Posts

Showing posts from June, 2011

Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Mapay Cikapundung

Image
Kali pertama saya dan Neni gabung di Komunitas Aleut, kami langsung basah-basahan dan sakit kaki karena jadwal ngaleut saat itu adalah menyusuri Sungai Cikapundung dari Sumur Bandung hingga Curug Dago. Kami bergaya ala Ninja Hatorri: Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir ke samudra. Bersama teman berpetualang! Teknis menyusuri sungai adalah begini: 1. Jalan di perkampungan di dekat sungai, 2. jalan di daerah aliran sungai, 3. jalan di atas pipa air bersih, 4. melewati gorong-gorong Ci Barani yang dibuat Belanda dan dipenuhi ekosistem laba-laba, Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari 5. melewati dan melawan arus sungai, 6. berupaya melalui jalan yang tertutup, 7. jembatan yang tidak aman, 8. melewati sawah, 9. berhenti di warung, 10. hingga akhirnya sampai juga di Curug Dago yang kotor dan berbau tidak sedap.

Menghitung Mundur

Image
Sekitar 13 hari lagi, hubungan saya dengan pekerjaan akan mencapai batas kadaluarsa. Saya memilih untuk berhenti bekerja dan mengejar cita-cita saya menjadi seorang penulis. Gila, memang. Memutuskan menjadi penulis agaknya mirip seperti memutuskan jadi seniman: banyak diragukan, terutama tentang penghasilan. Kalau karya bagus dan cukup beruntung ya lancar, kalau karya bagus dan tidak cukup beruntung ya kurang lancar. Jujur, karena saya tidak mau merendah untuk meninggikan mutu alias pasif agresif, saya cukup besar kepala untuk yakin bahwa tulisan saya tidak jelek. Saya banyak latihan. Artinya, ketika saya memutuskan untuk menjadi penulis, modal awalnya tidak nol besar. Beranjak di angka satu, setidaknya. Bahkan untuk non fiksi, saya mengambil sesi latihan dengan para jurnalis. Bisa dilihat, keputusan ini berdasarkan pertimbangan serius. Keinginan mengejar mimpi sebagai penulis muncul di akhir tahun 2010, ketika saya menulis artikel tentang zona nyaman dan atasan saya membahas bahwa

Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Image
Dua orang jurnalis, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, telah melakukan ekspedisi perjalanan mengelilingi Indonesia hanya dengan motor Honda Win 100 cc yang sederhana. Jalan darat dan laut telah mereka tempuh untuk menguntai Sabang hingga Merauke di negeri yang terkenal dengan sebutan Zamrud Khatulistiwa: Indonesia. Sabtu sore (11/6) di Tobucil, Bandung, Farid Gaban—pernah menjabat sebagai redaktur pelaksana majalah Tempo—membagikan pengalamannya mengelilingi Indonesia selama 10 bulan dengan total 100 pulau pada 50 gugus kepulauan Nusantara. Perjalanan mereka bukanlah perjalanan ilmiah, melainkan perjalanan jurnalistik yang sepintas. Dari 17.000 pulau yang dimiliki Indonesia, mereka hanya mengunjungi pulau-pulau yang dianggap representatif dari kepulauan sekitarnya karena terlalu banyak. Misalnya untuk Nias saja kepulauannya hampir terdiri dari 3.000 pulau. Perjalanan mereka begitu sederhana dan relatif murah. Farid Gaban menyayangkan dengan orang-orang yang sering berpergian namun

Male Chauvinist

Image
Foto di atas saya dapatkan ketika saya pulang dari Pangandaran menuju Bandung. Saat saya menemani Eka shalat Maghrib, saya menemukan sebuah mushola di salah satu SPBU Nagrek dibagi menjadi dua bagian: laki-laki di dalam ruangan, perempuan di luar ruangan--tepatnya di pelataran mushola. Kesan pertama melihat pemandangan ini sangat membuat saya mengerenyitkan dahi karena saking terkejutnya. Entah siapa yang melakukan pembagian tempat shalat sebusuk ini, tapi saya memiliki prasangka bahwa orang yang membaginya adalah seorang male chauvinist (kepercayaan bahwa pria itu lebih superior adanya) sehingga saking superiornya, mereka harus berada di dalam ruangan, bersajadahkan belasan baris sajadah, sementara perempuan hanya diberikan satu baris sajadah saja. Akibatnya, perempuan harus menunggu orang-orang yang selesai shalat agar bisa beribadah. Kenapa, hey engkau si pembuat peraturan? Apakah kau takut masuk angin? Tidakkah kau melihat istrimu, anak perempuanmu, atau kekasihmu, menunggu lam