Posts

Showing posts from July, 2012

Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Cantik itu Luka

Image
Berpasanganlah dengan orang yang buruk rupa. Mungkin itu salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Eka Kurniawan dalam bukunya Cantik itu Luka. Dibuka dengan penjabaran tokoh bernama Dewi Ayu yang memukau dan jelas membikin pembaca penasaran dengan kelanjutannya ceritanya, buku ini berkisah perempuan di masa sebelum kemerdekaan. Dewi Ayu, seorang indo yang dilahirkan dari rahim seorang gundik, harus mengalami kisah pahit yaitu dia dijadikan pelacur saat penjajahan Jepang. Namun Dewi Ayu bukanlah tipe pelacur yang menye-menye dan serba gelisah dengan statusnya sebagai pelacur. Sarkasme dan keberaniannya yang bisa terlihat saat ia berinteraksi dengan tokoh lain justru membuat Dewi Ayu memiliki karakter yang menarik. Karena kecantikannya yang luar biasa, ia menjadi pelacur terkenal dan paling diinginkan oleh semua pria. Dia bukan pelacur yang bisa ditiduri seenaknya karena semua orang harus masuk ke daftar antri. Dari pelacurannya itu, ia menghasilkan tiga orang anak yang diberi

#3: Ngarai di Jakarta

Image
Sudah saya sangka negeri dongeng ini memiliki jurang yang dalam dan luas. Saya sudah mempersiapkan mental untuk melihatnya, namun saat betul-betul di depan mata, sungguh membikin kegalauan luar biasa. Pada hari Minggu sore, saya dan Niken, janjian untuk melakukan pinik bersama. Aksi ini sudah rutin dilaksanakan Niken dan kawan-kawan untuk berpiknik di taman-taman yang ada di Jakarta. Ia menawarkan untuk janjian di Halte Tosari. Karena sebelumnya saya memiliki agenda berburu foto di Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral, saya bilang ke teman saya bahwa kita ketemuan langsung di taman saja. Berbekal petunjuk dari Niken, saya sampai dengan selamat di Taman Suropati yang letaknya tidak jauh dari Bunderan HI, tepatnya di Jl. Imam Bonjol, Jakarta. Proses pembuatan patung perunggu ini menghabiskan waktu sekitar satu tahun Dari Halte Tosari, saya naik bus 213 ke arah Priok sambil meyakinkan kenek kalau ini betul melewati taman yang menjadi destinasi kami. Setelah kenek bilang, "Tam

Eliminasi

Ketika ada kekesalan laten dan tidak ada keinginan untuk memperbaiki serta malas konfrontasi karena sudah bisa diprediksi reaksinya yang mungkin tidak akan membawa kemana-mana, maka seseorang memilih mengeliminasi. Ia memutuskan untuk putus hubungan, langsung meninggalkan, menanggapi dingin atau bahkan sama sekali tidak ada tanggapan. Perilaku ekstrimnya itu tanpa disertai alasan ke temannya sehingga sang teman merasa sedih, merasa berbuat salah tanpa tahu apa, dan merasa ada urusan yang belum selesai. Temannya menghabiskan sebagian waktunya dengan bertanya-tanya. Saya adalah si seseorang tadi. Tapi saya juga adalah sang teman yang dieliminasi. Alasan mengeliminasi bisa jadi karena orang ini kebanyakan negatifnya ketimbang positifnya, memiliki sikap yang tidak baik, pemikiran yang tidak cocok, dan setelah diutarakan keberatan kita (bukan dalam tujuan mengubah, tetapi mencari jalan tengah bersama) sikapnya itu terus berulang, atau membuat kesalahan yang membikin sakit hati betul; bi

#2: Eksistensi Monyet

Ceritanya si Monyet sudah mengalami kemajuan, salah satunya adalah keberadaan Aqua galon di kamarnya. Walau tidak punya dispenser (dan tidak berencana), teko, atau bahkan gelas, ia beli air minum galonan karena diharapkan lebih menghemat serta mengurangi konsumsi botol plastik. Sebenarnya sudah dari dulu ingin membeli galonan, tapi pikiran hanya tiga bulan di Jakarta menjadi bahan pertimbangan termasuk dalam membeli segala fasilitas. Selama ini ia pakai barang-barang temporer, misalnya menggunakan plastik-plastik yang sekali buang atau menggunakan barang pinjaman (yang sudah tersedia di kostan--entah termasuk fasilitas atau monyet asal comot saja). Namun pada akhirnya ia beli juga si air galon ini. Dia pikir: ia memutuskan untuk tinggal. Tadi pagi ia memecahkan gelas milik kostan karena tidak sengaja ketendang saat membuka tirai jendela. Gelas kaca yang memang kelihatannya tipis itu menyisakan ceruk-ceruk tajam yang cocok dihunus ke nadi. Cocok buat orang depresi. Beberapa hari yang