Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Cupcake di 90Gourmet

Cupcake di 90Gourmet

Okay, jadi ini kisah agak kampring punya. Tadi, untuk kali pertama, saya ke 90Gourmet yang ada di Jl. R. E. Martadinata padahal restoran ini deket banget dari rumah. Alasan penundaan itu terjadi karena dua alasan. Pertama, 90Gourmet terlihat besar dan mewah dari luar sehingga diasumsikan harganya pasti mahal. Kedua, ada asalan yang tidak bisa dijelaskan seperti semakin dekat sebuah tempat menarik dari tempat tinggal, konon kecenderungan untuk datang semakin kecil.

Sebelum pergi ke sana, saya melakukan aksi jelajah internet. Memang harga makanannya bervariasi. Selain makanan barat seperti pizza (juga ada alcoholic beverages), di sini juga ada makanan Jepang seperti sushi. Namun sungguhlah saya tidak membeli semua itu karena alasan ketiga saya datang ke sana adalah ingin mencoba red velvet yang disarankan teman. Penyaranan ini datang ketika saya sibuk bertanya tentang tempat beli cupcake yang enak.

Saat saya datang, saya disambut dengan ramah dengan pegawainya. Dari pintu masuk pun sudah terlihat sebuah tempat kecil beserta meja dan kursi sebagai cafe kecil menjual cupcake di sebelah kanan. Saya bertanya apa cupcake yang paling direkomendasikan dan pegawainya bilang red velvet. Aha! Gayung bersambit! Maka bersegeralah saya membelinya setelah melihat koleksi-koleksi lain yang membikin tergiur.

Sebelumnya saya sudah coba merek lain (ada di tulisan sebelumnya), tapi icing red velvet ini enak sekali. Bukan mentega yang tidak ada rasa, tapi seperti isi kue soes (fla). Topping-nya memang tidak segila topping yang saya tabur di cupcake sebelumnya dan vanilanya juga tidak terlalu terasa, tapi tetap enak dan adonannya terasa penuh. Dan tentunya membuat saya penasaran dengan varian rasa lainnya sambil minum, duduk-duduk, mengobrol bersama teman, dan memandangi langit sore kota Bandung.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba