Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Lapang

Di tengah lapang yang luas, ia tiba-tiba hadir di sampingku. Dengan roman muka bingung, ia memandang sekitar. Dimana saya berada? - ujarnya. Lalu aku menjawab, "Kamu sekarang berada di akhirat."

"Berarti saya sudah mati??"

"Ya, tidak mungkin ada orang hidup bisa kesini."

"Kamu sudah berapa lama disini??"

"Mungkin sudah beberapa hari. Saya sedang menunggu giliran dosa dan pahala saya ditimbang."

"Huhuhuhu ...," ia menangis tersedu. "Saya menyesal kenapa saya menyia-nyiakan hidup saya atas sesuatu yang tidak penting. Saya menyesal karena saya selalu berbuat dosa. Saya menyesal tidak menikmati hidup saya bersama teman dan keluarga. Huhu ... saya menyesal. Kenapa untuk menikmati enaknya hidup, orang harus mati? Kenapa untuk menikmati kesehatan, orang harus sakit? Kenapa manusia harus belajar dari hal-hal yang tidak enak??"

Kuutarakan pendapat yang sama karena orang-orang di sini selalu bertanya tentang hal yang sama, "Kukira saya terbuai dikala saya senang sehingga saya lupa nikmatnya untuk apa yang sedang saya jalani. Saya terlena untuk menginginkan lebih. Saya akan menikmati enaknya punya kaki ketika kaki saya lumpuh, saya akan menikmati enaknya punya tangan ketika tangan saya tidak berfungsi. Ketika semuanya berjalan baik, saya lupa karena saya terlalu sibuk mencari nikmat-nikmat yang lain."

"Betul begitu??"

"Asumsi saya. Itulah yang saya pikirkan selama saya menunggu ditimbang pahala dan dosanya."

"Kenapa kamu bisa disini? Dengan cara apa?"

Sebelum aku menjawab, kudengar namaku dipanggil.

Comments

  1. permenungan yang indahh...
    nicee ^^

    hmmm...
    bukannya manusia memang tak tau indahnya putih sampai semuanya menjadi hitam ya?
    huee...

    Slam kenal
    >,<

    ReplyDelete
  2. Hai, terima kasih. Iya yah, manusia harus merasakan dikotonominya dulu baru deh ngeh sama kutub yang lain. He.

    Samasama :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba