Skip to main content

Sejarah Stasiun Kereta Api Bandung

Foto oleh Yandi Dephol

Coba kalau kamu pergi ke stasiun kereta lalu menemukan angka di bawah ini, kira-kira itu menandakan apa ya?


Itu tandanya stasiun ini berada 709 meter di atas permukaan laut. Saya baru tahu dan baru memperhatikan. Untung ikut Aleut!

Minggu (25/08) rute Aleut adalah menyusuri sejarah rel kereta api stasiun Bandung. Kami tidak menyusuri secara harfiah jalur rel kereta api tapi kami masuk ke stasiun lewat pintu baru, lihat-lihat dan diberi penjelasan sebentar, lalu keluar lewat pintu lama. Saat berada di depan pintu lama, terdapat sebuah replika kereta bernama Monumen Purwa Aswa Purba yang dijadikan tempat bagi Indra Pratama dan M. Ryzki bercerita bahwa jalur kereta yang pertama kali masuk ke Bandung berasal dari jalur Cianjur pada tahun 1884. Awalnya pintu depan stasiun kereta ini letaknya di sekitar Jalan Setasiun Barat terus diperbesar dari tahun 1916 karena posisi Bandung yang semakin sentral dan signifikan.

Sebelumnya Belanda mencari jalan yang cocok di Hindia Belanda karena jalan Raya Pos dinilai masih sulit untuk mengangkut hasil perkebunan. Ide pembangunan jalur kereta ini sebenarnya muncul dari jendral militer yang bertujuan untuk pertahanan militer. Karena pada saat itu pemerintah tidak punya uang, mereka mulai mengadakan setidaknya 20 tender untuk swasta. Yang pertama kali dibangun Semarang-Jogja atau Semarang-Solo (M. Ryzki lupa antara yang mana) karena itu jalur yang paling ramai. Jalur Priangan itu dibangun paling terakhir karena medan paling susah (banyak sungai dan lembah) dan memakan biaya paling mahal. Namun pembangunan jalur Priangan ini tidak dibangun oleh swasta.

Pembangunan stasiun kereta ini tentunya berdampak ke lingkungan yang ada di sekitarnya, yaitu angkutan seperti sado (delman), pembangunan hotel-hotel--salah satunya hotel paling tua yaitu Hotel Andreas, dan juga tempat prostitusi di Kebon Jati (Saritem). Dulu prostitusi terjadi karena tidak ada kereta malam sehingga orang harus menginap di Bandung agar bisa berangkat keesokan harinya. Jadi karena mungkin istri atau kekasih jauh sementara udara Bandung yang dingin, jadi disediakan jasa penghangat ini.

Bagi saya, yang menarik adalah penamaan nama jalan dengan menggunakan istilah 'stasiun' yang berbeda-beda. Bimbang? Mudah-mudahan tidak.



Selain membicarakan tentang jalur kereta, kami juga sempat mengunjungi replika lokomotif di Viaduct dan Gedung Indonesia Menggugat. Setelahnya kami diberi kejutan dengan masuk ke dalam sebuah toko lukisan di Jalan Braga yang didalamnya terdapat sebuah ruang bawah tanah. Toko lukisan ini dulunya adalah toko jam. Lalu mengapa toko jam memerlukan sebuah ruang bawah tanah?--pertanyaan yang dilontarkan Bang Ridwan itu menggelitik Aleutians untuk mencari tahu lagi apa fungsi ruang yang gelap gulita dan tak luput dari cerita horornya.

Ruang itu memiliki lorong yang berujung ke sebuah lapangan kecil yang terdapat puluhan orang yang sedang menyanyi sambil menari. Kata Aneng, salah satu Aleutian yang sepertinya sempat mengobrol dengan salah satu orang di sana, mereka ini adalah grup pencak silat dari Cililin yang sedang beristirahat. Pasti tidak semua orang tahu tentang keberadaan ruang, lorong, dan lapangan ini.


Pasti juga orang tidak menyadari ada hiruk pikuk kecil dibalik hingar bingar Braga festival yang bertepatan dengan ngaleut kala itu atau hiruk pikuk deru laju kereta di atas besi-besi tua.

Comments

Anonymous said…
tetehh, mau nambahin. Gedung indonesia Menggugat mungkin ya itu maksutnya? :D
Nia Janiar said…
Ya elaaah, salah dong doonnng. Makasih yaaa udah dibenerin. Haha. Ini salah ketik lho, suer! :D
Anonymous said…
bagusss tuliasannya nia, suka ini
Nia Janiar said…
Makasih yaa, anonimus 2.. kasih nama donngg..
Budi Krisnadi said…
Ga pernah bosen baca blog ini... tulisannya selalu menarik

sy juga br tau artinya angka +709, hehe..
Nia Janiar said…
Makasih ya, Budi.

Iya nih, saya dapet pengetahuan baru. Hehe.
Anonymous said…
yaelah....apalah gunanya punya temen anak pensiunan kereta api??

-nunjuk diri sendiri- :P

-bolehliat-
Nia Janiar said…
Jadi, apa tuh gunanya? *balik nanya* Hahahaha..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…