Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Avatar: Perjuangan Si Inferior

Sudahkah Anda menonton Avatar? Kalau belum, segera tutup halaman ini, matikan internet dan komputer Anda, pergilah ke bioskop! Kenapa? Karena film ini begitu memanjakan secara visual dan plot yang mengalir. Warna-warna di film ini begitu menarik. Sekali lagi, tontonlah. Kalau bisa yang 3D. Namun selain masalah visual, unsur psikologis di film ini cukup kental. Ibarat makan makanan mahal tapi enak, pun film ini. Panjang. Padat. Kenyang.

Hati-hati. Tulisan ini akan menceritakan akhir cerita.

Jake Sully adalah seorang veteran yang memakai kursi roda. Dibawa ke planet Pandora, ia mendapat misi untuk mengusir penduduk pribumi Omaticaya karena pihak militer mau mengambil sumber daya alam di dalamnya. Jake Sully yang tidak bisa berjalan itu ditransfer ke dalam sebuah tubuh. Tubuh itu bisa berlari, tubuh itu bisa melakukan apapun yang tidak ia bisa.

Ketika di hutan, ia dikejar binatang buas sehingga menghantarkan pada Neytiri, seorang perempuan pribumi. Melalui proses penolakan oleh sukunya, proses pembelajaran, maka diterimalah Jake Sully di kelompok tersebut hingga ia dihormati karena mendapatkan posisi tertinggi.

Jake Sully yang menderita paraplegia (gangguan fungsi sensori motor karena terganggunya sistem saraf pusat) dan tidak bisa berjalan tentunya membuat ia menjadi inferior. Ada sebuah konsep inferior yang dikemukakan Adler bahwa inferior tidak hanya masalah kecacatan tubuh tetapi perasaan-perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun perasaan-perasaan yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh yang nyata. Bayangkan Jake Sully dalam kondisi seperti itu, ia berada di situasi yang menuntut kesempurnaan dan kekuatan fisik, pastinya ini berimbas pada sisi psikologisnya.

Ketika mendapatkan kesempatan transformasi ke tubuh yang lebih sempurna, tentunya ia tidak menyia-nyiakan. Adler berpendapat bahwa orang yang memiliki organ yang cacat seringkali berusaha mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuatnya melalui latihan insentif. Dalam kasus Jake Sully, ia melakukan pelatihan diri yang sistematis bersama Neytiri.

Bagian yang paling menarik adalah ketika Jake Sully merasakan bahwa dunia ini terasa terbalik. Dunia maya menjadi nyata baginya dan dunia nyata menjadi maya baginya. Terutama ketika ia bisa mendapatkan hormat pribumi setelah menaklukan binatang terbuas bernama Toruk dan Jake Sully menjadi pemimpin panglima disana hingga ia memutuskan untuk tinggal di Omaticaya selamanya.

Mengapa ia mau saja merelakan meninggalkan dunia nyata demi hal yang maya?

Adler percaya bahwa apa diperjuangkan manusia adalah kekuasaan yang melalui tiga tahap: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Adler berkata, "Mereka (manusia) berjuang mendambakan kemenangan, kekuasaan, rasa aman, peningkatan, entah dalam arah yang benar atau salah." Dorongan ke arah yang superioritas itu dapat menjelma dengan beribu-ribu cara yang berbeda. Menjadi avatar adalah cara Jake Sully yang -sayangnya - tidak konkrit.

Banyak sisi psikologis lain seperti reaksi melarikan diri (escape) dari nyata dan maya. Namun biarlah itu dibahas nanti saja (atau oleh orang lain) karena jika disatukan akan tumpang tindih.

Secara keseluruhan, ini film yang menarik.

Comments

  1. menarik. menarik. aku mau memperpanjang itu maya dan nyata. bantu2 edit ya :D ahahah

    ReplyDelete
  2. Wawww nia, ini tulisan bagus gt, saya selalu suka ilmu psikologi...

    Kita nonton film yg sama, tp apresiasi sy hy sebatas: efek film nya keren, hutannya keren banget--bercahaya!! dll.

    Btw, gw nonton dlm bhs jerman, jd hy mengerti aksi tdk ngerti dialog. dan mgkn krn itu, pas tmn gw nangis (usianya 13 thn tapi, eh ngaruh ya?), gw mah ti'is...

    ReplyDelete
  3. Huahahahaha.. Neniii.. kok masih belom bisa aja siih bahasa Jerman :P sok gini gue.

    Bahasanya subtitle-nya aja, 'kan? Kalo ngmgnya tetep bahasa Inggris 'kan?

    ReplyDelete
  4. Visualnya emang menakjubkan sih.

    ReplyDelete
  5. aku suka filmnya dan tulisan mu bu...

    hei kawand mampirlah sesekali ke blog 'acak-kadut' ku(ga sah malu-2)...kao akan menemukan sesuatu yg ku 'iri'kan dr mu hihih...

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba