Posts

Showing posts from December, 2011

Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Kuantar ke Gerbang*

Image
Kisah yang akan saya ceritakan kali ini mengenai seorang perempuan bernama Inggit Garnasih. Saya mendapat informasi tentangnya bukan dari buku pelajaran atau buku paket, melainkan dari mulut ke mulut, melalui sebuah pertunjukkan di bawah lampu nan redup. Sebegitu tidak diketahuinya padahal perempuan yang menjual bedak dan jamu ini memiliki jasa yang besar terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu. 10 kilometer pernah Inggit lalui dengan jalan kaki untuk menemui Soekarno--presiden pertama Indonesia yang menjadi suaminya kala itu--dari tempat tinggalnya ke penjara Sukamiskin. Ia rela kehujanan dan kelelahan demi menghemat uang untuk suaminya yang membutuhkan. Namun ia tidak pernah menceritakan hal ini terhadap suaminya karena merasa Engkus (panggilan sayang Inggit terhadap Soekarno) sudah terlalu banyak pikiran dalam menentang kolonialisme dan tidak perlu ditambahi hal yang remeh temeh. Berawal dari kerelaan suami Inggit sebelum Engkus, yaitu H. Sanusi (pengurus Sarikat Islam), untuk

Radio Malabar, Riwayatmu Kini

Image
Tulisan oleh Nia Janiar Foto oleh Yandi Dephol Saya kira tumpukan bebatuan secara teratur yang ada di Gunung Puntang itu situs pemujaan. Ternyata bukan. Itu adalah puing bangunan kompleks stasiun radio pertama Hindia Belanda tahun 1923 yang dihancurkan. Aleut! Malabar menjadi tema ngaleut kali ini (18/12).  Sudah saya duga bahwa ini bukan ngaleut Jalan Malabar, melainkan ke kawasan Pegunungan Malabar. Apalagi ada permintaan pakai baju yang nyaman segala. Karena punya masalah dengan pengalaman naik gunung, maka buru-buru saya melakukan riset dengan membaca catatan perjalanan Komunitas Aleut! dan sedikit wawancara sebelum memutuskan pergi. Tapi nyatanya pergi juga. Penasaran juga. Dan enggan menyesal di kemudian hari juga. Angkutan dan elf (kendaraan peri dengan kecepatan tinggi serta resiko akibat salip menyalip yang juga tinggi, penj.) adalah alat transportasi kami menuju Gunung Puntang—yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar—tempat stasiun beserta pemancar radio itu b

I Miss You, Teteh ...

Image
Tahun demi tahun sudah berganti dan saya tetap menyimpan ini sendiri (saelah). Betapa saya rindu sama kedua teteh saya yang sudah pada menikah, punya anak, dan tinggal jauh dari rumah. Yang satu tinggal di luar kota, yang satu lagi sibuk mengurus suaminya ... *nyengir* Baiklah. Teteh - anaknya - teteh - saya Hari ini saya dikecewaken lagi. Katanya teteh mau datang ke rumah, tapi tidak. Ia memang tidak menjanjikan, tapi harapan kepalang melambung tinggi saat teteh sms, "Nia, besok ada di rumah?" Dan saya kecewa pas saya bilang apa boleh saya mengajaknya main ke mall dan teteh bilang tidak bisa janji karena suaminya over protective  sekali. Emangnya aku mau ngapain tetehku? Dulu, meski kami hanya saudara sepupu, kita pernah tinggal bersama di rumah ini. Yang satu asalnya dari Bogor, yang satu dari Surabaya. Mereka sekolah di Bandung dan tinggal bersama. Kita suka hangout bareng, jalan-jalan, ngegosip, masker-maskeran, dan hal lazim yang dilakukan antar saudara perem

Road Trip Jawa

Image
Atas dasar tugas negara mengirimkan upeti ke puteri di Kerjaan Cepu (baca: lamaran), saya dan saudara melakukan road trip dari Bandung hingga ke Cepu yang memakan waktu hingga 17 jam. Tidak akan saya ceritakan bagaimana perjalanannya, namun saya akan mengunggah beberapa foto sebagai bentuk cenderamata saya untuk pembaca. Mudah-mudahan suka. The Railroad Sky Express (2011) at Cepu Solemn (2011) at Rest Area Toll Mertapada The Grand Mosque of Demak (2011) Sumedang tofu. Public transportation in Brebes. The view in Pantura The proposal Mertapada is the most expensive toll road in Indonesia.

Tempat Sampah yang Baik

Akhir-akhir ini saya memikirkan tentang hubungan saya dengan teman yang sedang lupa berteman dengan saya di saat dia senang. Saya mengenang betapa kita sering berkomunikasi saat dia dalam kondisi down setelah putus, menggalau bersama, move on , hingga dapat penggantinya lagi. Lalu begitu dia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia lupa. Kami jadi berbicara seperlunya saja. Bukan hanya dia, tapi beberapa orang pun pernah begini. Saat jatuh, mereka baru datang. Tapi saat terbang, mereka mendamba hal-hal yang lebih tinggi. Lalu saya berpikir, "Kamu tuh gak inget sama orang yang ada saat kamu down ? Yang bahkan orang yang kamu idamkan itu gak ada dan bahkan gak tahu kalau kamu lagi down ?" Diam-diam saya mulai menghitung untung rugi, SWOT-nya kalau bisa. Kalau Sapta (teman di klab nulis) bilang, saya ini terlalu terkonsep. Terlalu rigid terhadap peraturan pertemanan yang menurut saya idealnya harus begini atau begitu. Terlalu kaku bahwa orang dewasa harusnya begini dan begitu.

Sophisticated

Image
Dua puluh lima tempat yang harus diliput kemarin akhirnya selesai. Dari Bandung Utara hingga Bandung Selatan sudah dijelajah dalam 5 hari yang padat (dan ekstra 2 hari untuk beberapa tempat yang minta di luar jadwal). Di salah satu harinya, saya ditemani oleh Andika Budiman yang sudah mau mengantar ke Gunung Tangkuban Perahu dari pagi hingga sore. Padahal naik gunung bukan masalah perjalanan menuju ke sana dengan mengunakan kendaraan, tetapi juga masalah keliling jalan kaki untuk mendapatkan spot tertentu yang jaraknya tidak sedikit. Lagipula tidak hanya menemani ke gunung saja, tapi ke daerah yang jauh seperti Vihara Vipassana atau Gua Maria Karmel pun ia jabani. Salut untuk Andika! Andika yang berbalur belerang Kawah Domas saat menemani liputan kemarin. Untuk pembaca setia blog, pasti kamu sudah kenal Andika, tapi belum pernah kenal Sophie. Maka, di hari yang berbahagia ini (karena ini awal bulan dan sudah waktunya gajian itu pasti membahagiakan), saya akan bercerita tentang So