Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Pewarasan Standar Sinetron dan Lagu Murung

Saat menonton televisi dari pukul 6 sore hingga tengah malam, pasti akan ditemukan acara rutin yang diselenggarakan stasiun televisi yaitu sinetron yang ditayangkan hingga ratusan episode. Dari beragam sinetron yang ditayangkan, rata-rata memiliki kesamaan tema yaitu cinta, plot berkisar tentang dua orang yang tidak bersatu namun cerita akan berakhir manis, karakter selalu ada antagonis yang menghalalkan segala cara dan protagonis yang selalu menangis, twist cerita bahwa ada dua anak yang tertukar atau hilang ingatan, dan setting berkisar rumah atau kantor.

Saat mendengar radio juga akan ditemukan lagu-lagu yang berpusat pada tema yang sama, mengenai sebuah perasaan cinta yang hanya dibedakan berdasarkan variasinya: cinta segitiga, bertepuk sebelah tangan, ditinggalkan, dan lainnya. Lagu diiringi dengan musik melankolis, mendayu-dayu, serta nada yang melintat melintut ala dangdut.

Lalu orang-orang (termasuk saya) akan mengeluh betapa buruknya produk media (terutama elektronik), tidak mendidik, dan mencoba mengkritisi bahwa ada kekurangan di sini dan di situ. Mencoba menganalisis "apakah media yang membentuk selera masyarakat atau media yang mengakomodasi selera masyarakat?" Biasanya hasil analisa berupa daftar kekurangan dari produk-produk tersebut.

Namun standar apa yang menjadi pegangan untuk orang-orang yang berpendapat? Apakah mereka mengkritisi sinetron di Indonesia ini dengan standar sinetron luar negeri dengan dialog yang cerdas? Apakah mereka mengkritisi musik pop dengan standar musik jazz atau klasik? Bukankah memakai standar yang berbeda pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang negatif saja? Karena jelas, tanpa dikritisi pun, sudah terlihat bocelnya produk-produk di atas secara kasat mata.

Contohnya begini: Jika mau menetapkan target belajar seorang anak yang berkebutuhan khusus (disleksia) dengan menggunakan standar anak normal karena nanti akan keblinger. Bagaimana tidak, anak yang kesulitan mengenal huruf dan membaca karena pengaruh neurotransmitter itu dipaksa untuk bisa baca dan paham layaknya anak normal. Aktivitas otaknya saja berbeda! Atau ketika anak autis yang dipaksa bisa berinteraksi dengan lingkungannya. Namanya juga autis, dia pasti memiliki gangguan komunikasi dan interaksi.

Pun dengan lagu murung atau sinetron yang tidak masuk akal. Kalau melihatnya dari standar yang tinggi, siapa yang tidak waras? Jelas yang mencoba menganalisis hal tersebut. Kalau sudah tidak termasuk target market mereka, ya sudah. Kalau tahu tujuan mereka hanya menghibur (tanpa perlu proses berpikir), ya tidak perlu dikritisi tentang perkembangan karakter atau plot yang tidak masuk akal. Jika sudah tahu berbeda, mengapa masih dibandingkan juga? Bandingkan sesuai dengan standarnya. Jika mau mengkritisi sinetron A, bandingkan dengan lini sinetron lainnya. Jika mau mengkritis genre drama, bandingkan dengan genre yang sama.

Atau kalau mau pakai kacamata kuda: tidak usah menonton atau mendengarkan.

Comments

  1. Gue setuju, Ni.

    Kita nggak bisa ngelarang Chiki-chikian gopek dijual di warung. Tapi kita bisa nentuin seberapa banyak jajan gituan dan seberapa banyak makan yang sehat ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba