29 September 2011

Terinspirasi dari Reza--salah satu teman ngaleut saya--mengenai twitnya yang berkisah tentang orang tua yang mengarahkan masa depan anak namun berlawanan arah dengan passion anak. Tampak seperti permasalahan keseharian semua orang.

Saya juga dulu begitu, kok. Saya harus masuk IPA agar rentang pilihan jurusan saat kuliah bisa luas, harus masuk universitas yang berdiri di Jalan Ganesha, harus meneruskan skill piano saya padahal saya tidak suka, harus bergerak dibidang psikologi anak karena banyak anak yang error. Tapi saya tidak suka kesemuanya. Saya hobi main piano bukan sebagai profesi, saya cinta psikologi tapi bukan dibidang psikologi anak.

Sampai saya lulus kuliah, saya memutuskan mau menolak segala arahan. Maka saya bekerja sebagai pengajar ABK (yang belakangan diketahui  ini bukan passion saya) lalu ditengah segala kestabilan dan kenyamanan, saya memutuskan untuk keluar dan mengejar passion saya yaitu menulis.

Tentu ya tentu, keluarga saya sulit menerima keputusan tersebut pada awalnya. Namun setelah dijelaskan tentang passion saya, diperlihatkan langkah-langkahnya seperti apa, dan juga ditunjukkan hasilnya, mereka mengerti. Justru kalau ada yang tanya saya ini kegiatannya apa, mereka menjawab saya ini seorang penulis.

Saya pikir justru wajar jika orang tua banyak mengarahkan kalau kita sendiri terlihat gamang dan tidak yakin dengan keputusan kita. Jadinya, kita memang perlu diarahkan ke hal yang terbaik. Namun selain keinginan, harus juga diketahui cara-caranya dan menuju sana.

Orang tua bukan kardus. Selain itu juga ada yang namanya komunikasi. Utarakan, lakukan, dan perjuangkan.

5 comments

Aku bersyukur ortuku memberiku kebebasan untuk memilih apa yang kusukai, mereka hanya memberikan arahan dan masukan, selain itu mereka tak melarang mengembangkan hobbyku menulis dan dunia seni lainnya, kayaknya apa yg dilakukan orang tuaku akan kulakukan juga pada anak-anakku.

REPLY

ahaha, iya.. orang tua bukan kardus ^^;

REPLY

@ladyonthemirror: Wah, enak tuh. Tapi saya juga bersyukur nih sempat diarahkan. Mungkin kalau dulu jalannya beda, sekarang pun pasti berbeda. :D

@Budi: Hehe :D

REPLY

Repot, karena kita semua tinggal di dalam kardus X))

REPLY

Waaahh.. jangan sampai deh. Sekali-kali perlu out of the box.

REPLY

Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti. 2017 Copyright. All rights reserved.

Dilarang menyalin dan menggunakan konten website ini tanpa seizin penulis.

Designed by Blogger