Skip to main content

Gendut

Mungkin boleh ditanya kepada saudara atau teman kantor saya bahwa dulu saya tidak peduli dengan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang menunjukkan femininitas akan semakin tidak puas dengan tubuhnya. Jika saya menggunakan rok adalah indikator feminin, berarti anggap berat badan sebagai salah satu bentuk ketidakpuasan.

Saya. Gendut.

Halo, selamat datang di konstruksi sosial tentang kecantikan ideal, selamat dan sentosa kepada Twiggy karena telah membuat trend bahwa kurus adalah segalanya. Juga selamat datang kepada teman-teman saya yang riweuh selalu mengkomentari tentang berat badan saya. Juga slimming tea. Juga DVD Cardio, Pilates, dan Yoga. Juga timbangan berat badan yang akhir-akhir sering dimonitoring pergerakan jarumnya.

Jadi anggaplah saya mulai menjaga asupan makanan yang masuk ke mulut. Diet. Saat puasa pun saya mencoba tidak kalap saat berbuka. Hasilnya ya lumayan, dua kilo turun. Lalu saya bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, lalu--alih-alih bertanya tentang kabar--mereka berkomentar 'KOK NIA TAMBAH GENDUT?'

Agaknya saya kesal. Pertama, kita sudah jarang bertemu lho, kenapa harus kata itu yang keluar pertama? Kedua, mau makan sedikit atau makan banyak, toh saya gendut-gendut juga. Toh tiap pertemuan saya selalu dikatai saya gendutan. Dan mungkin kalau saya bertemu orang ke-10, maka saya benar-benar sudah obesitas!!

Karena kesal dan saya tipe orang yang semakin dilarang maka akan semakin disengajakan, jadi saya biarkan saja diri saya makan banyak. As you wish lho, saudara-saudara ...

Oh, dunia memang tidak baik buat orang gendut. Mereka adalah objek tertawaan, bukan subjek yang diajak tertawa bersama. Gendut sehat itu alibi buat mereka yang gendut. Justifikasi. Pembenaran. Nyatanya saya sama saja seperti perempuan kebanyakan; pingin kurus.

Udah deh. Mati aja.

Comments

Neni said…
waduh eta ending nya... Nojos! :)
ini cewek ini fotonya serem banget, kurus saking kurusnya kayak tengkorak berkulit...
Ayo Nia, semangat... mau diet mau ngehajakeun makan banyak... pokoknya semangat weh! :D
Nia Janiar said…
Iya Neniii.. makasih ya buat dukungannya. #lho.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…