Kalau Cinta Sudah Pergi, Lantas Kau Mau Apa?

by - October 01, 2009

Title: 0119 Cemi
Medium: Acrylic, Colorpencil
Size: 9 x 12
Picture



Tadi siang, teman-teman saya datang ke rumah saya. Halal bihalal - maksud awalnya. Namun semenjak tahu di rumah ada fasilitas internet (hotspot), mereka jadi sibuk dengan laptop masing-masing. Membuka Facebook. Oh, sangat penting sekali sampai-sampai saya harus meminta mereka logout dari Facebook-nya demi sebuah obrolan.

Facebook sudah sampai taraf menganggu, namun ini akan saya tulis nanti.

Kami mengobrol sampai sore. Diangkat tema cinta - yang berangkat dari curhatan salah seorang teman yang berlanjut ke teman lainnya karena mereka (dan juga saya) pernah mengetahui hal yang sama. Kami bercerita tentang bagaimana jika sepasang manusia yang sudah bertahun-tahun masuk ke dalam ikatan pernikahan kemudian memiliki wanita atau pria idaman lain.

Saya merasa ngeri. Apa rasanya ketika kamu mencintai seorang manusia yang pernah berjanji dihadapan Tuhan mau sehidup semati namun nyatanya ia mencintai manusia lain? Rasanya cinta bukan masalah suka, tapi masalah berharap bisa memiliki hati seorang manusia dan hati itu balik mencintai kita. Apa rasanya tidak dicintai - diduakan di dalam hati? Lalu bagaimana rasanya ketika kamu melihat orang yang kamu cinta berada di rumah namun pikiran dan jiwanya tersibukkan oleh orang lain?

Ngeri.

Tapi nyatanya semua orang tidak bisa menguasai hati orang lain, bahkan hati sendiri. Kadang kita tidak pernah tahu apa yang hati inginkan. Namun ketika ia sudah memilih, sekuat apapun kita menyangkal, rasanya susah. Saya takut nanti saya tidak bisa menguasai hati pasangan saya kemudian ia membaginya dengan orang lain. Saya lebih takut kalau nantinya malah saya yang membagi dengan orang lain. Namun nyatanya, orang-orang pasti pernah tergiur dengan lawan jenisnya walaupun ia sudah memiliki pacar atau bahkan sudah terikat dengan komitmen.

Ngeri dua kali.

Saya jadi ingat tulisan Yokie Adityo di novel Jermal pada halaman 2:

Bandi memincingkan mata pada si pembawa surat. Entah kaget atau takjub. Ia tidak pernah tahu kalau temannya Johar, si mandor jermal, memiliki anak. Ia hanya tahu kalau Johar beristri dan mandul. Seperti yang selalu Johar utarakan sebagai alasan satu-satunya mengapa ia tidak lagi mencintai istrinya dan memilih pergi menjauh. Kejam memang. Namun, itulah laki-laki bila memang sudah tidak cinta.


Kalau cinta sudah pergi, lantas kau mau apa?

You May Also Like

6 comments

  1. Anonymous12:15 AM

    mencari cinta yang lain dongs....hehehe

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:16 AM

    eh itu comment di atas dari aku...

    -bolehbaca-


    hahaha.lupa

    ReplyDelete
  3. Yang seolah-olah mudah padahal masih terbelenggu satu cinta yak? :D

    ReplyDelete
  4. Anonymous1:10 AM

    ah,tidak juga.setidaknya tidak mengharuskan diri bersama orang seperti dia.....(yah....dia curhat)
    hahahaha

    -bolehbaca-

    ReplyDelete
  5. biarpun masih terbelenggu, namun seperti kata kaskusers: lanjut-gan :D

    entah melanjutkan belenggu atau berjalan setelah melepas belenggu dengan sedikit bilur

    ReplyDelete
  6. Hehe, dengan sedikit bilur. Yah, ada beberapa yang malah pengen dibelenggu dan lanjut tanpa belenggu. Huhu.

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.