Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Mapay Cikapundung

Kali pertama saya dan Neni gabung di Komunitas Aleut, kami langsung basah-basahan dan sakit kaki karena jadwal ngaleut saat itu adalah menyusuri Sungai Cikapundung dari Sumur Bandung hingga Curug Dago. Kami bergaya ala Ninja Hatorri: Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir ke samudra. Bersama teman berpetualang!

Teknis menyusuri sungai adalah begini:

1. Jalan di perkampungan di dekat sungai,



2. jalan di daerah aliran sungai,



3. jalan di atas pipa air bersih,



4. melewati gorong-gorong Ci Barani yang dibuat Belanda dan dipenuhi ekosistem laba-laba,


Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari

Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari


Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari

5. melewati dan melawan arus sungai,



6. berupaya melalui jalan yang tertutup,



7. jembatan yang tidak aman,



8. melewati sawah,



9. berhenti di warung,



10. hingga akhirnya sampai juga di Curug Dago yang kotor dan berbau tidak sedap.



Perjalanan dilalui selama 5 jam. Padahal, jika menggunakan angkutan umum, mungkin hanya berkisar 10 menit dan jalan sedikit. Tapi jika kami naik angkot, maka tidak akan bisa melihat:

1. Pintu air,



2. arena adu burung,



3. pesantren,



4. jalanan yang melelahkan,



5. atau perumahan mewah di dekat pemukiman sekitar sungai.



Juga tidak akan ada adegan kebersamaan seperti tolong menolong ketika teman mengalami kesulitan menghadapi jalan yang licin atau terpeleset di atas batu kali. Dan jika menggunakan angkot, mungkin tidak ada sesi sharing yang bermakna seperti ini. Mungkin sharingnya hanya sekedar, "Gimana, apa kamu bisa duduk 7-5?"

Comments

  1. Anonymous11:41 PM

    Good journal!
    masuk PR pula.hebat
    proud of you My Friend:)
    Go Girl:)

    Bolehbaca

    ReplyDelete
  2. aku pernah jalan-jalan sendirian menyusuri cikapundung, sampai ke pesantren yang kamu temukan juga. cuma ruteku enggak sejauh kalian. sempat ngobrol dengan santri-santrinya, dan kepikiran, kayaknya menarik mengangkat profil pendiri pesantrennya, walaupun kalau aku dengar dari orang yang tinggal di dekat-dekat situ, kiayinya juga rada kontroversial. biasalah, soal poligami.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba