Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Hingar Bingar Film Bisu

Saat mendengar akan ada sebuah band rock asal Prancis yang mengiringi film bisu secara langsung di Institut Fran├žais Indonesia (IFI), saya teringat dengan sejarah film di Bandung saat zaman Hindia Belanda. Pada saat itu, di Majestic, pernah ditampilkan film hitam putih dengan iringan kelompok musik secara langsung karena teknologi belum tersedia. Nada musik yang diberikan itu sama dengan suasana yang dipertontonkan film. Saya merasa konsep itu dibawa lagi ke zaman sekarang sehingga saya bisa merasakan sensasi yang sama dengan orang-orang yang nonton di Majestic saat itu.

Filmnya berjudul Nosferatu (1922) yang merupakan film horor masterpiece karya Friedrich W. Murnau. Filmnya bercerita tentang seorang perempuan bernama Nina yang mati digigit vampire sebagai bentuk pengorbanan agar si vampire mati. Walaupun tidak ada efek berlebihan, permainan bayangan di film ini benar-benar menyeramkan. Misalnya saat si vampire akan datang, diperlihatkan bayangan vampire perlahan-lahan muncul. Berawal dari kukunya yang panjang, kepalanya yang botak, jubahnya, dan seterusnya.

Selama film ditayangkan, Serge Teyssot-Gay dan Cyril Bilbeaud, memainkan ilustrasi musik dengan segala improvisasi. Musiknya intens, dimainkan dari awal hingga akhir, namun nadanya bervariasi--dari lembut hingga keras. Saat di klimaks cerita yaitu ketika Nina digigit oleh vampire-nya, musik rock yang dimainkan Zone Libre ini semakin klimaks pula. Gebukkan drumnya semakin keras membuat degup jantung terasa lebih cepat. Belum lagi gesekan gitarnya membikin dramatis suasana.

Wah, mana pernah saya nonton film di bioskop lalu musiknya memenuhi rongga dada kemudian gambaran visual tanpa komputer itu membuat sebegini menyeramkan. Justru kesederhanaan hitam putihnya membikin lebih fokus ke ceritanya, kebisuannya membikin lebih fokus ke gerak geriknya. Walaupun tetap diiringi suara musik dan terjadi pembagian fokus antara melihat filmnya atau musisinya. Bisu tetapi hingar bingar.

Secara umum, ini adalah pengalaman baru saya. Saya beruntung bisa mendapatkannya. Bagi yang tidak lihat, untuk melihat foto-fotonya, bisa dilihat di Flickr saya. Atau bisa lihat potongan acaranya di sini:

Comments

  1. Keren! Kelihatannya mengerikan! Jadi penasaran Nosferatu teh kayak gimana. Tapi pasti beda kalo nontonnya nggak diikuti live music. Kebawa mimpi, nggak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba