Hikayat Sebuah Nama Belakang

by - January 27, 2011

Janiar.

Sekitar usia SMP dan SMA, ih, saya syebel sekali dengan nama saya karena terdapat pengulangan. Nia Janiar. Sangat sukuistis sekali. Coba kau cari adakah kosa kata sukuistis itu? Dan selain itu--yang saya yakini pada saat itu--nama belakang saya ini memalukan sekali!

Janiar. Tidak lazim. Apa itu?

Kebanyakan saya menggunakan nama depan saya saja ketika saya berurusan dengan orang lain. Saya malu setengah mati jika harus menyebutkan nama belakang saya. Selain itu--walau tanpa bermaksud menghina--teman-teman saya yang entah kenapa mereka menyorot eksistensi Janiar di belakang nama saya sehingga saya dipanggil Janiar, Jani, Jan, bahkan NJ. Oh, saya merasa ada yang men-stabilo nama belakang saya ini.

Begitu terus nasibnya hingga kuliah dan kerja. Namun keengganan pemakaian nama belakang sudah jauh berkurang dengan menggunakan nama lengkap dimana-mana (email, salah satunya). Dan lucunya teman-teman kerja saya yang merupakan teman-teman baru dan tidak mengenal riwayat pemanggilan nama, ikut memanggil Janiar saja.

Seiring perjalanan hidup, saya diyakinkan oleh teman-teman bahwa nama akhir saya ini baik-baik saja dan bahkan bagus adanya. Kayak nama seniman--ujar salah satu teman saya agak hiperbola. Saya jadi mempergunakan kesensitivitasan orang lain akan nama saya ini supaya eksistensi saya mudah diingat.

Kalau ditanya apa artinya, saya akan menjawab karena saya lahir di bulan Januari, sementara keluarga saya akan menjawab karena ada salah satu kerabat keluarga bersuku Padang yang pintar. Mereka berharap anaknya sepintar kerabatnya. Oh, amin, Tuhan.

Awalnya saya mau diberi nama Janiar saja. Titik. Tanpa embel-embel nama depan atau belakang. Tapi karena kasihan, akhirnya ditambahkan Nia di depannya. Nia Janiar. Dulu saya ingin nama saya agak panjang--minimal tiga suku kata--seperti orang lain. Kayaknya keren gitu. Oleh karena itu saya ingin menambahkan nama orang lain yang bagus di belakang nama saya. Tapi lama kelamaan saya pikir kalau nama enggak usah panjang-panjang deh. Lebih pendek lebih keren. Banyu Biru. Btari. Bima Sakti. Sjora.
Aditya Warman.


Dan di hari ini, pemberian nama itu tepat 24 tahun yang lalu. Bangga rasanya karena tidak semua orang memilikinya.

You May Also Like

9 comments

  1. hehe, jadi inget jaman kuliah ada yang manggil "jainar" siapa sih? pak mif ya yang manggil gitu?

    ReplyDelete
  2. oh iya, btw. selamat ulangtahun

    ReplyDelete
  3. Haha, iya, Jen. Pak Mif yang selalu manggil itu. Walopun udah dibenerin berkali2.. tetep ajyaaa.. btw, thanks.

    ReplyDelete
  4. Wooow ... ulangtauunnn ...

    Selamat,ya ...

    Anw, nama lo bagus. Somehow gue ngerasa nama itu representatif banget sama karakter lo ...

    ReplyDelete
  5. Makasih buat ucapannya, De. Nama lu juga bagus! Gue maauu. Hehe. Representatif gimana, De?

    ReplyDelete
  6. ih, sama banget kayak aku. dulu mah malu banget sama nama sendiri, asa misleuk, hee, sekarang mah oke-oke aja :)

    ReplyDelete
  7. Bagus kok, Neng.. kayaknya Shofa Mushofahah mah lebih ada effort-nya ketimbang Nia Janiar :p

    ReplyDelete
  8. eh, kaget juga baca ini. karena buat gw nama lu unik sekali. gw selalu membayangkan ada novel atau buku trus didepannya ada nama pengarangnya: Nia Janiar. pas banget rasanya.

    Dan soal nama yang pendek2. Desember yang lalu ada temen gw yang bingung nyari nama belakang untuk anaknya karena dia ga pengen ngasih nama depan aja. ternyata alasannya, kalo lu cuma punya satu nama, susah sekali kalo membuat paspor. soalnya temen gw itu bercita2 supaya anaknya nanti bisa pergi ke mana pun tanpa terhalang oleh nama.

    oya, btw, selamat ulang tahun. sungguh telat sebulan. maaf.

    ReplyDelete
  9. Eymen, sister, eymen!!

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.