Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Hingar Bingar Film Bisu

Saat mendengar akan ada sebuah band rock asal Prancis yang mengiringi film bisu secara langsung di Institut Fran├žais Indonesia (IFI), saya teringat dengan sejarah film di Bandung saat zaman Hindia Belanda. Pada saat itu, di Majestic, pernah ditampilkan film hitam putih dengan iringan kelompok musik secara langsung karena teknologi belum tersedia. Nada musik yang diberikan itu sama dengan suasana yang dipertontonkan film. Saya merasa konsep itu dibawa lagi ke zaman sekarang sehingga saya bisa merasakan sensasi yang sama dengan orang-orang yang nonton di Majestic saat itu.

Filmnya berjudul Nosferatu (1922) yang merupakan film horor masterpiece karya Friedrich W. Murnau. Filmnya bercerita tentang seorang perempuan bernama Nina yang mati digigit vampire sebagai bentuk pengorbanan agar si vampire mati. Walaupun tidak ada efek berlebihan, permainan bayangan di film ini benar-benar menyeramkan. Misalnya saat si vampire akan datang, diperlihatkan bayangan vampire perlahan-lahan muncul. Berawal dari kukunya yang panjang, kepalanya yang botak, jubahnya, dan seterusnya.

Selama film ditayangkan, Serge Teyssot-Gay dan Cyril Bilbeaud, memainkan ilustrasi musik dengan segala improvisasi. Musiknya intens, dimainkan dari awal hingga akhir, namun nadanya bervariasi--dari lembut hingga keras. Saat di klimaks cerita yaitu ketika Nina digigit oleh vampire-nya, musik rock yang dimainkan Zone Libre ini semakin klimaks pula. Gebukkan drumnya semakin keras membuat degup jantung terasa lebih cepat. Belum lagi gesekan gitarnya membikin dramatis suasana.

Wah, mana pernah saya nonton film di bioskop lalu musiknya memenuhi rongga dada kemudian gambaran visual tanpa komputer itu membuat sebegini menyeramkan. Justru kesederhanaan hitam putihnya membikin lebih fokus ke ceritanya, kebisuannya membikin lebih fokus ke gerak geriknya. Walaupun tetap diiringi suara musik dan terjadi pembagian fokus antara melihat filmnya atau musisinya. Bisu tetapi hingar bingar.

Secara umum, ini adalah pengalaman baru saya. Saya beruntung bisa mendapatkannya. Bagi yang tidak lihat, untuk melihat foto-fotonya, bisa dilihat di Flickr saya. Atau bisa lihat potongan acaranya di sini:

Comments

  1. Keren! Kelihatannya mengerikan! Jadi penasaran Nosferatu teh kayak gimana. Tapi pasti beda kalo nontonnya nggak diikuti live music. Kebawa mimpi, nggak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba