Skip to main content

Meminta Maaf

Pada suatu hari, teman saya bertanya, "Nia, apakah kalau orang sudah memaafkan tapi masih teringat terus dengan kejadiannya itu sama dengan memaafkan atau tidak?"


Saya bingung. Saya pikir dia salah bertanya kepada saya karena saya tidak ahli dalam bidang akhlak begini. Maka, dengan kitab Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya meminta dia bersama-sama mengurai permasalahannya (baca: mikir bareng).

Secara definisi, maaf berarti pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Jika kita sudah meminta maaf tapi masih teringat-ingat dengan kejadiannya dan muncul amarah dalam benak kita, maka kita belum memaafkan. Maka orang itu tidak bebas karena masih terikat dengan perasaan negatif kita. Namun jika tidak muncul amarah atau hanya muncul perasaan biasa-biasa saja, artinya kita sudah memaafkan. Sehingga memberi maaf tidak sama dengan melupakan. Boleh ingat, tapi perasaan sudah netral.

Misalnya saya memaafkan seorang teman yang pernah melempar batu sehingga bibir saya robek. Saat mengingat kejadian itu, tidak ada perasaan kesal, sama seperti ingatan biasa saja. Namun saat ada orang yang mempermalukan saya di depan umum dan saya merasa marah hingga sekarang, maka itu tandanya saya belum memaafkannya.

Bagaimana dalam kasus meminta maaf secara massal seperti yang terjadi saat berlebaran? Tidak bisa dihindarkan jika ada pemikiran bahwa maaf hanya formalitas. Mungkin ini akibat kita betul-betul tidak meminta maaf atau tidak memaafkan. Mungkin juga kita menginginkan hal yang lebih personal agar suatu urusan menjadi selesai.

"Maaf lahir batin ya," ujar salah satu kerabat pelaku bibir-bibir yang tidak hentinya bicara dalam Ransum. Apakah lalu saya memaafkannya? Tentu tidak.

Maaf itu bukan mantra ajaib yang menghapus permasalahan dan membuat semuanya indah dalam sekali kedip. Maaf itu adalah proses, bukan hasil akhir. Dua orang harus duduk, membicarakan dari hati ke hati, menyelesaikan permasalahannya hingga tuntas.

Bagaimana jika kita berada di pihak yang bersalah? Jika ingin betul-betul meminta maaf, ada tiga tahap dalam meminta maaf. Katakan:

1. Saya meminta maaf
2. Saya telah salah karena melakukan ...
3. Lalu apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya?

Mudah-mudahan tulisan tidak memicu pemikiran 'ah-ribet-bener-lu' dan mungkin ada beberapa orang yang hanya butuh kata 'maaf' tanpa harus menuntaskan masalah. Bebas. Asal tidak ada dendam--apalagi sampai kesumat, bagi saya tidak apa-apa.

Tulisan ini bertepatan dengan lebaran. Maka saya mengucapkan Selamat Idul Fitri. Semoga Tuhan merahmati.

Comments

adynura said…
yups,klo blm bisa melupakan kesalahan orang lain itu artinya belum memaafkan sepenuhnya,...kmrn ada yg nanya gitu di pengajiannya opa Quraish syihab dan jawabannya sama :)

selamat idul fitri juga yaa....


leave my footprint here:
adynura.blogspot.com (^^)v
Nia Janiar said…
Katanya gini,

"The stupid neither forgive nor forget; the naive forgive and forget; the wise forgive but do not forget." --- Thomas S. Szasz

:D
adynura said…
thanks buat kunjungan dan ninggalin jejak dikomentarnya yaaa....

hmm...mau saling follow ato tukeran link?
let me know yaa...
just catch me at my twitter @adynura
:)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…