Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Hikayat Buku Harian


Gambar diatas adalah buku harian ibu saya. Saya menemukannya tergeletak di atas tempat tidur. Sejenak saya tertegun mengapa ia membiarkan buku hariannya di tempat yang bisa dilihat orang lain. Rupanya ibu melihat saya kemudian ia berkata, "Baca saja."

Maka bacalah saya. Isi buku harian ibu sangat berbeda dengan buku harian saya. Tulisannya tegak bersambung, kaku, dan begitu tertata. Isinya tentang riwayat keluarga dan hal-hal pribadi lainnya. Selain itu, isinya penuh dengan berbagai tema. Oh, saya jadi mengerti, sepertinya ibu suka menulis. Jangan-jangan ketertarikan pada dunia menulis ini diturunkan dari ibu - karena setahu saya, ibu mempunyai buku harian lain yang lebih tebal.

Buku harian. Entah mengapa namanya harus buku harian, buku buku jam-an, bukan buku mingguan, bukan buku bulanan. Suatu benda pasti diciptakan karena ada kebutuhan yang mendasari. Lalu memangnya manusia butuh apa sehingga harus menciptakan buku harian lalu mengisinya dengan hal-hal pribadi yang tidak boleh dibagi kepada orang lain?

Saya memiliki banyak sekali buku harian semenjak SD. Kejadian paling parah adalah saya pernah membawa buku harian saya ke sekolah lalu dibaca oleh teman-teman. Isinya tentang rasa suka dengan salah satu teman laki-laki dan rasa sebal dengan salah satu teman perempuan. Tentu anak laki-laki yang mengambil buku harian saya menyebarluaskan isinya ke orang-orang yang ada di dalam buku harian. Maka si laki-laki ke-gr-an dan si perempuan marah.

Saya pribadi merasa senang sekali memiliki buku harian. Maka mulailah saya menciptakan tokoh khalayan dan berkomunikasi melalui buku harian. Ya, 'dear diary' itu pernah saya tuliskan, seolah-olah saya menulis surat kepada seseorang. Saya tumpahkan semua rasa di buku harian, tanpa ditutup-tutupi, tanpa malu, tanpa takut, dan lainnya.

Namun semenjak saya kuliah, saya sudah jarang mengisi buku harian karena saya sudah mengenal blog. Lalu saya menciptakan blog yang memang isinya layaknya buku harian yang kemudian dibaca oleh teman-teman saya. Lalu lama-lama saya merasa sok sekali karena buat apa juga tulisan format buku harian harus dituliskan ke sebuah media dengan maksud untuk dibaca oleh orang lain? Maka saya tutuplah blog itu. Sempat saya pergi ke toko buku dan mengisinya secara manual. Namun sayang, sekarang saya tidak punya waktu untuk mengisinya.

Kembali lagi ke buku harian ibu saya, sepertinya hampir semua orang pernah memiliki buku harian. Sepertinya betapa kesusahannya manusia untuk menganggung semua cerita tentang dirinya. Betapa pengalaman hidup itu tumpah ruah dalam hatinya sehingga harus melalui sebuah proses penyampaian emosi - tidak hanya pada buku harian saja, mungkin pada media yang lain. Katarsis.

Maka, teruskanlah menulis secara harian (walaupun tidak buku harian) karena sepertinya itu bisa menjadi media manusia untuk lepas dari dirinya, terutama ketika ia membaca kembali buku harian masa kecilnya, masa remajanya, masa dewasanya, menemukan hal-hal yang memalukan, dan mencoba untuk mengubahnya.

Comments

  1. dang, wish i can play musical instruments! >.<

    ReplyDelete
  2. Sampul buku hariannya jadul banget, hehehe. Dulu ibu juga rajin menulis buku harian. Selain catatan keseharian, ibu juga nyimpan copy surat-surat yang dia tulis.

    Gw juga punya buku harian yang ditulis on and off. Kalo mbaca lagi suka nyesel karena terlalu banyak halaman terbuang dengan ditulisi cerita tentang orang yang waktu itu lagi disuka.

    ReplyDelete
  3. @--- : Mbak Putri yah? Wish I can capture the world like you. Hehe.

    @Andika: Wah, seru banget nyimpen copy surat-surat! Sama tuh, kadang jadi garing dan malu sendiri kalo bacanya. Kayaknya dulu - istilahnya - lebay.

    ReplyDelete
  4. wow. Kalau kita nanti pada punya anak, mereka bakalan suka nulis juga gak ya? :P
    muhahaha

    @Andika: copy surat? tulis tangan? berarti dia nulis pakai karbon dong? menarik.

    Gimana kalau menulis jurnal atau surat jadi tema latihan menulis, gitu

    ReplyDelete
  5. Kalau enggak salah, latihan nulis surat tuh udah pernah deh.

    ReplyDelete
  6. seneng baca tulisan Nia yang satu ini. Saya punya 15 buku yang isinya perjalanan hidup saya dari jaman SMA sampai April taun ini -setelah itu gag semept nulis lagi-. Lumayan buat dibaca2 klo lagi suntuk... Bisa ketawa2 sampe nangis bacanya..

    Saya ingin bs nulis pengalaman pribadi di blog -kaya Nia gitu-. Tapi belum bisa euy... kasih tips dong... gmn caranya biar gag terlalu terbuka, tapi ttp asli ceritanya ;)

    ReplyDelete
  7. Waduh, kalo masalah filter hal2 personal mah gak bisa diajarin, itu tergantung values yang kita miliki :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba