Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Kuantitas Intelegensi Berdasarkan Universitas

Kuantitas intelegensi yang saya maksud adalah IQ. Begini ceritanya.

Sekitar satu atau dua minggu yang lalu, saya diutus atasan untuk datang ke sebuah sharing ilmu psikologi di program magister UNPAD. Dosennya baru dari Australia dan ia mempunyai ilmu tentang anak gifted yang ingin dibagi. Maka datanglah kami. Di sana banyak sekali mahasiswa-mahasiswa S2 sekaligus beberapa psikolog. Selain itu, ada yang berprofesi sebagai guru.

Anak disebut gifted jika ia memiliki kapasitas menerima stimulus lebih besar dari anak lainnya dan memiliki IQ 130. Lalu ada seorang guru yang bertanya, "Apakah IQ gurunya harus 130 juga? Karena kan guru harus memahami karakteristik anak dan paham teorinya. Nah, ada nih guru di sekolah saya. IQ-nya 98 gitu, jadi agak susah kalau belajar lagi. Saya enggak ngerti deh ... kenapa guru-guru dari UPI Bandung (dulu IKIP) itu IQnya rendah semua. Mungkin karena orang-orang pintarnya itu pada milih ke universitas-universitas seperti ITB lalu bekerja di perusahaan"

Sialan, itu kampus saya! --gumam saya. Ternyata rekan kerja saya mendengar gumaman saya, lalu dia memprovokasi, "WAH, GAK ENAK TUH, NI!"

"Emang! Apa mungkin karena begini: Mahasiswa UPI berasal dari daerah. Orang-orang daerah banyak yang ingin jadi guru. Dan mungkin stimulasi orang daerah kurang hingga IQnya rendah," saya berasumsi. Tapi tentunya asumsi ini tidak valid juga karena banyak orang daerah yang berprestasi. Ah, sialan, pernyataan itu begitu menganggu pikiran saya. Ada sebuah persepsi negatif tentang kampus saya!

Rekan saya nyeletuk, "Kok IQ segitu bisa jadi guru sih? Heran. Kalau IQ segitu pasti enggak lolos sekolah kita karena minimal kita menerima yang superior."

Ehm.

Jadi, maksud saya, untuk perempuan yang over-generalized itu ... mohon dicermati kata-katanya. IQ orang lain lebih rendah pun tidak membuat Anda lebih pintar. Seperti yang dikatakan oleh pemateri, "Tidak perlu IQ 130 untuk mengajarkan anak gifted. Yang penting guru dapat mengakomodasi kebutuhan anak untuk memaksimalkan potensinya."

Saya harap kecerdasan sosial Anda ditingkatkan lagi.


Comments

  1. Anonymous9:58 PM

    wha...bawa2 alamater...blom pernah diserbu orang sekampus...hahah

    sayang yah,IQ tinggi tp cara pikirnya sempit :P

    ReplyDelete
  2. waks! parah tu orang. bener, ni, kecerdasan sosialnya perlu dipush tuh dia.

    ReplyDelete
  3. Anonymous12:22 PM

    aaaaaaaah!!! coba aku dateng ya, biar yang melototin bukan cuma nia aja. hehehe.

    padahal kalo dipikir2 lagi, guru2 dia dulu di sd ampe smu kan kebanyakan lulusan upi (dan cabang2nya) juga...

    ReplyDelete
  4. mudah2an saya bukan termasuk orang2 yang disebut2 diatas.. hahaha

    ReplyDelete
  5. GANYAAANGGGG!!!

    Hahaha..

    ReplyDelete
  6. Iya tuh tum, ada juga yang nanya, "psikologi mana? Unpad ya?" pas dijawab "UPI Bandung" tampangnya langsung brobah..dan ngomong "Oh" doang. Zzzz.

    Tapi Thanks God itu ngga berlaku di semua tempat...di kantor yang skarang alhamdulillah ngga ngeliat lulusan mana..tapi bisa perform atau ngga :)

    (malahan lulusan Universitas Gajah Duduk ngga terlalu diminati...stereotype-nya sok ngatur katanya..fufufufu)

    ReplyDelete
  7. Sama. "Oh" doang juga sering diterima. Sungguh stereotype ini berbahaya dan mematikan, Bow!

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba