Posts

Showing posts from January, 2012

Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Jumat Kala Itu

Image
Jumat kala itu sangat berkesan buat saya. Saya, Andika, Neni (dan teman-temannya) nonton teater boneka bertajuk Spleen: Puisi dalam Prosa. Apa spleen itu? Arti harfiah dalam bahasa Inggris adalah limpa. Berdasarkan katalognya, dituliskan bahwa dunia intelektual Inggris abad ke-18, sikap melankolis terhadap dunia dinamakan spleen . Kemudian di abad 19, perempuan yg sedang tidak enak hati dikatakan terserang spleen . Dalam bahasa Perancis, spleen menggambarkan hati yang merenung-sedih atau melankolis. Lalu Spleen yang kemarin diadakan adalah kaleidoskop gambar, lagu, dan miniatur yg terinspirasi dari puisi karya Charles Baudelaire (1821-1867). Dalam teater ini mencoba menggambarkan manusia modern yang rindu akan hidup dan kematian, melakukan pencarian akan keabadian dan kesia-siaan brutal. Dipentaskan oleh Wilde dan Vogel, teater keliling profesional yang berdiri dari tahun 1997 ini menghadirkan pertunjukkan yang magis sekaligus aneh. Walaunpun saya tidak mengerti dengan puisi ber

Misjudged: Fashion Interest

Image
Secara diam-diam, atau mungkin memang tidak diperbincangkan atau tidak ditunjukkan, saya senang melihat fashion. Selain melihat di website, saya juga sering melihat peragaan busana di YouTube terutama adi busana ( haute couture ). Salah satu perancang kesukaan saya adalah John Galliano. Selain itu, saya juga suka sama Alexander McQueen. Selain keindahan dan keanehan, saya suka dengan pria yang berpakaian rapi. Di website yang saya ikuti secara reguler,  http://www.thesartorialist.com/ , ditampilkan foto perempuan dan laki-laki yang berpakaian dengan jangkauan yang lebih luas. Di bawah ini saya akan menampilkan beberapa foto yang paling saya suka. Semua foto milik The Sartorialist. Pendiri, blogger, serta fotografer The Sartorialist:   Scott Schuman. Very well-dressed. Love it. Saya agak kurang ngerti nama-nama pakaiannya. Tapi gaya semi resmi juga cukup mengagumkan. Walk like a boss. Saya juga suka sarung tangannya dan long coat -nya. Very sophisticated ! Suka

Residu

Setiap orang pasti memiliki sisa-sisa urusan di hidupnya yang tidak terselesaikan. Anggap itu namanya residu karena bentuk urusannya mengendap dalam berbagai bentuk: tetap sebagai urusan atau kepribadian. Lalu kemudian karena tidak terselesaikan, residu tersebut diturunkan kepada anak cucunya. Dibebankan. Diminta agar dibersihkan atau diselesaikan. Belum lagi ia sendiri punya residu pribadi. Jadi ampas-ampas tersebut semakin lama semakin membesar dan memberatkan saja. Anak yang dilahirkan tidak meminta beban tersebut, ia diberi secara cuma-cuma. Ia harus membersihkan ampas orang tuanya. Kalau tidak sanggup, maka ia turunkan lagi ke keturunannya. Begitu terus. Residu, berputar terus sehingga ia tidak hanya ampas, melainkan sampah itu sendiri.

Dieng: Kediaman Para Dewa

Image
Dulu hati pernah bercita-cita ingin pergi ke Dieng. Tapi sempat belok dulu ke selatan (Pangandaran). Rupanya Tuhan memberikan rezeki dan kesempatan. Maka bersama ke-5 orang teman, saya berangkat ke Dieng. Jeng jenngg!! Perkenalkan, tim kami berbeda (lagi). Ada saya, Neni, Eka, Agus, Sis, Wahyu, juga saudaranya Sis yang berperan sebagai supir bernama Pak Asep. Sis, Wahyu, dan Asep ini berdomisili di Bogor dan Jakarta sehingga dalam perjalanan ditemukan logat-logat Betawi yang kadang nyablak tapi kadang lucu. Mereka ditemukan oleh Eka saat ia  travelling  ke Ujung Kulon. Tiga serangkai itu berangkat dari Jakarta pukul 11 siang dan bertemu dengan kami di Pusdai pukul 15.00, namun keberangkatan harus molor karena Agus datang terlambat dengan alasan di rumah tidak ada orang. Kalau Agus orang bukan? Jadilah kami berangkat dari Bandung pukul empat sore. Konon perjalanan ke Dieng itu 10 jam dengan menggunakan bis umum ke Wonosobo. Navigator kami, Sis, mencoba mencari jalan alternatif yang

Transasi Zona Tidak Nyaman

Image
Di awal tahun 2012 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengecap pengalaman baru oleh kantor. Kantor meminta saya kerja di Jakarta selama 2 minggu dengan tanggungan biaya inap di kosan. Kantor juga mencarikan kosan untuk saya. Tawaran itu dikirim lewat email oleh Pak J. Beliau meminta kalau hari Senin pertama di tahun 2012, saya sudah ada di Jakarta. Menarik juga karena sebelumnya saya berlibur ke Dieng untuk merayakan tahun baru bersama-sama (jurnal akan saya unggah) dan berencana pulang Senin pagi. Jadi, 2 Januari lalu, saya hanya menghabiskan beberapa jam di Bandung lalu langsung cabut ke Jakarta. Saya merasa excited karena seumur hidup saya belum pernah merasakan ngekos, tinggal jauh dari ibu, mengurus makan serta cucian, dan lainnya. Maklum, selama ini saya dimanjakan oleh pembantu dan segala fasilitas yang sudah tersedia. Dan dukungan ibu saya serta keluarga bikin langkah saya ringan merantau dua minggu di Jakarta. Kali itu adalah pertama kalinya saya bertemu orang