melihat roman khawatir di muka saya. Masih bagus kok stopwatchnya - ujarnya. Lho, bukan itu yang saya khawatirkan, Bapak nan budiman. Tapi motor saya enggak dikunci!

Saya bergegas ke tempat parkir dan motornya ... ada :D (maaf ya kalau anti klimaks)

Oke berat nih hari ini. Segala-galanya absurt. Tolong diapresiasi :))

Comments

  1. Ya ampun. Heroik bgt ini nia!
    Sy suka bag. yg ga anti klimaks itu, hehe... :)

    ReplyDelete
  2. Anonymous7:27 AM

    blogwalking...seru...seru...

    ReplyDelete
  3. tapi kayaknya itu pengalaman yg tak terlupakan yach.... hehehehehehe..... btw... comment di blog aku dunkz.... di postingan paling awal aja.... need your answer please... thx's.... ^^

    ReplyDelete
  4. kebayang rasanya :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba