Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Aurora

Tadi siang hingga sore hujan turun deras sekali. Langitnya gelap dan udaranya dingin. Setelah sabar menunggu reda dan matahari baru terlelap, aku menggotong kursi plastik ke tempat jemuran, duduk, dan menghirup bebauan senikmat-nikmatnya. Hmmmm ... aaahh ... aku suka bau sesudah hujan.

Tiba-tiba bau minyak menusuk hidungku. Seketika baunya membuatku pusing. Aku mencari sumber bau hingga kutengadahkan kepala, kulihat Dia sedang membawa palet yang sangat besar. Dengan serius, ia menggoreskan cat-cat yang ada di atas palet ke langit malam.

"Hei, ingat aku?"

Ia menghentikan pekerjaanNya dan menatap makhluk kecil yang masih berbalut pakaian kerja di bawahnya. Ia sedikit kaget lalu kulihat matanya berbinar-binar. Ia berkata, "Sudah lama tidak bertemu ya? Kemana saja?"

Aku tertawa geli melihat ekspresi muka kagetNya. Saat mendengar perkataannya, aku hanya mengangkat bahu sambil berujar, "Entahlah. Agak malas saja."

Ia menatapku kecewa.

"Aku sibuk. Dan, hmmm ... sepertinya manusia perlu waktu untuk jeda dari aktivitas yang sangat rutin. Tapi buktinya aku kembali."

MataNya semakin menunjukkan rasa kecewa. Sepertinya Ia tidak suka dengan gaya ceramahku. Kukira Ia akan marah atau kesal, tapi Ia hanya tersenyum lalu meneruskan kegiatanNya. Aku pikir Ia maklum.

Sejauh-jauhnya pergi, aku pasti akan ke sini -- batinku dalam hati.

"Aku akan selalu dengan senang hati menyambut," ujarnya sambil melukis. Aku termanggu.

Udara dingin di atas jemuran membelai lembut. Dinginnya seolah-olah membawa perasaan-perasaan sendu dari segala penjuru. Dibawa jauh-jauh agar si pemiliknya senang, lalu perasaan dibuang entah dimana.

"Kau lagi apa?" tanyaku.

"Melukis."

"Hobi?"

"Ah, hanya iseng-iseng saja."

"Tapi kayaknya Kau berbakat ya? Bagus soalnya."

"Ah, enggak. Aku hanya mengisi waktu luang," ujarNya sambil melihatku. Aku tertegun. Bagaimana Ia yang akbar memiliki waktu luang sementara aku hanya makhluk biasa ini mengaku diri selalu sibuk.

Ia menggurat sebuah warna hijau dari ujung barat hingga ujung timur. Guratannya berpendar, membuat ilusi sebuah jalan maya menuju sesuatu. Sesuatu yang mungkin ingin aku tuju. Ia memberikan sebuah imaji semesta yang jarang kulihat, Ia memperlihatkan salah satu karya kecilnya.

Sementara aku sedang menikmati pemandangan di depan mata, kudengar orang-orang rumah yang ada di bawah sedang saling ribut dan saling berkata,"Allahu akbar! Ini gejala alam! Ini pasti salah satu pertanda dari Tuhan!"

"Memangnya Kau mau memberi tahu sesuatu?" Aku terkekeh.

"Padahal Aku tadi hanya iseng-iseng, ya?" Ia tertawa kecil. Aku merasa ia menertawakan orang-orang yang ribut yang ada dibawahnya. Sementara itu aku masih duduk di kursi plastik dan menikmati lukisannya.

"Sudah, kamu mandi dan ganti baju sana. Baumu sampai sini."

Aku tersenyum kemudian berkata, "Biar aku menikmati sebentar lagi."


Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba