Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Alkisah Bram #2 Dan Dea

Bram, yang pernah saya ceritakan akan memulai misinya di dunia nyata, meminta saya untuk mencarikan narasumber untuk workshop tulis acaranya. Maka saya merekomendasikan teman saya, Dea, yang merupakan seorang penulis eksperimentalis dan sudah menelurkan tiga buah buku. Dengan latar belakang sastra Indonesia, Dea pastinya memiliki kerangka teoritis yang mumpuni dan lebih tahu seluk beluk dunia tulis.

Maka bertemulah kami dalam sebuah kedai fast food dibilangan Simpang Dago. Ketika saya datang, Bram sudah duduk di sebelah patung McDonald's (eh disebut juga) sambil menguap lebar-lebar. Begitu saya datang, saya langsung berkata, "Tutup dong." Bram berkata bahwa ia kurang tidur dan baru dari rumah sakit. Oh teganya saya.

Bagian kecil dari diri Bram

Lalu, setelah mencari tempat duduk yang lebih nyaman ketimbang bersebelahan dengan patung, Dea pun datang. Saya memperkenalkan Dea dengan Bram. Bram yang awalnya agak kikuk pun segera melancarkan misinya setelah ada adegan kode-kodean buruan-elo-ngomong-oi. Awalnya dari membicarakan masalah tulis menulis, Bram melancarkan misi keagamaan, lama-lama berbau sosial, lama-lama berbau politik, lama-lama berbau sayap kiri, lama-lama berbau Marx dan Nietzsche, lama-lama ... saya mikir agaknya Bram ini mabuk fungus. Ia orangnya serius. Dan kadang-kadang beringus.

Bagian kecil dari Dea

Runtut punya runtut, rupanya Dea kenal dengan adiknya Bram dan Bram pernah lihat Dea sebelumnya di komunitas filsafatnya UNPAR. Runtut punya runtut, rupanya humasnya Dea waktu launching buku Salamatahari #2 adalah adiknya Bram yang saya temui di Taman Lalu Lintas namun kenapa kok saya tidak ingat padahal sudah lama kenal (justru karena sudah lama) dan masih tidak ingat juga ketika bertemu di Braga Festival. Ah, memori.

Agaknya ajang perkenalan ini hanya mengkaribkan dua tali yang sudah kepalang tersambung. Semoga bisnis kedua teman ini berjalan lancar.

Comments

  1. Amiiin ... semoga bisa berbisnis dengan lancar ...

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba