Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Selamat Ulang Tahun

Seorang wanita separuh baya, yang sudah kulupa mukanya, menggurat sebuah kalimat di papan tulis. Selamat Ulang Tahun Nia Yaniar yang ke 4. Betapa keras kepalanya ia. Ibuku sudah bilang berkali-kali kalau namaku tidak disebut dalam ejaan lama. J sebagai je, bukan ye. Karena aku dilahirkan di bulan Januari, bukan Yanuari. Tapi wanita itu tetap saja memanggilku begitu. Sampai aku percaya dan bertanya pada ibu apakah namaku memang dipanggil dalam ejaan lama? Lagipula, ejaan lama itu apa?

Meja-meja diatur sedemikian rupa. Kelasku yang besar jadi terlihat berbeda. Semua kursi ditaruh di depan kelas dan semua murid duduk di atasnya. Kuingat waktu itu kuenya berwarna putih dengan butiran-butiran cokelat yang menghias pinggir-pinggirnya. Sepertinya itu buatan kakaknya ibuku yang suka sekali menambahkan rum di kuenya.

Di sebelahku ada seorang laki-laki yang wajahnya aku ingat tapi aku lupa namanya. Sementara sahabatku yang bernama Mia, entah duduk dimana ia, pastinya ikut senang merayakan ulang tahunku. Dan aku masih ingat rupanya.

Setelah bernyanyi Selamat Ulang Tahun, teman-temanku menyalamiku satu persatu sambil memberikan kado yang tidak pernah aku ingat. Kemudian ibuku membagikan bungkusan kecil berisi makanan dan teman-temanku pulang. Aku dan ibuku masih tinggal disana. Sepertinya ibuku meminta/diminta orang lain untuk difoto. Maka beginilah jadinya:



Empat lilin terakhir. Semenjak itu, aku tidak pernah merayakan ulang tahunku lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba